Fitnah Kristen : Islam Berasal dari Ajaran Sekte Kristen




PENDAHULUAN. 

Pandangan orang Kristen tentang Islam selalu saja ada pandangan miring dan bahkan fitnahan yang dilontarkan, misalnya, adanya tudingan bahwa Islam berasal dari sekte Kristen Nestorian, atau adanya anggapan bahwa ajaran Islam memiliki kemiripan atau menyerupai dengan ajarannya Gnostik dan juga sekte Doketisme. Fitnahan Kristen terhadap Islam tersebut tentu saja tidak benar, karena jika Islam berasal dari sekte Kristen, sebagaimana tudingannya mereka, tentunya mereka harus mampu menyertakan berbagai bukti otentik yang bisa menguatkan tudingan mereka tersebut, bukan hanya sekedar menduga-duga saja atau menggunakan prasangka dengan cara mencocok-cocokkan ajaran Islam dengan sekte Kristen.

 MENGULAS AJARAN POKOK SEKTE KRISTEN. Di dunia maya, terdapat oknum Kristen telah yang melontarkan fitnahnya terhadap Islam, di mana dalam fitnahannya tersebut dinyatakan bahwa Islam bagian dari sekte Kristen. Selain Islam di tuding sebagai bagian dari Kristen Nestorian, di ranah akademik pun ajaran Islam dianggap menyerupai dengan sekte Kristen, Van Niftrik dan Boland, misalnya, menyatakan tentang Islam sebagai berikut: “Ajaran Islam tentang Nabi Isa menyerupai ajaran-ajaran sekte-sekte Gnostik dan Doketisme tentang Tuhan Yesus…” (G.C. van Niftrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, hal. 263). Adanya berbagai fitnahan tersebut, bukan saja yang pertama kali terjadi terhadap Islam, bahkan jauh sebelum fitnahan tersebut dilontarkan, orang-orang Kristen sebelumnya telah melakukan fitnahan kepada Islam. Yahya ad-Dimasyqi alias Johannes Damascenus (655-670 M), misalnya, ia telah menulis Peri Haireseon, dan menuduh bahwa Islam itu sesat dan menyeleweng karena telah mengajarkan fatalisme dan bermacam-macam tuduhan lainnya. Kemudian Petrus Venerabilis (w. 1156), Ricoldus de Monte Croce (w. 1320), Nicolaus Cusanus (w. 1464) dan Marthin Luther (w. 1546) yang masing-masing dari mereka telah membangun citra negatif terhadap Islam dan juga kepada Nabi Muhammad (Qosim Nurseha Dzulhadi, Teologi Islam VS Kristen: Sanggahan Terhadap Buku Menuju Dialog Islam dan Kristen, hal. X).

 Berkenaan dengan adanya fitnah yang dilancarkan oleh Kristen terhadap Islam bahwa Islam berasal dari ajaran sekte Kristen atau menyerupai ajaran dari sekte Kristen, alangkah baiknya kita mencermati terlebih dahulu dari setiap keyakinan sekte Kristen yang telah ditudingkan itu, sebelum pada akhirnya, kami memberikan sanggahan atas hal tersebut.

 1. Kristen Nestorian. 
Sebagian Kristen menuding bahwa Islam berasal dari Kristen Nestorian, di mana Kristen Nestorian tersebut telah dinisbahkan kepada nama Nestorius yang berasal dari Siria. Nestorius dilantik menjadi seorang uskup Kostantinopel pada tahun 428 M, di mana pandangan kristologinya telah dipengaruhi oleh aliran Antiokhia. Nestorius, telah mengikuti pemikirannya Theodore dari Mopsuestia, yang pemikirannya Theodore tersebut didapatkan dari hasil pengembangan orang-orang sebelumnya, di mana pemikiran yang ada telah bermuara pada pemikirannya Eustathius dari Antiokhia yang telah meyakini bahwa Kristus mempunyai jiwa manusia dan bahkan jiwa itu subyek dari penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Yesus. Dalam pemikirannya, Eustathius telah menghubungkan logos dengan kemanusiaannya Yesus, yang logos itu sendiri diyakininya telah berdiam diri di dalam tubuhnya Yesus, dan dari adanya pemikiran Eustathius itulah, maka akhirnya Diodorus dari Tarsus dan Theodore dari Mopsuestia mengembangkan pemikirannya Eustathius tersebut (Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen: Dari Abad Pertama Sampai Dengan Masa Kini, hal. 103 dan 108).

 Seperti halnya Theodore, Nestorius pun selanjutnya menegaskan bahwa di dalam Kristus ada tiga pribadi atau prosopa, yaitu satu prosopon logos, satu prosopon tabiat atau hakikat manusia dan satunya lagi prosopon kesatuan. Nestorius meyakini, jika Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, maka harus ada satu prosopon dari tabiat masing-masing dan juga prosopon dari kesatuan itu. Dari adanya perbedaan pandangan yang terus berkelanjutan antara Nestorius dengan Cyrilus, gereja pun akhirnya mengadakan Konsili Efesus (431 M) dan membuat rumusan penyatuan kembali dengan menegaskan adanya doktrin dua tabiat bagi Yesus, di samping mengumumkan pula doktrin tentang kesatuan antara Allah dan manusia di dalam satu pribadi (prosopon) (Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, hal. 105-107.).

 Nestorius meyakini bahwa Yesus memiliki dua kepribadian yang dipersatukan atau disekutukan, menurutnya, persekutuan atau persatuan tersebut tidaklah dihasilkan dari peleburan, melainkan suatu kesatuan yang ecara etis layaknya dua orang yang berbeda tetapi disebut sebagai satu daging, sama halnya seperti suami-isteri (Efesus 5:31) (Harun Hadiwijono, Iman Kristen, hal. 313).


 2. Gnostik. 
Selain adanya tudingan bahwa Islam berasal dari sekte Kristen Nestorian, Islam pun dituding pula bahwa ajaran Islam tentang Yesus telah menyerupai ajaran dari sekte Gnostik Kristen, di mana istilah Gnostik tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu gnosis, yang berarti pengetahuan, di mana pengetahuan yang dimaksud di sini ialah hikmat yang tinggi, rahasia dan tersembunyi tentang asal dan tujuan hidup manusia. Adapun wujud Gnostik, merupakan salah satu wujud dari sinkretisme pantheistik yang telah berusaha menggabungkan filsafat barat dengan agama timur. Sejak awal masa Kekristenan, pemikiran Gnostik telah masuk ke dalam ajaran Kristen, di mana dalam bukti sejarahnya bisa kita telusuri dari adanya pemikiran Valentinus, yang ia sendiri dikenal sebagai seorang ahli gnostik Kristen (H. Berkhof-I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, hal. 19-20). Adapun contoh pemikiran Gnostik yang terdapat pada pemikirannya Valentinus adalah sebagai berikut: “Dunia yang jahat ini tidak mungkin hasil ciptaan dari Allah yang baik. Allah adalah terang dan dikelilingi oleh malaikat yang rohani murni. Namun, ada malaikat yang bersifat jahat. Ia ini yang menciptakan dunia ini dan menjadi Allah bagi bangsa Israel" (Jonar S., Sejarah Gereja Umum, hal. 121).

 Gnostisisme merupakan istilah modern untuk berbagai sekte di abad ke-2 M, yang memiliki persamaan dalam hal-hal tertentu, di mana penganutnya sendiri meyakini bahwa Allah Yang Maha Tinggi jauh dari dunia ini, Ia tidak turut serta dalam penciptaan-Nya, dan antara dunia yang jahat ini dengan Allah terdapat semacam hierarki makhluk-makhluk ilahi (Tony Lane, Runtut Pijar: Tokoh dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, hal. 9). Terkait tentang Yesus, menurut B.K. Kuiper, Gnostik Kristen telah meyakini bahwa Kristus tidak pernah berdiam diri di bumi dalam rupa manusia.9 Karena menurut mereka, ia adalah aeon yang memiliki tubuh yang semu, maka dari itu mereka meyakini bahwa Yesus tidak mungkin mengalami kesengsaraan, meskipun tubuhnya sendiri mengalami penderitaan dan disalib (Harun Hadiwijono, op.cit., hal. 311). Kaum Gnostik tidaklah memiliki keseragaman dalam keyakinannya terhadap Yesus, menurut Linwood Urban, di internalnya Gnostik telah terjadi perpecahan, di mana dalam tulisannya tentang Yesus, Gnostik telah menganggap Yesus sebagai seorang guru spiritual saja, namun dalam tulisan Gnostik yang lainnya, terdapat sebuah gambaran tentang Yesus yang diyakini sebagai makhluk ilahi Docetis (Linwood Urban, op.cit., hal. 98-99).

3. Doketisme 
Docetisme berasal dari kata dokei, yang berarti semu atau melihat. Seperti halnya kaum Gnostik, aliran Kristen ini pun lebih menekankan keilahiannya Yesus, dalam arti, Yesus benar-benar Allah dan meyakini agar Allah tidak menajiskan diri-Nya, maka Ia harus membutuhkan tubuh yang semu. Doketisme berkeyakinan bahwa yang disalib bukanlah Yesus, melainkan Simon dari Kirene. Oleh karena itu, golongan ini menganggap bahwa penderitaan, dan kematian yang telah dialami oleh Yesus adalah semu adanya. Karena jika tidak semu, maka Allah akan mengalami kenajisan, dan menurut mereka, mustahil tubuh Yesus yang ilahi dapat bersatu-padu dengan yang najis (Jonar S., op.cit., hal. 126). Tentang adanya golongan Doketisme tersebut, Yustinus Martir berkata tentang mereka, “Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak menjadi daging, tetapi hanya sebagai roh, dan memperlihatkan suatu penampakan sebagai manusia.” Pada abad ke-2 M, Saturninus telah dianggap sebagai seorang Doketisme, ia dinilai seperti itu karena pendapatnya yang menyatakan, “Sang juru selamat itu tanpa kelahiran dan tanpa tubuh jasmani serta tanpa rupa dan hanya dalam penampakan dia kelihatan sebagai seorang manusia" (Linwood Urban, op.cit., hal. 93). Itulah keyakinan pokok dari sekte Kristen Nestorian, Gnostik dan juga Dekotisme tentang Yesus (kristologi), di mana ketiga sekte tersebut telah dianggap oleh sebagian Kristen lainnya sebagai asal-usul lahirnya Islam atau memiliki kemiripan dengan sekte Kristen.


 BANTAHAN TERHADAP TUDINGAN KRISTEN. 

Tidak bisa dipungkiri, karena adanya perbedaan teologi yang signifikan antara Islam dan Kristen, hal tersebut telah mengakibatkan perdebatan yang panjang di antara keduanya hingga akhirnya memicu lahirnya berbagai fitnah yang dilakukan oleh oknum Kristen terhadap Islam dan mereka melakukan hal demikian karena di dalam hatinya memiliki rasa benci terhadap Islam. Adanya upaya mereka dalam mendeskriditkan Islam yang bertujuan untuk memadamkan cahaya Allah, telah jauh-jauh hari Allah mengingatkan kaum Muslimin tentang hal itu, yang secara eksplisit, termaktub di dalam Al-Qur'an, sebagaimana yang terdapat dalam Surat Ash-Shaff ayat 7-8. Adapun Firman-Nya itu adalah sebagai berikut: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” Sebagai bentuk kecintaan kita kepada Allah dan Nabi Muhammad ﷺ tentunya kita memiliki kewajiban moral untuk meluruskan anggapan miring mereka tersebut, karena sesungguhnya iman seorang Muslim bisa dipertanyakan ketika Islam dihina dan difitnah, dirinya malah berlalu begitu saja dan tidak memiliki ghirah untuk membela Islam yang telah dihina dan difitnah.

 Di satu sisi, umat Islam memiliki keterbukaan dengan adat-istiadatnya orang Yahudi, Kristen, dan agama-agama lainnya. Namun di sisi lain, sikap keterbukaan umat Islam terhadap kebudayaan kafir tersebut tidaklah serta-merta diterima atau ditelan mentah-mentah (Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Kisah dan Sabda Yesus Dalam Literatur Islam, hal. 25-26). Jika kebudayaan dari kafir saja umat Islam telah menyikapinya dengan penuh kehati-hatian, tentunya ketika dihadapkan pada permasalahan aqidah pun kaum Muslimin akan lebih berhati-hati dalam menentukan sikapnya. Dalam hal aqidah, sejak awal hingga kini keyakinan kaum Muslimin tentang Allah masih sama, bahwa Ia itu Esa, baik Esa dalam Zat-Nya, Kehendak-Nya dan Kuasa-Nya. Ia tidak berbilang dan tidak tersusun dari hal apapun. Selain menyampaikan perbedaan antara antara Diri-Nya dengan makhluk-Nya, dalam Surat al-Ikhlas ayat 1-4, Allah telah menegaskan pula tentang Jati Diri-Nya, “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.’ Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

 Adanya keyakinan bahwa Yesus adalah Allah, masih tetap diyakini oleh Kristen Nestorian (Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Asia, hal. 38). Gnostik dan Doketisme, begitu pula dengan Kristen pada umumnya, di mana keyakinan Kristen tersebut telah dibantah secara tegas oleh Allah. Sanggahan tegas Allah tersebut telah dinyatakan di dalam Surat An-Nisa ayat 171, yang isinya adalah sebagai berikut: “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga,’ berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.”

 Untuk masalah kristologi, yakni adanya keyakinan bahwa Yesus itu adalah Allah, baik yang diyakini oleh sekte Kristen (Nestorian, Gnostik dan Doketisme) maupun oleh Kristen pada umumnya, ternyata bertolakbelakang dengan apa yang telah diyakini oleh umat Islam selama ini. Jika dasar teologi antara Islam dengan sekte Kristen dan juga Kristen pada umumnya telah bertolakbelakang, maka hal-hal lain yang sepelenya pun akan bertentangan pula. Jadi, ketika Islam dituduh sebagai ajaran yang berasal dari sekte Kristen atau dianggap bahwa ajaran Islam telah menyerupai ajaran dari sekte Kristen lainnya, tentunya tudingan tersebut bisa dikatakan mengada-ngada dikarenakan ajaran Islam sendiri tidaklah meyakini bahwa Yesus adalah Allah, melainkan hanya meyakini bahwa Yesus adalah seorang utusan Allah saja (Qs. 3:49). Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah telah menganggap kafir bagi siapapun yang telah meyakini dan mengatakan bahwa Allah itu adalah Yesus, sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al-Maidah ayat 72.

 Masih dalam ayat yang sama, yakni pada Surat Al-Maidah ayat 72, Yesus pun telah menolak secara tegas tentang keyakinan Kristen yang telah menuhankan dirinya, di mana penuhanan dirinya yang dilakukan oleh Kristen bukanlah karena perintahnya, karena apa yang telah Yesus seru kepada umatnya hanyalah mengajak untuk menyembah kepada Allah saja, bukan untuk menuhankan Yesus. Dan adanya penolakan Yesus sebagai Tuhan, sebagaimana yang telah diinformasikan di dalam Al-Qur’an, hal tersebut sebenarnya telah mengafirmasi adanya keterangan yang terdapat di dalam Injil, bahwa Yesus memang benar-benar sebagai utusan Tuhan, sebagaimana yang terdapat di dalam Injil Matius 10:40; Markus 9:37; Lukas 9:48, 10:16; Yohanes 4:34, 5:23, 6:29, dan lain-lain.

Yesus atau nabi Isa, termasuk salah seorang hamba yang dekat dengan Allah, di mana kata min dalam bahasa Arab, memiliki makna sebagian atau termasuk ke dalam bagian sesuatu, sebagaimana yang disampaikan Allah di dalam Surat Ali Imran ayat 45. Selain itu, Yesus pun termasuk pula sebagai salah seorang yang sholeh, di mana kata sholeh, yang memiliki makna beres, tidak hanya beres dalam perbuatannya saja, melainkan beres pula dalam sisi aqidahnya. Oleh karena itu, ketika orang-orang Kristen menjadikannya sebagai Tuhan, yang disebabkan karena adanya berbagai kelebihan yang dimilikinya, Yesus langsung memberikan klarifikasi kepada Allah bahwa ia tidaklah menyeru atau menyuruh umatnya untuk menjadikannya sebagai Tuhan, justru yang sebenarnya adalah bahwa Yesus mengajak umatnya untuk menyembah tuhannya, yaitu Allah, sebagaimana yang terdapat pada Surat Al-Maidah ayat 72.

 Yesus tidaklah memiliki sisi keilahian sedikit pun dan bukan pula sebagai Allah, di mana segala kelebihan yang dimilikinya atau segala keajaiban yang dilakukannya, itu semua ia dapatkan karena adanya izin dari Allah yang telah memberikan kepadanya kuasa (Qs. 3: 49). Jika Yesus adalah Allah yang ketika di dunia ia telah menggunakan tubuh manusia, namun diyakini bahwa keilahiannya tidak terpengaruh oleh segala aktivitas fisik yang dilakukan dan dirasakannya, sebagaimana halnya yang telah diyakini oleh kaum Gnostik Kristen dan juga Doketisme, lalu kemanakah sisi keilahiannya Yesus kala itu? Di saat tubuh manusia telah dianggap sebagai wadah atau tempat bagi berdiam dirinya Allah di dunia, dan Allah yang berdiam diri di dalam tubuh manusia dianggap tidak ikut menderita, tentunya pandangan tersebut tidaklah logis. Karena jika dalam satu gelas berisi air, lalu gelas tersebut dipindahkan posisinya, tentunya air yang ada di dalamnya pun akan ikut mengalami perpindahan posisi bersamaan dengan gelasnya. Dan begitu pula ketika gelas yang berisi air lalu dipecahkan gelasnya, maka air yang ada di dalamnya pun akan mendapatkan akibat atau efek dari pecahnya gelas tersebut. Maka, jika keyakinan Gnostik dan Doketisme dianalogikan layaknya air yang yang di dalam gelas, tentunya saat tubuhnya Yesus pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan besar, maka bisa dikatakan bahwa keilahiannya Yesus yang berada di dalam tubuhnya pun ikut pergi ke kamar mandi. Jika hal tersebut terjadi, tentunya eksistentsi keilahian yang ada di dalam tubuhnya Yesus telah dikuasai oleh ruang dan waktu, dan jika Tuhan bisa terpengaruh serta dikuasai oleh ruang dan waktu, tentunya substansi Tuhan dengan makhluk tidak ada bedanya, karena sama-sama bisa terpengaruh dan dikuasai oleh ruang dan waktu.

KESIMPULAN. 

 Pandangan Islam tentang Yesus tidaklah didapatkan dari ajarannya sekte Kristen, sehingga tidak bisa dianggap memadai jika Islam pada akhirnya diyakini sebagai agama yang berasal dari sekte Kristen. Adanya anggapan Kristen bahwa ajaran sekte Kristen memiliki kemiripan dengan Islam, namun pada kenyataannya justru ajaran Islam berseberangan dengan sekte Kristen dan juga dengan Kristen pada umumnya, tentunya anggapan tersebut tidaklah objektif. Karena bagaimana mungkin sesuatu dianggap sama atau memiliki kemiripan dengan yang lainnya, namun di sisi lain, justru malah mengabaikan adanya penolakan dan perbedaan atas adanya ajaran Islam dengan sekte Kristen dan juga Kristen pada umumnya.

Belum ada Komentar untuk "Fitnah Kristen : Islam Berasal dari Ajaran Sekte Kristen"

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel