Serangan Para Sarjana Kristen Terhadap Injil



    Setelah Georg Wilhelm Friedrich Hegel meninggal (1831 M), telah terjadi benturan hebat antara para intelektual di masa itu. David Friedrich Strauss menamakannya sebagai benturan antara ‘class’ Hegelian Kiri; (pengikut Hegel Kiri) yang bersifat non-Kristiani yang mengkritik agama Kristen, yang dipimpin oleh Bruno Bauer, Karl Marx, Arnold Ruge dan Maz Stirner, dan Hegelian Kanan; yang disebut sebagai kaum fundamentalis Kristen yang terinspirasi dari filsafat Hegel tapi mengutuk kritik radikal terhadap agama Kristen yang dilancarkan oleh David Friedrich Strauss dalam Das Leben Jesu (Kehidupan Yesus).
    Dalam karyanya tersebut, Strauss menyatakan bahwa kaum Kristen awal telah mengubah Injil dengan tradisi-tradisi setempat mereka. Hingga sekarang, buku tersebut dianggap sebagai kritik tingkat tinggi yang telah mengguncang bagan-bagan gereja, yang sekaligus telah memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kejiwaannya Karl Marx. Dari adanya buku itulah, akhirnya Strauss dipecat dari tugas mengajar filsafat Hegel di Universitas Tubingen, dan di tahun yang sama, yaitu pada tahun 1835, pihak Universitas Zurich telah melakukan pembatalan dalam memberikan gelar sebagai guru besar kepada Strauss.  
    Para ahli teologia Kristen yang merupakan pakar bahasa Yunani dan sejarah Bibel, di universitas-universitas Kristen, seperti Universitas Tubingen yang kemudian menghasilkan para sarjana, seperti F.C Baur, Schleirmacher, Hegel, Staruss, dan diikuti sarjana-sarjana di seluruh dunia Kristen. Para pengulas Bibel dari bangsa Belanda yang dianggap sebagai radikal seperti teolog Bolland dan kawan-kawannya, Rudolph Steck di Swiss, John M. Robertson dan kawan-kawannya di Inggris, William Benyamin Smith, menyatakan, berdasarkan penyelidikan ilmiah mereka, bahwa keempat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), Kisah Para Rasul, Surat-surat dan Wahyu kepada Yohanes yang membentuk Kitab Perjanjian Baru, baru muncul di sekitar dua ratus tahun setelah Yesus tidak ada di bumi dan mempunyai sejarah yang tragis.
    Mengenai pertanyaan bagaimana Injil Kristen saat ini muncul, dikatakan oleh Dr. Strauss: “Apabila kita selidiki penyaksian yang paling tua tentang munculnya Injil dan keaslian Injil yang kita pakai sekarang, maka amatlah nyata bahwa Injil-injil kita sekarang ini tidaklah dikenal sampai akhir abad kedua, dan nanti disitir oleh Bapak-bapak Gereja Irenaeus (150-202), Clemens (150-220) di Alexandria, Tertullianus (155-222) di Kartago, sebagai karangan-karangan yang berjudulkan nama-nama apostel atau murid-murid mereka. Namun demikian, pada masa itu terdapat banyak sekali Injil-injil, seperti: Injil Ibrani, Injil Mesir, Injil Petrus, Injil Bartholomeus, Injil Thomas, Injil Matias, Injil Dua Belas Rasul dan sebagainya, yang bukan saja dipakai oleh keluarga atau perkumpulan-perkumpulan yang mempercayai bidat, tetapi juga dipergunakan oleh jemaat gereja yang saleh-saleh. Namun yang diakui sebagai dasar kepercayaan Kristen pada masa ini hanyalah empat, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Kita bertanya: Mengapa harus empat, tidak lebih dan tidak pula kurang? Irenaeus menjawab pertanyaan kita: ‘Injil adalah fondasi gereja, dan gereja telah tersebar ke seluruh dunia, sedangkan dunia terdiri dari empat benua; maka patutlah bila diambil empat buah Injil. Kemudian, Injil adalah nafas kehidupan ilahi, atau nafas manusia; juga di dunia terdapat empat mata angin, maka dengan demikian, Injil juga haruslah empat. Atau Kalam (Logos, Firman) pencipta dunia mempunyai Therubim, Therubim mempunyai empat tubuh, Logos itu juga memberikan kepada kita empat buah Injil.’”
    Demikianlah keputusan Irenaeus, yang pendapatnya tersebut tidak didasari oleh akal sehat, dan tidak pula berdasarkan wahyu ilahi. Selanjutnya, Dr. Strauss menyatakan: “Pembuktian yang aneh ini menjadi dasar mengapa Irenaeus mengambil empat Injil saja, tidak lebih dan tidak kurang, amatlah sukar untuk dimengerti. Kita harus meninjau dokumen-dokumen yang paling tua tentang asal-usul Injil. Untuk Injil yang pertama, yaitu Injil Matius, kita mendapatkan keterangan dari seorang penulis sejarah gereja yang bernama Eusebius yang hidup pada saman Kaisar Konstantinus (273-337). Eusebius berkata bahwa Papias yang menjadi Uskup di Hierapolis sekitar tahun 161-180 sesudah masehi dan yang mendapatkan cerita-cerita dari Bapa-bapa gereja yang tertua tentang murid-murid Yesus, mengatakan: ‘Matius telah menulis amsal-amsal (Spruche: perkataan) dari Yesus, dan menerjemahkan secara sedikit menurut kesanggupannya. Bahwa Matius telah menulis dalam bahasa Ibrani atau lebih tepatnya lagi bahasa daerah Aramaik yang ada pada masa itu, yang dibuktikan dengan adanya petikan-petikan yang dibuat oleh Bapa-bapa gereja kemudian, dengan catatan bahwa Matius telah menulisnya di Palestina; dan Eusebius mengatakan bahwa Matius melakukannya karena ia hendak pindah dari negeri Yahudi.’”
    Hieronymous menambahkan, “Siapa yang kemudian menerjemahkan Injil dari bahasa Ibrani ini ke bahasa Yunani, tidak ada orang yang tahu. Namun, umum menganggap bahwa Injil Matius yang dikatakan oleh Papias itu sebagai Injil Matius yang asli, dan yakin Injil Matius sekarang ini sebagai asal terjemahan ke dalam bahasa Yunani. Tetapi yang sangat mengherankan ialah Papias mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Matius hanyalah amsal. Jadi, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Schleiermacher, maka tulisan-tulisan dalam bahasa Ibrani itu bukanlah merupakan sebuah Injil yang lengkap seperti yang ada sekarang ini, karena Injil yang asli yang ditulis oleh Matius itu hanya merupakan kumpulan perkataan-perkataan Yesus.” Schleiermacher menerangkan lebih lanjut tentang terjemahan yang menurut Papias dilakukan menurut kesanggupannya, bukanlah merupakan suatu terjemahan, tetapi merupakan suatu penafsiran dari perkataan-perkataan Yesus dengan menambahkan ke dalamnya tentang sejarah Yesus.
    Sedangkan terkait tentang Injil Markus, Strauss menerangkannya sebagai berikut: “Demikian pulalah Injil Markus, telah dibicarakan oleh Uskup Papias: ‘Markus juru tulis Petrus, telah menulis tentang apa yang dikatakan dan diperbuat oleh Yesus menurut ingatannya seteliti mungkin, tetapi sangat tidak teratur. Dan ia tidaklah mendengar sendiri dari Yesus, tetapi di kemudian hari, Petruslah yang memerintahkan untuk menulis khutbah-khutbah yang diceritakan Petrus berulang-ulang dan ia tidak langsung mengumpulkan khutbah-khutbah Yesus, sehingga Markus tidak mempunyai pembicaraan pokok yang dapat menjadi pegangan. Dan ia hanya menuliskannya apa yang didengarnya dari Petrus dan tidak memalsukannya….’ Menurut Irenaeus, Markus menulis Injilnya setelah Petrus dan Paulus meninggal dunia. Papias mengatakan bahwa Markus telah menulis ajaran dan perbuatan Yesus melalui ingatannya tentang ajaran Petrus, dan tidak teratur, terpotong-potong….”
    Lalu, apa pendapat saja yang telah disampaikan oleh seorang sarjana Jerman seperti halnya Strauss tentang Injil Lukas? Strauss menjelaskannya sebagai berikut: “Penyaksian tentang Injil Lukas sangatlah gelap. Uskup Papias tidak mengenalnya, tetapi menurut kata pendahuluan Injil tersebut (Injil Lukas 1:1-4) banyaklah sudah Injil-injil yang telah ditulis pada masa itu. Menurut Uskup Irenaeus, Injil itu ditulis Lukas berdasarkan Injil Markus, ia berkata: ‘Dan juga Lukas, muridnya Paulus, telah menulis sebuah kitab dari Injil Markus yang sangat ringkas itu.’ Bahwa Injil Lukas serta Kisah Para Rasul telah ditulis oleh orang yang itu-itu juga, yaitu muridnya Paulus, adalah jelas, karena kedua-duanya telah dituliskan untuk teofilus, dan ditulis dengan kata ganti nama diri ‘kami’ dan ‘kita’, yang dimaksudkannya untuk nama dirinya dan Paulus.”
    Para sarjana-sarjana modern telah sependapat dengan pandangannya Dr. Strauss bahwa ketiga Injil permulaan itu, yakni Injil Matius, Markus dan Lukas yang terkenal dengan nama Injil Sinoptik, karena persamaan rangkaian ceritanya, telah ditulis secara bersamaan dan bersumber pada Injil Markus. Sedangkan Injil Yohanes yang sama sekali bukanlah ditulis oleh Yohanes, muridnya Yesus, baru muncul setelah lama berselang, dari sumber-sumber Neoplatonis.
    Thomas Paine (1737-1809), seorang kelahiran Inggris yang dengan perantaraan Benjamin Franklin pindah ke Amerika pada tahun 1774 telah mengambil bagian dalam pembahasan Alkitab. Setelah ia pindah ke Paris, ia menulis buku yang berjudul The Age of Reason (Zaman Pemikiran), yang dimaksudkannya sebagai jalan tengah untuk menghalangi arus ateisme setelah Revolusi Perancis. Ia menyangkal keaslian Alkitab setelah mempelajari sejarah terbentuknya Injil, dan menyatakan bahwa catatan sejarah keempat Injil yang dipakai sekarang adalah hasil dari pemilihan yang asal-asalan dari berpuluh-puluh Injil yang terdapat pada zaman dahulu atas nasehat Irenaeus. Thomas menyatakan: “Pada Konsili-konsili Nicea dan Lacdokia, yang diadakan kira-kira setelah tiga ratus lima puluh tahun sesudah Yesus dikatakan lahir, kitab-kitab yang sekarang membentuk Kitab Perjanjian Baru telah diundi melalui pemungutan suara dengan “ya” dan “tidak” seperti cara kita sekarang menentukan undang-undang. Sejumlah besar tulisan telah mendapatkan suara mayoritas “tidak” dan telah ditolak. Beginilah cara timbulnya Kitab Perjanjian Baru. Demikianlah, dengan pemilihan suara, mereka memutuskan kitab-kitab mana dari koleksi mereka yang harus dianggap sebagai kata-kata Tuhan, dan mana yang tidak boleh dianggap sebagai kata-kata Tuhan….”
    Jika Strauss menyatakan adanya laporan pandangan mata yang keliru, namun lain halnya dengan Thomas Paine yang telah mengemukakan adanya laporan-laporan yang tidak historis. Misalnya, kejadian pada hari kebangkitan yang tertulis pada Injil Matius 27:52-53: “Dan kubur-kubur pun terbuka, dan beberapa mayat orang suci yang sudah wafat bangkit pula; dan keluar daripada kuburnya, maka kemudian daripada kebangkitan Yesus, masuklah mereka itu ke dalam negeri kudus, lalu kelihatan kepada banyak orang.” Matius adalah satu-satunya Injil yang mengisahkan tentang hal itu, sedangkan tiga Injil lainnya tidak menyebutkannya, sebagaimana halnya Injil Matius. Jika peristiwa itu memang benar-benar terjadi, tentunya orang-orang Yahudi telah menerima Yesus tanpa adanya keraguan sedikit pun.
    Lain halnya dengan dua tokoh di atas, Strauss dan Thomas Paine. Harold Sherman menggambarkan tentang adanya akibat dari keterlambatan para penulis Injil yang telah menulis tentang Yesus, menurutnya: “Ingatan manusia itu bercacat. Kenangan-kenangan akan peristiwa dalam setahun hanya akan tinggal lima puluh persen, sehingga tidaklah dapat dipercayai. Murid-muridnya Yesus adalah orang-orang yang buta huruf. Laporan-laporan mereka dicatat, lama setelah meninggalnya Kristus. Jelas bahwa mereka tidak memiliki catatan-catatan tertulis tentang pengalaman-pengalaman mereka dengan dia serta penyaksian mereka akan kejadian-kejadian yang mengenai diri mereka, dianggap telah mewarnai oleh perbedaan-perbedaan pendirian dan pengamatan. Karena Kristus sendiri tidak meninggalkan catatan-catatan tertulis, maka mereka yang kemudian menulis kitab-kitab Bibel, tergantung seluruhnya dari ingatan-ingatan yang disampaikan dari mulut ke mulut, generasi demi generasi, malah telah jauh keluar dari kebenaran dan kesaksamaan dari apa yang sebenarnya telah terjadi.”
    Pembuktian kaum sarjana hanyalah berkutat pada keaslian Injil dan pemalsuan serta penyisipan manusia terhadap wahyu Tuhan. Penyelidikan-penyelidikan tersebut, yang dilakukan oleh para teolog-teolog Kristen, telah membuktikan adanya ketidakaslian Injil saat ini. Sementara itu, Prof. G.J.P. Bolland telah memberikan pernyataan tentang adanya perubahan besar yang terjadi pada Injil, menurutnya: “Suatu penyesuaian naskah-naskah kanon dengan kutipan-kutipan atau daftar tulisan suci yang diakui sah, menunjukkan kepada kita bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita telah mengalami perubahan besar.”   
    Keyakinan Bolland di atas, bukanlah tanpa alasan, karena pandangannya tersebut memiliki keselarasan dengan pendapatnya Sarapion dari Antiokhia, seorang uksup yang hidup pada akhir abad kedua sesudah masehi, dalam sepucuk suratnya kepada umat Kristen di Rhossos, Kilikia, yaitu: “Kami frater-frater menganggap Petrus dan Rasul-rasul adalah seperti Kristus sendiri, namun tulisan-tulisan yang dipalsukan dan disebarkan atas nama mereka, yang kami temui, kami buang, karena kami mengetahui bahwa yang demikian itu bukanlah yang diajarkan.”
    Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa dari para pendapat teolog di atas, ternyata Alkitab bukanlah catatan yang didapatkan dari saksi mata, tetapi sebaliknya bahwa Alkitab baru ada setelah selang beberapa waktu lamanya. Meski para penulisnya bukanlah saksi mata, yang hanya menulis sesuai dengan ingatannya tanpa pernah menggunakan metode lain yang mampu membuktikan bahwa apa yang telah dituliskannya itu adalah benar dan sesuai dengan fakta sejarah, para penulisnya pun hanya mencocok-cocokkan dengan tulisan-tulisan lainnya yang dinilai sesuai dengan keimanan Kristen kala itu. Oleh karena itu, maka sudah selayaknya Kitab Perjanjian Baru untuk tidak diyakini sebagai Firman Tuhan, karena apa yang ada di dalamnya pasti akan didapati ayat-ayat yang penuh dengan sisipan dan juga kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya.*/Apologethok

Sumber: Hashem, O. 2018. Marxisme: Asal-Usul Ateisme Dan Penolakan Kapitalisme. Bandung: Nuansa Cendekia. 

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik