Membongkar Peristiwa Yang Pernah Dirahasiakan Oleh Katolik



    Siapapun bisa tersentak hatinya dan akan mengerut keningnya ketika mengetahui berbagai sikap sadis dan amoralnya paus dalam sejarah kepausan. Ada beberapa peristiwa yang pernah menjadi rahasia di kalangan Katolik Barat, namun akhirnya terbongkar. Seperti apa perjalanan Paus dalam panggung sejarah Kekristenan? Dan peristiwa paus apa saja yang pernah dirahasiakan oleh Katolik, namun akhirnya terbongkar oleh tinta sejarah yang telah ditorehkan oleh Protestan?

    Pada tahun 1309 M, pusat kepausan dipindahkan dari Roma ke Avignon, di Provence, yang berbatasan langsung dengan Perancis. Di sinilah tempat kediaman para Paus hingga 1376, di mana menetapnya para paus di Avignon dikenal sebagai “Pembuangan Kepausan ke Babilonia”. Disebut pembuangan karena sejak masa itu para paus sepenuhnya berada di bawah kekuasaan raja-raja Perancis, dan disebut Pembuangan ke Babilonia, karena peristiwa tersebut berlangsung sekitar tujuh puluh tahun, sebagaimana pembuangan orang-orang Israel ke Babilonia pada masa Perjanjian Lama. Selama periode itu, semua paus adalah orang Perancis. 
    Adanya pembuangan ke Babilonia telah membuat wibawa paus hancur, terlebih banyak paus dari masa pembuangan ke babilonia telah berlaku jahat. Sementara di Avignon, istana yang sangat mewah mereka pertahankan. Kerusakan terjadi karena permasalahan uang, yang diperoleh dengan cara yang sangat memalukan. Jabatan uskup telah diperjual-belikan, surat penghapusan dosa pun dijual oleh paus, dan bahkan mereka meminta banyak persembahan dari para anggota jemaat. Perilaku buruk paus tersebut telah membuat semua negara Eropa Barat merasa tidak tahan menghadapinya, dan bahkan orang-orang Kristen mulai berkata bahwa paus adalah Antikris. 
    Orang-orang Italia merasa sangat tidak puas, jika para paus menetap di Avignon dan menginginkan kembali agar Roma menjadi pusat kepausan. Sikap orang-orang Italia tersebut telah menimbulkan pertikaian terbuka dengan orang-orang Perancis di tahun 1378 M, dan masing-masing pihak telah memilih seorang paus, satu di Roma dan satu paus lagi di Avignon. Peristiwa tersebut telah melahirkan skisma yang besar dan terus berlangsung dari tahun 1378 hingga 1417 M. Dari adanya peristiwa tersebut, kedua paus pun saling mencela, saling mengutuk satu sama lain. Untuk memulihkan keadaan tersebut, maka diadakanlah konsili di Pisa pada tahun 1409, di mana hasil konsili tersebut akhirnya memecat kedua paus tersebut dan memilih Aleksander V sebagai paus yang baru. Namun nyatanya, kedua paus yang dipecat tersebut tidak mau menyerahkan jabatannya, sehingga mengakibatkan lahirnya tiga paus, dan ketiganya pun akhirnya sama-sama tidak diakui sebagai paus. Pada akhir tahun 1417, untuk meredam permasalahan itu akhirnya diadakanlah Konsili Konstans yang memilih seorang paus Kardinal berkebangsaan Italia sebagai Martinus V, dan ketiga paus tersebut akhirnya menyerahkan jabatannya tersebut serta memberikan dukungannya kepada Martinus V.       
    Peristiwa di atas, bukanlah satu-satunya peristiwa yang memalukan dalam dunia Kristen Katolik, justru peristiwa yang memalukan tersebut masih terus berlanjut. Sekitar tahun 1510 M, Paus Yulius II (1506-1513 M), seorang pecinta kesenian, telah merencanakan pembangunan sebuah gedung gereja untuk dijadikan sebagai gereja induk sedunia. Ia memiliki keinginan tersebut meskipun sebenarnya telah berdiri gedung gereja, yaitu Basilika Santo Petrus, yang didirikan pada zaman Kaisar Konstantinus (424 M). Untuk mencapai keinginannya tersebut, ia akhirnya melakukan pembongkaran terhadap Gereja Santo Petrus tersebut dan memulai pembangungan gereja yang baru. Karena ukuran gedung gereja sangat besar, dan setiap pengganti Paus Yulius II memiliki seleranya masing-masing, maka pembangunan gedung itu pun akhirnya memakan waktu yang lama dan baru ditahbiskan pada tahun 1626 M. Pembangunan proyek tersebut tentunya menelan biaya yang luar biasa besarnya, sedangkan di sisi lain, pendapatan paus pun terbatas. Maka untuk mendapatkan pendapatan lebih, dicarilah pemasukan tambahan yang salah satunya dengan cara melakukan penjualan indulgensia, surat penghapusan hukuman, khususnya hukuman yang bakal dialami dalam api penyucian (purgatorium) oleh mereka yang berharap akan masuk surga, tetapi menurut keyakinan yang berlaku saat itu harus terlebih dahulu menebus dosa-dosanya dalam api penyucian.    
    Untuk mendanai pembangunan Gereja Santo Petrus yang baru, Paus menyatakan bahwa yang menyumbangkan uang untuk pembangunan gereja itu akan menerima penghapusan hukuman yang bakal diderita dalam api penyucian, di mana pernyataannya itu berlaku untuk seluruh wilayah Eropa Barat dan Tengah. Sedangkan orang-orang yang ingin mendapatkan jabatan yang tinggi di dalam gereja, maka ia haruslah menyetor dengan jumlah yang besar pula, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Albrecht, di mana untuk menjadi seorang uskup Agung Mainz, ia telah meminjam uang ke bank. Dan rupanya, Albrecht pun melakukan siasat lain dalam meredam krisis keuangan yang ia alami dengan cara menjadi pengelola keuangan di Jerman dalam menyukseskan proyek pembangunan Gereja Santo Paus. Uang yang telah terkumpul di Jerman untuk proyek Gereja Santo Petrus, akhirnya ia gunakan untuk melunasi hutangnya ke bank, dan sisanya ia setorkan ke Roma. Dan uang yang ia dapatkan selama ini, ia dapatkan dari hasil surat penghapusan hukuman yang diedarkan oleh kaki tangannya, Johann Tetzel. Karena yang dilakukan oleh Albrecht tersebut dianggap menyaingi proyek Raja Friedrich, yaitu koleksi relikiu, yang uangnya didapatkan pula lewat pemberian surat penghapusan hukuman, maka akhirnya Friedrich pun melakukan pelarang terhadap surat penghapusan hukuman yang diedarkan oleh Albrecht. 
    Dari adanya surat penghapusan hukuman yang beredar luas di Jerman, hal tersebut telah mengakibatkan para pelaku kejahatan atau dosa enggan untuk mendapatkan hukuman, mereka beralasan tidak perlu mendapatkan hukuman karena mereka telah memperoleh surat penghapusan hukuman dari Tetzel. Dari adanya kondisi masyarakat yang seperti itu, akhirnya Marthin Luther pun berkhotbah untuk menegur para jemaat gereja dan menerbitkan sejumlah 95 dalil, yang ia tujukan kepada para teolog, dan juga Uskup Albrecht. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? 10 bulan setelah penerbitan ke-95 dalil, pada 23 Agustus 1518, Luther akhirnya didakwa sebagai penyesat dan pada tanggal 15 Juni 1520, Paus mengeluarkan Bulla Exsurge Domine, yang menyebut dan mengutuk 41 ucapan Luther, yang sebagian besar menyangkut masalah sakramen pengakuan dosa dan pemberian surat pengahapusan hukuman.      
    Adapun kisah pemasangan ke-95 dalil pada pintu-pintu gereja-istana di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517, untuk pertama kali dicatat dalam tahun 1546 oleh Melanchthon, relan dan sahabat karib Luther. Namun, pada tahun 1961, salah seorang sejarawan Katolik, Erwin Iserloh (1915-1996), telah menyangkal historisitas kisah tersebut, yang pada akhirnya mengakibatkan memunculkan perdebatan yang hingga kini belum tuntas. Dan karena ulah Paus Yulius II, yang akhirnya mendapatkan respon keras dari Luther dan menghasilkan skisma dalam kekristenan, yaitu Protestan. 
    Terdapat catatan kelam dalam kepausan mencuat secara umum, di mana pada awalnya peristiwa yang terjadi merupakan rahasia kepausan, dan sejarah kepausan yang ditulis secara lengkap oleh Cyrus Shahrad dalam bukunya, “Rahasia-rahasia Vatikan”. Dalam karyanya Cyrus tersebut, ia mengungkapkan secara runtut perjalanan sejarah kepausan yang dimulai dari Petrus hingga paus yang menjabat tahun 2005. Jonar mengungkapkan, bahwa di antara peristiwa yang dicatat adalah kematian dan upaya pembunuhan terhadap paus yang masih misterius kematiannya. Paus Yohanes VII dipercaya sebagai paus pertama yang dibunuh (diracun dan dipukul sampai mati oleh pengikutnya sendiri hingga mati pada tahun 882 M). Jonar kembali menuturkan, ada beberapa paus yang dibunuh, yaitu Puas Yohanes X yang dibunuh dengan ditindih bantal hingga mati pada tahun 928 dan Paus Benekditus VI dicekik oleh imam pada tahun 974. Paus Yohanes Paulus II ditembak saat berkeliling lapangan Santo Petrus dalam mobil kepausan yang terbuka di tahun 1981, meski ia selamat dari percobaan pembunuhan tersebut. 
    Adapun berbagai peristiwa yang telah terjadi dalam sejarah kepausan yang berhasil diungkapkan oleh Jonar adalah sebagai berikut: 
 1. Tahun 795-816 M. Otoritas Romawi tidak menyukai Paus Leo III dengan menuduhnya telah melakukan sumpah palsu, perzinaan, dan menjual indulgensia kepausan. Paus Leo III ini diseret ke jalan, dipukuli, dan diancam akan dipotong lidahnya sebelum dipenjarakan di sebuah biara. Namunn, ia melarikan diri dan mencari suaka pada raja Frank, Charlemagne, yang mengembalikannya ke Roma dan menobatkannya kembali menjadi paus. Pada perayaan Natal tahun 800, Paus Leo III mengganjar Charlemagne dengan memahkotainya sebagai pemimpin kekaisaran Romawi Suci yang baru, sebuah institusi yang akan terus berkuasa hingga Napoleon menginvansi dan menghancurkannya setelah lebih dari 1.000 tahun kemudian. 
2. Tahun 885 M. Legenda berbicara bahwa ada wanita bernama Paus Joan yang bertahta selama tiga tahun sebelum kewanitaannya terungkap dalam prosesi melalui Roma, dan beberapa pihak mengatakan bahwa Paus Joan melahirkan tanpa sengaja. Hingga kini, prosesi kepausan menghindari tempat di mana sebuah tugu peringatan masih dipelihara oleh orang-orang yang percaya.
3. Tahun 963-964. Beberapa paus melakukan tindakan yang kontroversial, seperti Paus Yohanes XII. Ia berjudi secara terbuka, menyembah dewa-dewa pagan, dan membuat para musuhnya buta, alat vitalnya dipotong, atau dibunuh. Ia pun mengubah istana kepausan menjadi rumah pelacuran. Dan Paus Yohanes XII mati ditangan seorang suami yang cemburu karena menangkap basah perselingkuhan Paus dengan istrinya tersebut.
4. Tahun 984-985. Paus Bonifasius VII memenjarakan paus sebelumnya, Yohanes XIV, di dalam Castel Santo Angelo dan membiarkannya mati kelaparan. Bonifasius VII langsung dibunuh dan jasadnya yang telanjang diseret keliling jalan-jalan dan dimutilasi oleh warga Roma yang marah.
5. Tahun 1378-1389. Paranoia hingga hampir gila. Paus Urbanus VI telah memenjarakan enam kardinalnya sendiri dan menyiksa mereka setelah ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keenam kardinalnya itu terlibat sebuah rencana. Paus ini mati setelah ia terjatuh dari sapi, dan banyak pihak yang menduga adanya permainan di balik kematiannya itu.
6. Tahun 1978. Setelah terlebih dahulu menjalani pertobatan, Paus Yohanes Paulus I mati, ia hanya 33 hari setelah penobatannya, yang terjadi tanggal 28 September 1978. Semua laporan tentang kematiannya saling bertentangan. Satu pernyataan menyebutkan bahwa jenazahnya ditemukan di dalam ruang tidur kepausan pada pukul 04.30 waktu setempat. Laporan lainnya menyatakan penemuan mayatnya terjadi pada pukul 05.30. Seorang yang lain mengatakan bahwa Sri Paus telah merasakan sakit pada malam sebelumnya tetapi tidak mau dipanggilkan dokter, dan lain-lain. Dan spekulasi kontroversial pun muncul ketika Sri Paus ini diisukan bunuh diri. Upaya verifikasi pun menjadi sulit, karena botol obat itu menghilang dari tempat kejadian, begitu juga dengan kacamata dan sandal tidur Sri Paus.
    Itulah berbagai peristiwa yang terjadi ketika seseorang menjabat sebagai paus, yang mengakibatkan berbagai peristiwa seperti halnya skisma pun terjadi. Lebih dari itu, karena kepentingan duniawi, penjualan surat indulgensia yang dilakukan oleh Paus, istana kepausan pun telah dijadikan sebagai tempat pelacuran oleh Paus, dan bahkan seorang paus pun pernah melakukan perselingkuhan dan juga perjudian. Berbagai peristiwa tersebut, tentunya hanya beberapa peristiwa yang bisa kita ketahui, dan adanya berbagai intrik dan permasalahan atau bahkan sikap amoral paus lainnya yang lebih parah dari peristiwa di atas, hanya pihak gereja Katolik di Roma lebih mengetahui hal itu. Dan ternyata, Kristen yang selalu lantang mengatakan sebagai agama kasih, telah menorehkan tinta hitamnya yang memalukan yang tidak mungkin siapa pun bisa melupakannya.*/Sang Misionaris     


Sumber Bacaan:
B.K. Kuiper. The Church in History. Terj., Desy Sianipar. Malang: Gandum Mas, 2010.
Th. Van den End. 95 Dalil Martin Luther: Latar Belakang Sejarah dan Analisis Dalil Luther. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. 
Jonar S., Sejarah Gereja Umum, (Yogyakarta: Andi, 2018). 

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik