Buku-Buku yang diterbitkan AWF

Buku-buku yang Kristologi yang diterbitkan AWF bisa didapatkan disini, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Kristologi.

Kajian Kristologi

AWF bekerjasama dengan berbagai pihak memberi kajian kristologi di beberapa tempat untuk meneguhkan aqidah umat Islam

Kursus Kristologi Dasar

Kursus Kristologi Dasar (KKD) sering diadakan secara berkesinambungan untuk memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar Kristologi baik di kampus AWF maupun di pondok Pesantren

Pendekatan Persuasif

Pendekatan dan kerjasama AWF dengan berbagai elemen masyarakat untuk meneguhkan Aqidah umay Islam

Kunjungan AWF

Berbagai kunjungan dan kajian AWF diberbagai daerah untuk memberikan kajian dan kursus Kristologi, baik di Masjid-masjid maupun di Pondok Pesantren

Benarkah Kebangkitan Yesus Sesuai Dengan Fakta Sejarah?


   
    Salah satu pokok yang hangat diperdebatkan oleh para ahli Perjanjian Baru adalah tentang kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi perdebatan karena ada pihak Kristen yang tidak bisa mengabaikan kebangkitan Yesus. Namun sementara itu, para sarjana yag melakukan studi-studi tentang kebangkitan Yesus memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengakui kebangkitan sebagai peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia, tetapi ada pula yang tidak. Adanya perbedaan tersebut sering kali menimbulkan persoalan di kalangan Kristen karena perbedaan interpretasi terhadap kebangkitan itu sendiri. Yang menjadi persoalannya adalah apakah Yesus benar-benar telah dibangkitkan dari antara orang mati?
    Menjawab pertanyaan itu, para ahli Perjanjian Baru memberikan jawaban yang berbeda-beda. Conzelman dalam karyanya, Theology of Saint Luke, berpendapat, bahwa kebangkitan tidak dapat dibuktikan sebagai suatu peristiwa historis. Menurutnya, unsur yang menonjol di dalam peristiwa kebangkitan adalah unsur iman. Kebangkitan hanya dapat dilihat dari sudut iman bukan berdasarkan bukti historis. Jadi, kebangkitan hanya diakui dalam iman ketika Injil diberitakan.
    Sedangkan menurut Willi Marxsen, dalam karyanya, The Resurection of Jesus of Nazareth, berpendapat bahwa kepercayaan akan kebangkitan Yesus tidak berbeda sama sekali dari apa yang Yesus ajarkan. Ajaran Yesus, hidup sekarang untuk membawa orang kepada iman. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sejauh mana percaya pada ajaran Yesus, imannya kepada kebangkitan tidak dapat dikurangi oleh hasil suatu penafsiran. Oleh karena itu, iman kepada Yesus dan kebangkitannya harus dilihat sebagai bagian dari kebangkitan itu sendiri. Dalam mengamati laporan Injil-injil. Marxsen menyatakan bahwa Injil Matius tidak bermaksud menyampaikan suatu laporan mengenai buktik historis tentang kebangkitan Yesus, sebab hal itu bukan maksudnya. Maksud Matius hanyalah menunjukkan kehadiran Yesus kepada murid-muridnya. Matius tidak memusatkan perhatiannya kepada iman kebangkitan, tetapi ia menunjukkan bahwa iman kepada Yesus sangat penting bagi semua pengikutnya. Itulah iman yang murid-murid miliki ketika ia masih bersama mereka. Iman itu berakhir ketika ia mati.
    Marxsen sendiri tidak percaya bahwa Yesus bangkit meninggalkan kuburnya yang kosong. Menurut Marxsen, kematian Yesus menandai berakhirnya keberadaan fisik Yesus secara manusiawi. Tubuh Yesus berakhir dengan kematian, tetapi iman kepada Yesus berlangsung terus. Dengan kata lain, Marxsen tidak mengakui adanya kubur yang kosong. Injil Markus, menurut Marxsen, yang pertama melaporkan tentang kubur yang kosong itu. Ia (Markus) tidak melaporkan bahwa para perempuan itu datang ke kubur dan menemukan kubur itu kosong lalu menyimpulkan bahwa Yesus telah bangkit. Orang muda yang ada pada kubur itu yang mengatakan kepada perempuan-perempuan itu bahwa Yesus, orang Nazareth, telah bangkit. Lalu ia mengarahkan perhatian perempuan-perempuan itu dengan berita, berdasarkan penglihatan itu, bahwa Yesus telah bangkit dari kubur. Sedangkan dalam Injil Lukas, menurut Marxsen, ia hanya menceritakan tentang perempuan yang pergi ke kubur itu, di mana mereka tidak menemukan tubuh Yesus, untuk menyatakan kepada para pembacanya tentang kebangkitan Yesus. Cerita Lukas, lanjut Marxsen, memang berbeda dengan Markus karena Lukas menulis ketika gereja sedang merumuskan imannya kepada Yesus.  
    Dari adanya pandangan Marxsen tersebut, Kistemaker telah menyampaikan kritikannya di dalam karyanya yang berjudul The Gospel in Current Study. Menurutnya, Marxsen tidak teliti dalam meneliti bahan-bahan Perjanjian Baru. Marxsen memisahkan kaitan antara sejarah dan iman. Sementara ia melepaskan hubungan itu, ia terlampau menekankan aspek iman. Lalu, untuk memenuhi penekanan pada iman itu, ia melompati sejumlah bahan yang tidak mendukung kesimpulannya. Kistemaker juga mengkritik Marxsen bahwa penampakan Yesus kepada Petrus dan para murid yang lainnya itu hanya suatu “penglihatan” dalam pikiran Petrus dan murid-muridnya yang lain. Menurut Kistemaker, jika itu benar, mengapa Petrus di dalam rumah Kornelius, di Kaisarea memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus pada hari yang ketiga. Mengapa Petrus mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada dirinya dan murid-murid yang lainnya, dan makan minum bersama dengan mereka sesudah kebangkitannya? (Kisah Para Rasul 10:41). Pasti ungkapan ini bukan menggambarkan situasi sebelum kebangkitan. Kistemaker juga mengkritik pandangannya Marxsen yang menyatakan bahwa kematian telah mengakhiri keberadaan tubuh insani Yesus. Dengan kata lain, yang bangkit itu bukan Yesus dalam tubuh insaninya, melainkan rohnya. Sedangkan menurut Kistemaker, kebangkitan Yesus dari kubur adalah kebangkitan secara fisik, yang pandangannya itu didasari oleh tulisan-tulisannya Paulus, seperti 1 Korintus 15:51 dan 52. Kistemaker menilai bahwa pandangan Marxsen itu semata-mata berdasarkan suatu tafsiran, yang tidak lebih dari itu. Karena pada kenyataanya, Marxsen tidak tertarik pada kebangkitan Yesus. Ia lebih menekankan iman secara individu yang bertemu dengan Yesus. Akan tetapi, dengan melakukan hal yang sama demikian, Marxsen telah mengurangi peristiwa kebangkitan Yesus tidak lebih dari sebuah gagasan.
    Teolog yang meyakini bahwa kebangkitan Yesus bukan berdasarkan fakta historis adalah Wolfhart Pannenberg, di mana gagasannya itu ia tuangkan pada sebuah buku yang berjudul Did Jesus Really Rise From the Dead. Menurutnya, benar tidaknya Yesus bangkit dari antara orang mati tidak cukup jelas. Ia berpendapat bahwa kebangkitan Yesus bukan suatu peristiwa yang membuat tubuh Yesus hidup lagi, sama seperti seseorang yang bangun dari tidurnya tetapi sebagai suatu transformasi. Ia menunjuk kepada 1 Korintus 15:50 dan 53, sebagai dasar argumentasinya. Sedangkan adanya penampakan-penampakan Yesus kepada para muridnya, Pannenberg berpendapat bahwa Yesus dan penemuan kubur kosong oleh para perempuan adalah peristiwa yang terjadi secara terpisah. Peristiwa-peristiwa itu dihubungkan hanya ketika tradisi-tradisi penampakan dan kubur kosong itu dibangun.
    Mengenai historisitas kebangkitan Yesus, Pannenberg di dalam Jesus-God and Man, mengatakan bahwa kebangkitan Yesus yang diceritakan dalam Injil-injil merupakan (sebuah) legenda. Menurutnya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, ia tidak pernah menampakan diri secara fisik. Karena alasan itu, ia memilih untuk menyatakan bahwa peristiwa kebangkitan merupakan suatu peristiwa yang metaforis. Penampakan itu, lanjut Pannenberg, meruapakan pengalaman dalam bentuk penglihatan-penglihatan. Tidak ada kebangkitan secara fisik dari kubur.
    Perlu diketahui, bahwa keempat Injil melaporkan bahwa Yesus, secara fisik, telah bangkit dari antara orang mati. Sementara, kebangkitan itu sendiri tidak disaksikan oleh seorang pun sebagai suatu peristiwa. Yang ada hanyalah tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa kubur Yesus telah kosong dan Yesus menampakan dirinya kepada para murid-muridnya. Jika kebangkitan Yesus dari kubur merupakan sebuah peristiwa yang bersifat faktual dan memiliki basis historis, tentunya para penulis Yunani dan Romawi yang kala itu sezaman dengan Yesus akan mengisahkan peristiwa tersebut. Namun nyatanya, pengisahan tentang kebangkitan Yesus yang selama ini diyakini oleh Kristen tidaklah memiliki basis historis yang bisa diandalkan, melainkan hanya bersifat teologis, di mana unsur iman yang selama ini diyakini oleh Kristen, sejatinya telah mengabaikan adanya tuntutan-tuntutan historis dalam membuktikan bahwa apa yang diimani selama ini merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam sejarah manusia./*Sang Misionaris

Artikel ini dikutip dari Samuel Benyamin Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar, dan Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010).