Layakkah Kristen Disebut Sebagai Agama Konflik?


    Sejak munculnya agama Kristen, orang-orang Kristen telah mengalami segala bentuk penganiayaan dan pembunuhan, sebagaimana halnya yang terjadi di masa Kaisar Nero, Dominatus, dan Trayanus (Ichwei G.Indra, Jejak Juang Saksi Injil: Sejarah Gereja Umum Dan Sejarah Gereja Indonesia, hlm. 27). Dari adanya kondisi demikian, telah membuat orang-orang Kristen yang hidup di zaman modern saat ini selalu menyatakan bahwa Kristen adalah agama kasih, karena orang-orang Kristen yang menjadi korban kekejaman di masa lalu, tidak pernah memberikan pembalasan kepada orang-orang yang telah melakukan penganiayaan kepada mereka. Namun ternyata, pengklaiman dan jargon yang selalu mereka usung selama ini akhirnya terbantahkan di saat Kristen telah menjadi agama resmi dan mendominasi suatu negara, di mana kala itu orang-orang Kristen telah menjadi pelaku kejahatan dan kekejaman, baik terhadap orang-orang Kristen maupun non-Kristen.

    Ketika biara telah menjadi pusat aktivitas keagamaan, biara pun akhirnya menjadi pusat intelektual yang mengakibatkan ilmu pengetahuan terikat di bawah otoritas gereja, dan ketika ilmu pengetahuan terikat oleh doktrin agama, maka siapa pun yang dianggap berbeda pandangan dengan doktrin agama Kristen akan dianggap sebagai penentang gereja. Korban pertama yang menerima kekejaman dari pihak gereja adalah seorang perempuan yang bernama Hypatia. Ia dibunuh, dagingnya dikelupas dan tulangnya pun dibakar. Padahal, semasa hidupnya ia selalu menghabiskan waktu di perpustakaan dan tidak pernah mengusik ajaran Kristen (Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu: Dari Hakikat Menuju Nilai, hlm. 13-15). Dalam perkembangan selanjutnya, selain dianggap sebagai seorang bidat, gereja pun kerap kali melahirkan sikap kearogansian terhadap orang-orang yang berbeda pandangan, seperti halnya yang terjadi pada Galileo Galilei (1546-1642) dan Nicolaus Copernicus (1473-1543), dan bahkan Giordano Bruno (1548-1600), pengagum Nicolaus Copernicus, dibakar hidup-hidup oleh Gereja (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler-Liberal, hlm. 47-48).
    Konflik yang terjadi dalam internal Kristen, tidaklah bisa dikatakan sebagai konflik yang biasa-biasa saja, justru dari adanya konflik yang terjadi dalam internal Kristen telah mengakibatkan suasana politik menjadi panas, bahkan dari adanya konflik tersebut telah memaksa Konstantinus untuk memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Roma ke Bizantium (Erwin W. Lutzer, Teologi Kontemporer, hlm. 28). Turut serta Kaisar Konstantinus dalam menyelesaikan konflik internal Kristen mencerminkan adanya dominasi Kristen yang cukup berpengaruh, di mana konflik yang terjadi telah mengakibatkan suatu wilayah yang berada di bawah kekuasaan Kaisar Konstantinus menjadi genting dan jika Konstantinus membiarkan kondisi tersebut, tentunya hal itu akan bisa merusak tatanan politik dan ekonomi yang telah ia bangun sebelumnya, terlebih kubu yang saling bertikai sama-sama memiliki pengikut dan pengaruh yang kuat. Dan campur tangan Konstantinus akhirnya membuahkan hasil bagi internal Kristen dan menghasilkan Pengakuan Iman yang dikenal dengan nama Kredo Nicea (Bambang Subandrijo, Yesus Sang Titik Temu Dan Titik Tengkar: Sebuah Studi Tentang Pandangan Kristen Dan Muslim Di Indonesia Mengenai Yesus, hlm. 27).
    Meski Kaisar Konstantinus telah turun tangan untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi, namun hal tersebut tidaklah menghilangkan konflik internal Kristen seutuhnya, melainkan Kristen terus mengalami konflik yang berkepanjangan hingga sampai pada akhirnya Konstantinus mengalami kematian, dan contoh yang bisa kita ambil adalah pertikaian antara gereja dan Apollinaris, misalnya. Pertikaian yang terjadi antara pihak gereja dan Apollinaris, dipicu karena adanya pandangan Apollinaris yang telah meyakini kehadiran jiwa dalam Yesus yang duniawi, dan menempatkan Logos ditempat roh manusia. Kristologi Apollinaris itu pun akhirnya ditentang oleh berbagai sinode, khususnya dalam Konsili Oikumenis II yang diselenggarakan di Konstantinopel pada tahun 381 M (Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen: Dari Abad Pertama Sampai Dengan Masa Kini, hlm. 102-106).
    Dalam menghadapi berbagai konflik di internal, gereja terlihat mengalami kewalahan dalam menghadapinya, dan tidak ada cara lain yang bisa digunakan oleh gereja, selain mengadakan pertemuan (konsili) yang berujung pada tindakan represif terhadap lawan-lawannya. Nestorius, misalnya, dalam Konsili Efesus, Nestorius akhirnya disalahkan, setelah ia diberi waktu sepuluh hari untuk menarik kembali ajarannya (Erwin W. Lutzer, hlm. 44). Namun, karena Nestorius enggan menarik ajarannya setelah habis masa tenggang yang diberikan oleh Gereja, maka di tahun 435 M, akhirnya ia pun dibuang ke gurun pasir yang berada di Mesir, dan pada tahun 451 M, Nestorius secara resmi digolongkan sebagai seorang pembelot. Meski Gereja Mesir tidak setuju dengannya adanya gagasan Nestorius, namun Gereja Mesir tetap menolak keputusan Gereja Roma yang berujung dengan adanya pertikaian antar gereja (Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, The Messianic Legacy, hlm. 143).
    Konflik Kristen tidak saja terjadi antara gereja dengan orang-orang yang dianggap bidat, melainkan secara personal pun orang-orang Kristen mengalami pertikaian dengan pihak lain, sebagaimana yang terjadi antara Irenaeus dan Gnostik, dan secara eksplisit, adanya konflik tersebut telah diungkapkan secara lugas oleh Tony Lane. Menurutnya, “Ketika Irenaeus menggunakan tulisan-tulisan para rasul serta ajaran rasuli yang diwariskan kepada gereja-gereja rasuli, sebenarnya tradisi tersebut tidak dimaksudkan untuk menambahkan pada pesan yang terkandung dalam PB, namun karena pihak Gnostisisme tidak menerima PB, maka pada akhirnya Irenaeus pun dengan terpaksa menggunakan tradisi tersebut untuk menguatkan argumentasinya” (Tony Lane, Runtut Pijar: Tokoh dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, hlm. 10-11).
    Konflik yang terjadi dalam internal Kristen, terjadi pula antar agamawan Kristen, seperti yang terjadi antara Uskup Cyprianus dengan Uskup Stefanus, di mana keduanya mengalami perselisihan dikarenakan adanya pembahasan tentang pembaptisan ulang bagi orang-orang yang berasal dari sekte Kristen yang ingin kembali kepada pangkuan Gereja Katolik. Cyprianus, seorang Uskup Karthago, berpendapat, bahwa orang seperti itu haruslah mendapatkan pembaptisan ulang, meskipun sebelumnya ia telah dibaptis oleh sekte Kristen. Namun, gagasannya tersebut ditentang oleh seorang Uskup Roma, Stefanus, menurutnya, ia tidak perlu mendapatkan pembaptisan ulang dari Gereja Katolik. Cyprianus berpendapat demikian karena adanya gagasan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan, dan para pejabat sekte yang melakukan sakramen dianggap olehnya tidak bernilai apa pun dan bahkan dianggap tidak sah. Stefanus menuntut agar Cyprianus untuk takluk kepada keputusannya bahwa otoritas tersebut berada di tangan Roma, sebagaimana yang terdapat pada Matius 16:18, bahwa Uskup Roma sajalah yang memusakai segala kuasa Petrus. Akan tetapi, Cyprianus menolak keputusannya, dan perselisihan antar keduanya baru selesai setelah Stefanus meninggal pada tahun 256 M. Meski Stefanus telah meninggal, namun pendiriannya Cyprianus masih tetap kukuh seperti sedia kala dan akhirnya ia pun mendapatkan keputusan agar menghadapi kematiannya dengan cara dipancung (H. Berkhof-I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, hlm. 36-38).
    Selang beberapa abad lamanya, kedekatan antara pihak gereja dengan kaisar mulai terlihat keretakannya ketika Paus Gregorius VII dan Kaisar Hendrik IV sama-sama saling mengklaim memiliki otoritas kekuasaan atas nama Tuhan. Demi mengalahkan rivalnya, keduanya sama-sama melakukan siasat untuk saling menjatuhkan, Paus Gregorius meminta bantuan kepada para raja yang ada di Jerman agar Kaisar Hendrik IV turun dari tahta kerajaannya, sedangkan Hendrik IV merendahkan dirinya di hadapan paus Canossa, Italia Utara, untuk mendapatkan pengampunan. Akhirnya, Gregorius VII pun mengalami kekalahan setelah Hendrik IV dinobatkan kembali sebagai kaisar oleh Paus yang diangkatnya sendiri dan berhasil pula mengalahkan Roma di tahun 1084 M. Dan kekalahan Gregorius terjadi setelah ia ditempatkan di pembuangan oleh Kaisar Hendrik IV (H. Berkhof-I.H. Enklaar, hlm 81).   
    Terjadinya kekalahan yang dialami oleh pihak gerejawi dalam melawan penguasa, tidaklah membuat konflik dalam internal Kristen menjadi berakhir. Di Perancis, telah terjadi pertikaian antara Protestan dengan Katolik. Para raja di Perancis, yang berkeyakinan Katolik, berusaha melakukan pembantaian terhadap kaum Protestan, namun mengalami kesulitan ketika Protestan mendapatkan dukungan yang kuat dari para bangsawan yang berasal dari kalangan keluarga kerajaan. Pada tahun 1562 sampai 1593 M, di Perancis telah terjadi perang saudara dan sebanyak delapan kali perang agama. Puncak penumpahan darah para penganut Protestan terjadi pada malam pesta Santo Bartholomeus, yang telah mengakibatkan 30.000 nyawa Protestan melayang, dan peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 23-24 Agustus tahun 1572 M. Dan peperangan tersebut baru berakhir setelah Raja Henry IV naik tahta Perancis, namun karena ia sendiri awalnya seorang Protestan dan menyadari bahwa seorang Protestan tidak akan diterima oleh para bangsawan Katolik, maka ia pun beralih menjadi seorang Katolik (Christiaan De Jonge, Apa itu Calvinisme?, hlm. 12-13). Tidak hanya di Perancis, di Jerman pun telah terjadi pertikaian antara pihak Protestan dengan Katolik di tahun 1540 dan awal tahun 1550-an. Di tahun tersebut, Jerman mengalami kondisi politik yang tidak stabil, yang disebabkan karena adanya konflik antara golongan Lutheran dengan Katolik Roma. Perdamaian Augsburg yang terjadi pada bulan September 1555, telah berusaha menyelesaikan konflik keagamaan di Jerman dengan cara mengalokasikan daerah-daerah tertentu kepada pihak Lutheran dan juga Katolik, yang penyelesaian konflik tersebut menggunakan prinsip cuius region, eius religio, wilayahmu menentukan agamamu (Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, hlm. 11).      
    Mengungkapkan adanya konflik dalam internal Kristen, tidaklah cukup hanya beberapa lembar, di mana konflik tersebut terus saja terjadi hingga saat ini. Namun setidaknya, uraian di atas telah membuktikan bahwa sejak masa lahirnya agama Kristen hingga meluasnya Kristen ke berbagai wilayah, ternyata selalu melahirkan konflik di mana-mana. Dan ironisnya, istilah agama kasih yang selama ini selalu digaungkan oleh orang-orang Kristen, ternyata tidak berbanding lurus dengan sejarah yang telah mereka ciptakan. Namun demikian, apakah layak Kristen dianggap sebagai agama konflik? Tentunya, anda sendirilah yang menentukan jawabannya.*/Apologethok

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik