DIBONGKAR : Bukti Kebohongan Publik Yang Dibuat Kristen




Menurut B.K. Kuiper, kepausan telah dibantu oleh usaha-usaha persekongkolan orang-orang yang berhasil memperkuat posisi dan otoritas kepausan melalui kebohongan dan kecurangan. Dalam menguatkan argumentasinya tersebut, Kuiper telah memberikan dua contoh dalam membuktikan adanya kebohongan yang dibuat agar Paus memiliki legalitas dalam kekuasaannya, seperti:

1. Sekitar zaman Charlemagne, muncul sebuah dokumen yang disebut "Sumbangan Konstantinus". Dokumen itu menceritakan bahwa Kaisar Konstantinus, sebagai penghargaan terhadap Paus, memutuskan untuk memindahkan tempat tinggalnya dari Roma ke Byzantium di Bosporus, kota yang kemudian disebut dengan Konstantinopel. Tujuannya dalam hal ini adalah supaya pemerintah kaisar yang sekuler tidak dapat mengendalikan pemerintahan Paus yang bersifat rohani.

Pada saat meninggalkan Roma, menurut dokumen ini, Konstantinus memerintahkan semua pejabat pemerintah yang ada di dalam gereja untuk tunduk pada Paus Sylvester I dan kepada para penggantinya di tahta kepausan. Selanjutnya, ia menyerahkan kota Roma dan semua provinsi, distrik, dan kota-kota di Italia dan di daerah-daerah sebelah barat kepada para Paus. Dengan demikian, menurut dokumen ini, Konstantinus telah mengaruniakan kedaulatan atas setengah kekaisaran di bagian barat kepada para Paus.

2. Pada abad pertengahan, tepatnya di abad ke-9 M, muncul dokumen kedua yang misterius, yang disebut sebagai dokumen "Keputusan-keputusan Isidorian (Isidorian Decretals)", dokumen tersebut disebut demikian karena dokumen tersebut telah dikumpulkan di Isidore dari Seville. Dokumen itu terdiri dari keputusan-keputusan para Paus dan konsili-konsili dari sejak Klemens di Roma pada abad pertama sampai Gregorius II pada abad ke-8 M. Uskup-uskup tersebut, menurut dokumen ini, dapat naik banding langsung pada Paus, baik Paus maupun Uskup-uskup tidak tunduk pada kekuasaan pemerintah yang sekuler. Dan "Sumbangan Konstantinus" telah dimasukkan ke dalam keputusan ini.

Seluruh sistem hierarkhikal (serangkaian pemimpin, masing-masing harus tunduk yang secara otomatis pada pemimpin yang ada di atasnya), menurut Kuiper, adalah hasil dari suatu perkembangan yang luas selama beberapa abad lamanya. Tetapi dokumen Isidorian Decretals, ungkap Kuiper, telah menunjukkan sistem ini sebagai sesuatu yang utuh dan tidak berubah dari permulaan, di mana tujuan dokumen tersebut untuk menunjukkan bahwa semua hak yang diakui oleh para Paus pada abad ke-9 M, telah dijalankan oleh mereka dari masa-masa yang paling awal.

Selama ratusan tahun lamanya, dokumen-dokumen tersebut telah diterima dan dipandang sebagai dokumen yang asli. Namun menurut Kuiper, pada tahun 1433 M, Nicholas de Cusa, adalah orang pertama yang menyatakan bahwa dekrit tersebut adalah palsu. Selain itu, dokumen-dokumen ini mulai disebut "Pseudo-Isidorian Decretals", dan pada tahun 1440 M, Lorenzo Vall pun membuktikan pula bahwa "Sumbangan Konstantinus" adalah dokumen palsu. Dari adanya penelitian tersebut, akhirnya para sarjana Katolik setuju dengan sarjana Protestan bahwa kedua dokumen tersebut sama-sama palsu. Dokumen-dokumen fiktif, sebagaimana kedua dokumen tersebut, bukanlah hal yang baru. Tetapi kedua dokumen ini ada di antara berbagai kecurangan yang sangat besar yang pernah dilakukan. Ketika dokumen-dokumen tersebut disusupkan dan diklaim sebagai dokumen yang asli di sepanjang Abad Pertengahan, dokumen tersebut telah memberikan kesempatan yang cukup besar bagi kepausan untuk memperkuat diri dan melakukan penyerobotan.

Kisah di atas merupakan sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Kristen Katolik demi mendapatkan legalitas kekuasaan dihadapan orang-orang Kristen lainnya, lalu bagaimana dengan kebohongan publik lainnya yang telah dibuat oleh Kristen? Richard Fletcher, telah mengungkapkan adanya kebohongan yang dilakukan oleh para penyair Kristen ketika mereka mendaur-ulang syair Chanson de Roland. Menurut Richard, dalam syair epik Prancis kuno yang disebut Chanson de Roland, manuskrip tersebut berisi tentang berbagai syair yang menggunakan bahasa Prancis bagian Selatan, yang berasal dari abad ke-11 M.

Menurutnya, syair tersebut mendapatkan pedomannya dari peristiwa sejarah, yaitu adanya kekalahan yang dialami oleh pasukan pengawal tentara Charles Magnus, di bawah komando Roland, di jalur Roncesvalles Pyrenea pada tahun 778 M, di tangan Basque lokal. Richard mengungkapkan lebih lanjut, bahwa para penyair yang mengarang kembali sejarah tersebut telah mengubahnya. Musuh yang ada diubah menjadi orang Muslim Spanyol, pengkhianatan menjadi titik balik plotnya, sedangkan Roland dikisahkan sebagai figur yang heroik, di mana pertempuran di Roncesvalles yang dianggap tidak penting pun pada akhirnya dimasukkan sebagai pertempuran hebat antara orang Kristen dan lawan-lawannya, yang lawannya tersebut dikisahkan sebagai para penyembah berhala, yang bernama Mahoun, Apollyon dan Tervagant. Secara mencolok, syair tersebut telah menyatakan   bahwa penyembah berhala adalah pihak yang salah, sedangkan orang Kristen adalah berada di pihak yang benar.*/Sang Misionaris



Dikutip dari:
Fletcher, Richard. The Cross and The Crescent: Riwayat Tentang Perjumpaan Awal Umat Islam dan Kristen. Terj., Abdul Malik. Tangerang: Alvabet, 2007. Hal. 86-87.

Kuiper, B.K. The Church in History. Terj., Desy Sianipar. Malang: Gandum Mas, 2010. Hal. 83-84.

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik