Buku-Buku yang diterbitkan AWF

Buku-buku yang Kristologi yang diterbitkan AWF bisa didapatkan disini, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Kristologi.

Kajian Kristologi

AWF bekerjasama dengan berbagai pihak memberi kajian kristologi di beberapa tempat untuk meneguhkan aqidah umat Islam

Kursus Kristologi Dasar

Kursus Kristologi Dasar (KKD) sering diadakan secara berkesinambungan untuk memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar Kristologi baik di kampus AWF maupun di pondok Pesantren

Pendekatan Persuasif

Pendekatan dan kerjasama AWF dengan berbagai elemen masyarakat untuk meneguhkan Aqidah umay Islam

Kunjungan AWF

Berbagai kunjungan dan kajian AWF diberbagai daerah untuk memberikan kajian dan kursus Kristologi, baik di Masjid-masjid maupun di Pondok Pesantren

Membongkar Peristiwa Yang Pernah Dirahasiakan Oleh Katolik



    Siapapun bisa tersentak hatinya dan akan mengerut keningnya ketika mengetahui berbagai sikap sadis dan amoralnya paus dalam sejarah kepausan. Ada beberapa peristiwa yang pernah menjadi rahasia di kalangan Katolik Barat, namun akhirnya terbongkar. Seperti apa perjalanan Paus dalam panggung sejarah Kekristenan? Dan peristiwa paus apa saja yang pernah dirahasiakan oleh Katolik, namun akhirnya terbongkar oleh tinta sejarah yang telah ditorehkan oleh Protestan?

Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad



Pendahuluan
    Keberhasilan dakwah Rasulullah ﷺ tidaklah didapati dengan cara yang mudah dan tidak pula mengandalkan mukjizatnya dalam mengalahkan musuh-musuhnya, dan keberhasilan Nabi Muhammad ﷺ dalam dakwah, itu semua dilalui dengan kerja keras beliau dalam menyampaikan Islam kepada siapapun, meski harus mengalami berbagai tudingan dan fitnahan hingga mendapatkan gangguan secara fisik dari orang-orang yang menentang dakwahnya. Tanpa adanya keberhasilan dakawah yang diraih oleh Nabi Muhammad , tentunya Islam tidaklah akan menyebar hingga saat ini. Namun ironisnya, ketika Nabi Muhammad harus berperang demi mencapai kedamaian dan kemenangan, Kristen yang mendominasi Barat, telah menciptakan stigma yang negatif terhadap Islam, bahwa Islam adalah agama pedang yang telah menyucikan kekerasan dan tidak mengenal toleransi, meskipun orang-orang Kristen sejak Abad Pertengahan selalu diwarnai dengan berbagai peperangan dan pembunuhan.
 
Berbagai Respons Terhadap Dakwah Nabi Muhammad ﷺ
    Di masa periode Mekkah, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan tugas dari Allah agar ajaran yang diterima oleh beliau untuk disampaikan kepada umat manusia, di mana tantangan dakwah Nabi Muhammad ﷺ dimulai dari masyarakat Arab Mekkah sebagai audiens awal yang terkenal dengan tradisi ashabiyahnya, terutama ashabiyah yang didasarkan pada keluarga dekatnya. Menurut Darwazah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Aksin Wijaya, bahwa ada tiga bentuk respon dari mereka terhadap dakwah yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, yaitu:
I. Kelompok yang menerima dakwah kenabian Muhammad ﷺ dan masuk Islam, tetapi jumlahnya sedikit, yang berasal dari keluarga dekatnya, seperti Siti Khadijah, Ali bin Abi Thalib yang berusia 10 tahun dan para pembesar Arab Quraisy seperti Abu Bakar, Zaid bin Harits, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bi  Jarrah, Arqam bin Abi Arqam, Usman bin Maz’un, Ubaidillah bin Harits bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf, Sa’id bin Zaid, Khabbab bin al-Art, Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Shuhaib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Umar bin Khathab, dan beberapa orang yang berasal dari kelompok mustad’afin.
II. Individu yang tidak menerima dakwah beliau, tetapi membela dakwahnya, yakni Abu Thalib. Setelah Nabi Muhammad ﷺ berdakwah secara terang-terangan dan mulai melakukan penentangan terhadap berhala-berhala yang disembah oleh masyarakat Quraisy, akhirnya masyarakat Quraisy pun mendatangi Abu Thalib dan meminta agar Rasulullah ﷺ untuk segera berhenti menyerang Tuhan mereka. Namun, Abu Thalib menolak secara halus permintaan mereka, tetapi setelah Abu Thalib berkali-kali didatangi oleh mereka, akhirnya ia pun meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk menghentikan dakwahnya tersebut. Mendapat permintaan dari pamannya seperti itu, akhirnya Nabi Muhammad ﷺ pun menjawabnya dengan sumpah, “Wahai Pamanku, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar saya menghentikan dakwah agama yang datang dari Allah ini, demi Allah, saya tidak akan meninggalkannya.” Mendapat jawaban yang meyakinkan dari keponakannya tersebut, maka Abu Thalib pun mempersilahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk melakukan dakwahnya dan memberikan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ, meskipun ia sendiri tidak masuk Islam hingga akhir hayatnya.
III. Kelompok yang menolak dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan sekaligus memusuhinya. Mereka itu berasal dari keluarga dan kerabat dekat beliau, terutama dari suku Quraisy. Di antara suku Quraisy yang memusuhi Nabi Muhammad ﷺ adalah: pertama, Makhzum: Abu Jahal, Walid bin Mughirah, Abdullah bin Abi Umayyah, Zabir bin Abi Umayyah, Sa’ib bin Abi al-Sa’ib, Aswad bin Abdul A’sad bin Hilal, Hubairah bin Abi Wahab, Abu Qais bin Fakah bin Mughirah. Kedua, Abdul Syam: Abu Ahihah Sa’id bin al-‘Ash, Uqbah bin Abi Mu’ith, Abu Sofyan bin Harb, Hakam bin Abi al-‘Ash, Utbah bin Robi’ah dan Syaibah bin Robi’ah. Ketiga, Sahm: Harits bin Qais, al-‘Ash bin Wa’il, Munabbah bin al-Hujjaj, Nabih bin al-Hujjaj. Keempat, Naufal: Muth’am bin Adi, Tha’imah bin ‘Adi, Harith bin’Amir Naufal. Kelima, Jumah: Umayyah bin Khalaf dan Ubay bin Khalaf. Keenam, Asad bin ‘Abdi al-‘Azzi: Abu Bukhtari al-‘Ash bin Hisyam, Aswad bin Muththalib. Ketujuh, Abdu al-Dar bin Qussyai: Nadhlir bin Harith. Kedelapan, Zuhrah bin Kullab: Aswad bin Abdi Yaghuth bin Wahab. Kesembilan, Hasyim: Abu Lahab. Kesepuluh, Muththalab: Rikanah bin Yazid. Kesebelas, Khaza’ah: Malik bin Tsalatsalah dan ‘Adi bin Hamra’. Kedua belas, Hudzail: Ibnu al-Ashda’.
    Selanjutnya, Darwazah pun menjelaskan, bahwa yang paling banyak memusuhi dakwah kenabian Muhammad berasal dari keluarganya Makhzum dan Abdul Syam. Secara sosial-ekonomi, menurut Darwazah, mereka pada umumnya berasal dari orang-orang kaya dan sebagai pembesar masing-masing keluarga, kecuali Utbah bin Rabi’ah. Dan dari segi motif, ungkap Darwazah, mereka memusuhi Nabi Muhammad ﷺ tidak semata-mata karena didasari oleh motif keyakinan dan keagamaan, melainkan karena adanya motif permasalahan sosial-ekonomi.
    Adanya gagasan Darwazah di atas, yang menyatakan bahwa permasalahan sosial-ekonomi merupakan salah satu penyebab lahirnya permusuhan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ, merupakan sebuah realitas yang didukung dengan bukti sejarah, di mana argumentasinya tersebut memiliki keselarasan dengan pandangan yang dikemukakan oleh seorang orientalis, yaitu Montgomery Watt, yang menyatakan, “Mecca was more than a mere trading centre, it was a financial centre. Scholars as a whole may not be quite so certain about details appears to he, but it is clear that financial operations of considerable complexity were carried on at Mecca. The leading men at Mecca in Mohammad time were above all financiers, skiful in the manipulation of credit, shrewed in their speculations, and interested in an potentialities of lucrative investment from Aden to Gaza or Damascus. In the financial net that they had woven not merely were all the in habitants of Mecca caught. But many notables of the surrounding tribes also. The Quran appeared not in the athmospere of the desert but in that of high finance.” Dari apa yang telah dikemukakan oleh W. Montgomery Watt tersebut menunjukkan bahwa kawasan Mekkah merupakan kota penting pada jalur perdagangan internasional. Dengan demikian, kota Mekkah bukanlah kota kecil yang sepi, yang jauh dari keramaian dan kesibukan dunia. Namun, Mekkah merupakan kota yang ramai dan makmur, yang hampir menguasai pusat perdagangan antara kawasan lautan India dan lautan Tengah, di mana hal tersebut didukung dengan beberapa fakta historis. Pertama, realita yang menunjukkan bahwa Mekkah telah sejak lama dijadikan sebagai tempat peristirahatan para kafilah, baik yang datang dari Yaman menuju Palestina maupun sebaliknya. Kedua, di Mekkah terdapat sumber mata air yang tidak pernah kenal kering, yakni sumber yang berasal dari mata air zam-zam. Ketiga, menjadi pusat lintas perdagangan ke Suriah, Yaman, Thaif, dan Najd.

Tantangan Dan Keberhasilan Nabi Muhammad ﷺ
    Di Mekkah, Rasulullah ﷺ mendapatkan pertentangan yang sengit dari para penduduknya, terutama dari kelompok oligarki yang menguasai kehidupan kota tersebut. Ketika keyakinan penduduk Mekah merasa terguncang dengan hadirnya dakwah Nabi Muhammad ﷺ yang membersihkan keyakinan syirik penduduk Mekkah, mereka pun mengkhawatirkan pula kepentingan-kepentingan dagang mereka yang merasa terancam oleh adanya ajaran beliau yang menekankan adanya keadilan sosial, yang semakin lama semakin menjurus terhadap kutukannya kepada riba dan desakannya mengenai zakat. Maka, untuk meredam dan menghentikan dakwahnya tersebut, akhirnya mereka pun melontarkan berbagi macam tuduhan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau adalah orang yang kesurupan, seorang penyihir, dan juga gila. Tidak hanya itu, semakin hari permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad ﷺ pun semakin keras, dari kemarahan menjadi cemoohan, dari cemoohan menjadi fitnahan dan sumpah serapah. Menurut Ibnu Ishaq, ketika Rasulullah ﷺ menampakkan Islam secara terbuka kepada kaumnya, dan menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan, orang-orang Quraisy belumlah mengutuk beliau dan belum pula memberikan reaksi apa pun. Namun, pada saat beliau menyebut sesembahannya mereka dan menjelaskan tentang adanya kebatilan dalam mengagungkan berhala, maka di saat itulah mereka menganggap bahwa hal tersebut sebagai masalah yang besar dan sepakat untuk melakukan penentangan kepada Rasulullah ﷺ.
    Quraisy Shihab menuturkan, ketika Bani Hasyim memutuskan untuk memberi perlindungan kepada Nabi Muhammad ﷺ, kecuali Abu Lahab, akhirnya orang-orang Quraisy pun melobi berbagai suku untuk secara bersama-sama menentang sikap Bani Hasyim tersebut, yang pada akhirnya mereka melakukan pemboikotan yang tidak saja terjadi terhadap Bani Hasyim, melainkan berimbas pula pada Bani Muththalib. Para tokoh musyrik Mekkah yang melakukan pemboikotan telah menulis piagam yang berisikan tentang kesepakatan pelarangan untuk berinteraksi dengan Nabi dan semua orang yang tidak memihak kepada kaum musyrik Mekkah. Adapun kesepakatannya adalah sebagai berikut: “Tidak ada bantu-membantu, tidak ada jual-beli, tidak juga kawin-mawin. Tidak ada damai sampai pendukung-pendukung Nabi Muhammad bersedia menyerahkan beliau secara sukarela untuk dicegah berdakwah atau dibunuh.” Dalam menghadapi adanya pemboikotan dan blokade ekonomi, ungkap Qusraisy Shihab, semua keluarga Hasyim dan Muththalib akhirnya bersatu padu melakukan perlawanan terhadap orang-orang Quraisy. Orang-orang yang percaya kepada Nabi Muhammad ﷺ merasa bahwa mereka memiliki kewajiban untuk membela beliau, yang hidup senasib dan sepenanggungan dengan Nabi ﷺ atas dorongan imannya, sedangkan bagi mereka yang tidak percaya hanya melakukan perlawanan atas dasar solidaritas kekeluargaan. Setelah pemboikotan tersebut berlalu selama tiga tahun, riwayat lain ada yang menyatakan dua tahun, akhirnya ada di antara tokoh-tokoh musyrik yang merasa bahwa pemboikotan itu telah melampaui batas perikemanusiaan. Hisyam ibn Amr ibn Rabiah adalah orang pertama yang memiliki inisiatif untuk membatalkan isi piagam tersebut, dan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan Hisyam untuk melakukan pembatalan terhadap piagam tersebut adalah Zuhair ibn Umayyah al-Makhzumi, Muth’im ibn Uday, Abu Bukhturi ibn Hisyam, dan Zam’ah ibn Aswad.
    Ketika Abu Thalib telah meninggal dunia, kepemimpinan Bani Hasyim akhirnya dipegang oleh Abu Lahab, dan sejak saat itu tindakan yang mengarah kepada gangguan fisik mulai dilancarkan terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Ketika permusuhan dari Quraisy meningkat, maka secara terpaksa Nabi Muhammad ﷺ memutuskan diri untuk pergi ke Thaif. Namun, di sana beliau diusir oleh penduduk Thaif dan melemparinya dengan batu, hingga kepala dan badannya pun terluka. Terkait tentang gangguan fisik yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ dan juga para sahabat lainnya, Karen Armstrong mengisahkannya sebagai berikut: “Tetangga-tetangganya mulai melakukan gangguan-gangguan kotor dengan usus domba. Mereka memukulkan obyek menjijikkan ini kepada Muhammad ketika dia tengah melakukan sholat. Seseorang, bahkan memasukkan usus domba itu ke dalam kuali masak keluarga. Suatu hari, ketika Muhammad tengah berjalan-jalan di kota, seorang anak muda Quraisy melemparkan kotoran kepadanya. Anak perempuannya (Siti Fathimah) menangis ketika dia sampai di rumah dalam keadaan kotor dan terus menangis sementara ayahnya berbasuh. “Jangan menangis, gadis kecilku,” Muhammad menenangkannya, “Karena Tuhan akan melindungi ayahmu.” Namun ditambahkannya bagi dirinya sendiri: “Quraisy tidak pernah memperlakukan aku seburuk ini ketika Abu Thalib masih hidup. Kelemahan Muhammad ini mempengaruhi posisi orang Muslim yang lain. Abu Bakar, misalnya, benar-benar dihancurkan oleh larangan: modalnya berkurang dari 400 ribu menjadi tinggal 5 ribu dirham. Dia tinggal di distrik klan Jumah, dan sejak dia masuk Islam, hubungannya dengan kepala suku sangat buruk. Kepala suku yang sudah tua dan gemuk, Ummayyah bin Khalaf, dulu ia suka menjemur budaknya, Bilal, di terik matahari, yaitu di masa awal penyiksaan. Kini, dia merasa dapat melakukannya kepada Abu Bakar, seorang saudagar yang dihormati. Dia mengikat Abu Bakar dan saudara sepupunya, Thalhah, bersama-sama dan membiarkan mereka kepanasan dalam posisi yang sulit ini. Ini menunjukkan bahwa klan mereka, Taim, tidak lagi bersedia atau dapat melindungi Abu Bakar.”   
    Tidak saja Bilal dan Abu Bakar yang telah mendapatkan penganiayaan dari orang-orang Quraisy, kekerasan lainnya pun dirasakan pula oleh ‘Ammar bin Yasir, di mana ia sendiri tidak memililiki suku yang berpengaruh dalam melindungi dirinya dari penganiayaan yang tengah dilancarkan oleh orang-orang Quraisy. ‘Ammar telah dipaksa untuk berbaring di atas pasir yang panas dan mendapatkan penyiksaan hingga pingsan, dan terkadang ia pun dilemparkan di atas bara api. Tidak hanya ‘Ammar saja yang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi tersebut, Yasir, ayahnya ‘Ammar dan Summayah, ibunya ‘Ammar, ikut pula mendapatkan penyiksaan dari orang-orang Quraisy. Kebiadaban tidak terbatas saja didapatkan pada orang-orang yang tidak berdaya seperti halnya Suhaib, Abu Fukaiha, Yasir, dan Ammar, tetapi juga pada orang-orang merdeka yang berketurunan mulia dan juga para pemimpinnya pun ikut menjadi korban kebiadaban orang-orang Quraisy, sebagaimana halnya yang dialami oleh Utsman bin Affan, di mana ia sendiri telah diperlakukan secara brutal oleh pamannya.   
    Salah satu kesuksesan dakwah yang diperoleh oleh Nabi Muhammad ﷺ di Mekah adalah bahwa beliau tidak hanya mendapatkan pengikut dari keluarganya sendiri, melainkan mendapatkan pula pengikut yang berasal dari lapisan bawah, kaum bangsawan dan orang-orang yang disegani oleh masyarakat Quraisy, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan juga Utsman bin Affan. Mereka adalah orang-orang yang taat dan patuh kepada Allah dan Rasulullah ﷺ, yang memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam memohon kepada Tuhan Yang Maha Kaya, serta rela mengorbankan apapun demi Islam hingga memandang ringan sebuah kematian. Kemenangan non-material yang mereka dapatkan, telah menjadi peringatan bagi siapapun yang merasa gagah berani, mampu, dan kaya agar mereka segera bertaubat karena orang-orang miskin dan lemah bisa mendapatkan kemenangan dan mampu menaklukkan orang-orang yang gagah perkasa dan kuat sekalipun. Namun, bagaimana dengan rintangan dan perjuangan dakwah Nabi Muhammad ﷺ ketika di Madinah?
    Jika Mekkah memiliki penduduk yang bersuku-suku dengan keyakinannya yang masih bersifat homogen, namun lain halnya dengan Madinah, meski penduduknya bersuku-suku, namun keyakinannya para penduduknya heterogen. Sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, menurut Fred M. Donner, sekelompok kecil di Yastrib telah mencari Rasulullah ﷺ dan meminta beliau agar menyatukan dan memimpin kota mereka. Tahun selanjutnya, ungkap Donner, kelompok besar bertemu dengan Nabi ﷺ dan mengundang beliau untuk datang ke Yastrib dengan para pendukungnya di Mekkah. Tidak lama setelah itu, pada tahun 622 M, Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya yang berasal dari Mekkah akhirnya hijrah ke Yastrib. Adanya undangan yang didapatkan oleh Rasulullah ﷺ untuk hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak bisa terlepas dari adanya keberhasilan dakwah beliau yang secara terus-menerus dilakukan, di mana dakwah yang beliau sampaikan ternyata telah berhasil mendapatkan pengikut dari luar kota Mekkah, yaitu orang-orang Yastrib, di mana enam orang Yastrib yang telah memeluk Islam bersumpah untuk tidak menyekutukan apapun dengan Allah dan juga tidak berzinah, mencuri, ataupun membunuh anak-anak mereka, dan patuh kepada Nabi ﷺ di dalam segala hal yang baik. Dalam sejarah Islam, janji tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Aqabah Pertama.
    Menurut penulis, kesuksesan dakwah Nabi Muhammad ﷺ itu semua disebabkan karena adanya kemuliaan akhlak beliau yang dibarengi dengan intelektualitas diri yang melebihi manusia pada umumnya, termasuk pula melebihi orang-orang Yahudi dan Kristen di Madinah, karena suatu hal yang tidak mungkin seseorang dijadikan sebagai tempat untuk meminta saran dan bahkan dipercaya menjadi penengah dari adanya konflik yang telah lama terjadi, jika orang tersebut dikenal sebagai orang yang memiliki perangai dan intelektual yang buruk. Pengakuan penduduk Madinah terhadap kredibilitas dan kualitas kepribadian Nabi ﷺ, itu semua dibuktikan dengan terjadinya kesepakatan politis, yakni Piagam Madinah. Oleh karena itu, maka tidak mengherankan jika pihak Barat, semisal Savari, ia tidak saja mengakui kenabian Muhammad, melainkan mengakui pula keintelektualannya beliau. Dan, jauh sebelum Savari mengakui hal tersebut, dalam Piagam Madinah orang-orang Yahudi di masa Rasulullah ﷺ telah mengakui bahwa beliau adalah utusan Allah, sebagaimana yang terdapat pada Piagam Madinah pada pasal 47. Terkait tentang sikap oportunisnya orang-orang Yahudi yang menerima isi Piagam Madinah, di mana dalam perjanjian tersebut berisi tentang pernyataan tertulis bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Martin Lings memberikan komentarnya sebagai berikut: “Tidak ada pernyataan terbuka bahwa Yahudi harus mengakui secara resmi bahwa Muhammad adalah nabi dan utusan Allah, meskipun dalam seluruh dokumen beliau dinyatakan sebagai nabi atau rasul. Kaum Yahudi menerima perjanjian ini karena alasan politis.”
    Ketika di Madinah, Nabi Muhammad ﷺ melakukan tiga hal yang disebut al-Buty sebagai asas-asas penting untuk berdirinya Negara Madinah: mendirikan masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian politik umat Islam dengan kaum Yahudi, yang perjanjian tersebut dikenal dengan istilah Piagam Madinah. Dari adanya keberhasilan beliau tersebut, terdapat orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad ﷺ hanya bermaksud untuk mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia. Pendapat tersebut tentu saja sangat keliru, karena sejak di Mekkah beliau telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia, di mana hal tersebut terbukti dengan adanya Surat Al-‘Araf ayat 158, yang ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang berada di Mekkah. Sepanjang yang penulis ketahui, semua para ulama sepakat bahwa Surat Al-‘Araf turun di Mekkah, dan menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Abu asy-Syekh Ibnu Hayyan, sebagaimana yang dikutip oleh Jalaluddin Asy-Suyuthi, dinyatakan bahwa hanya ayat 163 hingga ayat 172 tidaklah termasuk ayat-ayat yang turun di Mekkah.
    Meskipun beliau mendapatkan ketenangan di Madinah dan menjadi orang yang dihormati serta disegani oleh orang-orang kafir, namun rintangan dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Madinah tidaklah sirna. Hal itu terjadi, karena watak bangsa Yahudi yang tidak mau tunduk pada bangsa lain dan kegemarannya membunuh para nabi pun muncul kembali, akhirnya rencana jahat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ pun disusun. Berkat wahyu yang diterima, Nabi ﷺ pun selamat dari makar yang mereka buat dan mengakibatkan terjadinya pengusiran terhadap Yahudi Bani Nadhir dari Madinah. Bahkan, semenjak beliau berada di Madinah, peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan pihak kafir kerap kali terjadi, dan menurut Bruce Lawrence, beliau telah menghadapi 38 kali pertarungan, di mana 25 di antaranya telah dipimpin langsung oleh beliau. Di sini kita bisa menilai, bahwa Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang termasuk suka berpangku tangan dalam melakukan dakwah, bahkan dalam menghadapi musuh sekali pun beliau sendiri ikut berperang dengan para sahabat lainnya, tanpa mengandalkan mukjizat yang beliau miliki.  

Kesimpulan
    Dalam Surat Al-Kahfi ayat 110, secara eksplisit, dinyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hanyalah seorang manusia sama halnya seperti kita. Di kampung halamannya sendiri, beliau telah mendapatkan berbagai perlakuan yang menyesakkan dada karena berbagai fitnahan dan serangan fisik yang beliau dapati, baik dari kaum kerabatnya sendiri maupun dari penduduk sekitarnya. Dan semenjak Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, perlahan namun pasti, akhirnya beliau mendapatkan kesuksesan yang sangat gemilang. Terkait tentang pandangan Barat terhadap keberhasilan yang diperoleh Nabi Muhammad ﷺ tersebut, tentunya ungkapan yang disampaikan oleh Karen Armstrong ini setidaknya mewakili pemikiran Barat terhadap Nabi Muhammad ﷺ, menurutnya, “Inilah yang selalu sulit diterima dan dipercaya oleh Barat Kristen. Muhammad menjadi pemimpin politik yang cerdas dan kharismatik yang bukan saja mengubah Arab, tetapi juga sejarah dunia. Namun justru karena itu, para kritikusnya di Eropa menggambarkannya sebagai seorang penipu yang menggunakan agama sebagai alat kekuasaan. Karena dunia Kristen didominasi oleh bayangan penyaliban Yesus, yang mengatakan bahwa kerajaannya bukanlah di dunia, kita cenderung melihat kegagalan dan penghinaan sebagai tanda resmi pemimpin keagamaan. Kita tidak mengharapkan para pahlawan agama kita mencapai keberhasilan yang mengagumkan dalam kerangka duniawi.”

DIBONGKAR : Bukti Kebohongan Publik Yang Dibuat Kristen




Menurut B.K. Kuiper, kepausan telah dibantu oleh usaha-usaha persekongkolan orang-orang yang berhasil memperkuat posisi dan otoritas kepausan melalui kebohongan dan kecurangan. Dalam menguatkan argumentasinya tersebut, Kuiper telah memberikan dua contoh dalam membuktikan adanya kebohongan yang dibuat agar Paus memiliki legalitas dalam kekuasaannya, seperti:

1. Sekitar zaman Charlemagne, muncul sebuah dokumen yang disebut "Sumbangan Konstantinus". Dokumen itu menceritakan bahwa Kaisar Konstantinus, sebagai penghargaan terhadap Paus, memutuskan untuk memindahkan tempat tinggalnya dari Roma ke Byzantium di Bosporus, kota yang kemudian disebut dengan Konstantinopel. Tujuannya dalam hal ini adalah supaya pemerintah kaisar yang sekuler tidak dapat mengendalikan pemerintahan Paus yang bersifat rohani.

Pada saat meninggalkan Roma, menurut dokumen ini, Konstantinus memerintahkan semua pejabat pemerintah yang ada di dalam gereja untuk tunduk pada Paus Sylvester I dan kepada para penggantinya di tahta kepausan. Selanjutnya, ia menyerahkan kota Roma dan semua provinsi, distrik, dan kota-kota di Italia dan di daerah-daerah sebelah barat kepada para Paus. Dengan demikian, menurut dokumen ini, Konstantinus telah mengaruniakan kedaulatan atas setengah kekaisaran di bagian barat kepada para Paus.

2. Pada abad pertengahan, tepatnya di abad ke-9 M, muncul dokumen kedua yang misterius, yang disebut sebagai dokumen "Keputusan-keputusan Isidorian (Isidorian Decretals)", dokumen tersebut disebut demikian karena dokumen tersebut telah dikumpulkan di Isidore dari Seville. Dokumen itu terdiri dari keputusan-keputusan para Paus dan konsili-konsili dari sejak Klemens di Roma pada abad pertama sampai Gregorius II pada abad ke-8 M. Uskup-uskup tersebut, menurut dokumen ini, dapat naik banding langsung pada Paus, baik Paus maupun Uskup-uskup tidak tunduk pada kekuasaan pemerintah yang sekuler. Dan "Sumbangan Konstantinus" telah dimasukkan ke dalam keputusan ini.

Seluruh sistem hierarkhikal (serangkaian pemimpin, masing-masing harus tunduk yang secara otomatis pada pemimpin yang ada di atasnya), menurut Kuiper, adalah hasil dari suatu perkembangan yang luas selama beberapa abad lamanya. Tetapi dokumen Isidorian Decretals, ungkap Kuiper, telah menunjukkan sistem ini sebagai sesuatu yang utuh dan tidak berubah dari permulaan, di mana tujuan dokumen tersebut untuk menunjukkan bahwa semua hak yang diakui oleh para Paus pada abad ke-9 M, telah dijalankan oleh mereka dari masa-masa yang paling awal.

Selama ratusan tahun lamanya, dokumen-dokumen tersebut telah diterima dan dipandang sebagai dokumen yang asli. Namun menurut Kuiper, pada tahun 1433 M, Nicholas de Cusa, adalah orang pertama yang menyatakan bahwa dekrit tersebut adalah palsu. Selain itu, dokumen-dokumen ini mulai disebut "Pseudo-Isidorian Decretals", dan pada tahun 1440 M, Lorenzo Vall pun membuktikan pula bahwa "Sumbangan Konstantinus" adalah dokumen palsu. Dari adanya penelitian tersebut, akhirnya para sarjana Katolik setuju dengan sarjana Protestan bahwa kedua dokumen tersebut sama-sama palsu. Dokumen-dokumen fiktif, sebagaimana kedua dokumen tersebut, bukanlah hal yang baru. Tetapi kedua dokumen ini ada di antara berbagai kecurangan yang sangat besar yang pernah dilakukan. Ketika dokumen-dokumen tersebut disusupkan dan diklaim sebagai dokumen yang asli di sepanjang Abad Pertengahan, dokumen tersebut telah memberikan kesempatan yang cukup besar bagi kepausan untuk memperkuat diri dan melakukan penyerobotan.

Kisah di atas merupakan sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Kristen Katolik demi mendapatkan legalitas kekuasaan dihadapan orang-orang Kristen lainnya, lalu bagaimana dengan kebohongan publik lainnya yang telah dibuat oleh Kristen? Richard Fletcher, telah mengungkapkan adanya kebohongan yang dilakukan oleh para penyair Kristen ketika mereka mendaur-ulang syair Chanson de Roland. Menurut Richard, dalam syair epik Prancis kuno yang disebut Chanson de Roland, manuskrip tersebut berisi tentang berbagai syair yang menggunakan bahasa Prancis bagian Selatan, yang berasal dari abad ke-11 M.

Menurutnya, syair tersebut mendapatkan pedomannya dari peristiwa sejarah, yaitu adanya kekalahan yang dialami oleh pasukan pengawal tentara Charles Magnus, di bawah komando Roland, di jalur Roncesvalles Pyrenea pada tahun 778 M, di tangan Basque lokal. Richard mengungkapkan lebih lanjut, bahwa para penyair yang mengarang kembali sejarah tersebut telah mengubahnya. Musuh yang ada diubah menjadi orang Muslim Spanyol, pengkhianatan menjadi titik balik plotnya, sedangkan Roland dikisahkan sebagai figur yang heroik, di mana pertempuran di Roncesvalles yang dianggap tidak penting pun pada akhirnya dimasukkan sebagai pertempuran hebat antara orang Kristen dan lawan-lawannya, yang lawannya tersebut dikisahkan sebagai para penyembah berhala, yang bernama Mahoun, Apollyon dan Tervagant. Secara mencolok, syair tersebut telah menyatakan   bahwa penyembah berhala adalah pihak yang salah, sedangkan orang Kristen adalah berada di pihak yang benar.*/Sang Misionaris



Dikutip dari:
Fletcher, Richard. The Cross and The Crescent: Riwayat Tentang Perjumpaan Awal Umat Islam dan Kristen. Terj., Abdul Malik. Tangerang: Alvabet, 2007. Hal. 86-87.

Kuiper, B.K. The Church in History. Terj., Desy Sianipar. Malang: Gandum Mas, 2010. Hal. 83-84.

Benarkah Kebangkitan Yesus Sesuai Dengan Fakta Sejarah?


   
    Salah satu pokok yang hangat diperdebatkan oleh para ahli Perjanjian Baru adalah tentang kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi perdebatan karena ada pihak Kristen yang tidak bisa mengabaikan kebangkitan Yesus. Namun sementara itu, para sarjana yag melakukan studi-studi tentang kebangkitan Yesus memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengakui kebangkitan sebagai peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia, tetapi ada pula yang tidak. Adanya perbedaan tersebut sering kali menimbulkan persoalan di kalangan Kristen karena perbedaan interpretasi terhadap kebangkitan itu sendiri. Yang menjadi persoalannya adalah apakah Yesus benar-benar telah dibangkitkan dari antara orang mati?
    Menjawab pertanyaan itu, para ahli Perjanjian Baru memberikan jawaban yang berbeda-beda. Conzelman dalam karyanya, Theology of Saint Luke, berpendapat, bahwa kebangkitan tidak dapat dibuktikan sebagai suatu peristiwa historis. Menurutnya, unsur yang menonjol di dalam peristiwa kebangkitan adalah unsur iman. Kebangkitan hanya dapat dilihat dari sudut iman bukan berdasarkan bukti historis. Jadi, kebangkitan hanya diakui dalam iman ketika Injil diberitakan.
    Sedangkan menurut Willi Marxsen, dalam karyanya, The Resurection of Jesus of Nazareth, berpendapat bahwa kepercayaan akan kebangkitan Yesus tidak berbeda sama sekali dari apa yang Yesus ajarkan. Ajaran Yesus, hidup sekarang untuk membawa orang kepada iman. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sejauh mana percaya pada ajaran Yesus, imannya kepada kebangkitan tidak dapat dikurangi oleh hasil suatu penafsiran. Oleh karena itu, iman kepada Yesus dan kebangkitannya harus dilihat sebagai bagian dari kebangkitan itu sendiri. Dalam mengamati laporan Injil-injil. Marxsen menyatakan bahwa Injil Matius tidak bermaksud menyampaikan suatu laporan mengenai buktik historis tentang kebangkitan Yesus, sebab hal itu bukan maksudnya. Maksud Matius hanyalah menunjukkan kehadiran Yesus kepada murid-muridnya. Matius tidak memusatkan perhatiannya kepada iman kebangkitan, tetapi ia menunjukkan bahwa iman kepada Yesus sangat penting bagi semua pengikutnya. Itulah iman yang murid-murid miliki ketika ia masih bersama mereka. Iman itu berakhir ketika ia mati.
    Marxsen sendiri tidak percaya bahwa Yesus bangkit meninggalkan kuburnya yang kosong. Menurut Marxsen, kematian Yesus menandai berakhirnya keberadaan fisik Yesus secara manusiawi. Tubuh Yesus berakhir dengan kematian, tetapi iman kepada Yesus berlangsung terus. Dengan kata lain, Marxsen tidak mengakui adanya kubur yang kosong. Injil Markus, menurut Marxsen, yang pertama melaporkan tentang kubur yang kosong itu. Ia (Markus) tidak melaporkan bahwa para perempuan itu datang ke kubur dan menemukan kubur itu kosong lalu menyimpulkan bahwa Yesus telah bangkit. Orang muda yang ada pada kubur itu yang mengatakan kepada perempuan-perempuan itu bahwa Yesus, orang Nazareth, telah bangkit. Lalu ia mengarahkan perhatian perempuan-perempuan itu dengan berita, berdasarkan penglihatan itu, bahwa Yesus telah bangkit dari kubur. Sedangkan dalam Injil Lukas, menurut Marxsen, ia hanya menceritakan tentang perempuan yang pergi ke kubur itu, di mana mereka tidak menemukan tubuh Yesus, untuk menyatakan kepada para pembacanya tentang kebangkitan Yesus. Cerita Lukas, lanjut Marxsen, memang berbeda dengan Markus karena Lukas menulis ketika gereja sedang merumuskan imannya kepada Yesus.  
    Dari adanya pandangan Marxsen tersebut, Kistemaker telah menyampaikan kritikannya di dalam karyanya yang berjudul The Gospel in Current Study. Menurutnya, Marxsen tidak teliti dalam meneliti bahan-bahan Perjanjian Baru. Marxsen memisahkan kaitan antara sejarah dan iman. Sementara ia melepaskan hubungan itu, ia terlampau menekankan aspek iman. Lalu, untuk memenuhi penekanan pada iman itu, ia melompati sejumlah bahan yang tidak mendukung kesimpulannya. Kistemaker juga mengkritik Marxsen bahwa penampakan Yesus kepada Petrus dan para murid yang lainnya itu hanya suatu “penglihatan” dalam pikiran Petrus dan murid-muridnya yang lain. Menurut Kistemaker, jika itu benar, mengapa Petrus di dalam rumah Kornelius, di Kaisarea memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus pada hari yang ketiga. Mengapa Petrus mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada dirinya dan murid-murid yang lainnya, dan makan minum bersama dengan mereka sesudah kebangkitannya? (Kisah Para Rasul 10:41). Pasti ungkapan ini bukan menggambarkan situasi sebelum kebangkitan. Kistemaker juga mengkritik pandangannya Marxsen yang menyatakan bahwa kematian telah mengakhiri keberadaan tubuh insani Yesus. Dengan kata lain, yang bangkit itu bukan Yesus dalam tubuh insaninya, melainkan rohnya. Sedangkan menurut Kistemaker, kebangkitan Yesus dari kubur adalah kebangkitan secara fisik, yang pandangannya itu didasari oleh tulisan-tulisannya Paulus, seperti 1 Korintus 15:51 dan 52. Kistemaker menilai bahwa pandangan Marxsen itu semata-mata berdasarkan suatu tafsiran, yang tidak lebih dari itu. Karena pada kenyataanya, Marxsen tidak tertarik pada kebangkitan Yesus. Ia lebih menekankan iman secara individu yang bertemu dengan Yesus. Akan tetapi, dengan melakukan hal yang sama demikian, Marxsen telah mengurangi peristiwa kebangkitan Yesus tidak lebih dari sebuah gagasan.
    Teolog yang meyakini bahwa kebangkitan Yesus bukan berdasarkan fakta historis adalah Wolfhart Pannenberg, di mana gagasannya itu ia tuangkan pada sebuah buku yang berjudul Did Jesus Really Rise From the Dead. Menurutnya, benar tidaknya Yesus bangkit dari antara orang mati tidak cukup jelas. Ia berpendapat bahwa kebangkitan Yesus bukan suatu peristiwa yang membuat tubuh Yesus hidup lagi, sama seperti seseorang yang bangun dari tidurnya tetapi sebagai suatu transformasi. Ia menunjuk kepada 1 Korintus 15:50 dan 53, sebagai dasar argumentasinya. Sedangkan adanya penampakan-penampakan Yesus kepada para muridnya, Pannenberg berpendapat bahwa Yesus dan penemuan kubur kosong oleh para perempuan adalah peristiwa yang terjadi secara terpisah. Peristiwa-peristiwa itu dihubungkan hanya ketika tradisi-tradisi penampakan dan kubur kosong itu dibangun.
    Mengenai historisitas kebangkitan Yesus, Pannenberg di dalam Jesus-God and Man, mengatakan bahwa kebangkitan Yesus yang diceritakan dalam Injil-injil merupakan (sebuah) legenda. Menurutnya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, ia tidak pernah menampakan diri secara fisik. Karena alasan itu, ia memilih untuk menyatakan bahwa peristiwa kebangkitan merupakan suatu peristiwa yang metaforis. Penampakan itu, lanjut Pannenberg, meruapakan pengalaman dalam bentuk penglihatan-penglihatan. Tidak ada kebangkitan secara fisik dari kubur.
    Perlu diketahui, bahwa keempat Injil melaporkan bahwa Yesus, secara fisik, telah bangkit dari antara orang mati. Sementara, kebangkitan itu sendiri tidak disaksikan oleh seorang pun sebagai suatu peristiwa. Yang ada hanyalah tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa kubur Yesus telah kosong dan Yesus menampakan dirinya kepada para murid-muridnya. Jika kebangkitan Yesus dari kubur merupakan sebuah peristiwa yang bersifat faktual dan memiliki basis historis, tentunya para penulis Yunani dan Romawi yang kala itu sezaman dengan Yesus akan mengisahkan peristiwa tersebut. Namun nyatanya, pengisahan tentang kebangkitan Yesus yang selama ini diyakini oleh Kristen tidaklah memiliki basis historis yang bisa diandalkan, melainkan hanya bersifat teologis, di mana unsur iman yang selama ini diyakini oleh Kristen, sejatinya telah mengabaikan adanya tuntutan-tuntutan historis dalam membuktikan bahwa apa yang diimani selama ini merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam sejarah manusia./*Sang Misionaris

Artikel ini dikutip dari Samuel Benyamin Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar, dan Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010).

Layakkah Kristen Disebut Sebagai Agama Konflik?


    Sejak munculnya agama Kristen, orang-orang Kristen telah mengalami segala bentuk penganiayaan dan pembunuhan, sebagaimana halnya yang terjadi di masa Kaisar Nero, Dominatus, dan Trayanus (Ichwei G.Indra, Jejak Juang Saksi Injil: Sejarah Gereja Umum Dan Sejarah Gereja Indonesia, hlm. 27). Dari adanya kondisi demikian, telah membuat orang-orang Kristen yang hidup di zaman modern saat ini selalu menyatakan bahwa Kristen adalah agama kasih, karena orang-orang Kristen yang menjadi korban kekejaman di masa lalu, tidak pernah memberikan pembalasan kepada orang-orang yang telah melakukan penganiayaan kepada mereka. Namun ternyata, pengklaiman dan jargon yang selalu mereka usung selama ini akhirnya terbantahkan di saat Kristen telah menjadi agama resmi dan mendominasi suatu negara, di mana kala itu orang-orang Kristen telah menjadi pelaku kejahatan dan kekejaman, baik terhadap orang-orang Kristen maupun non-Kristen.

Serangan Para Sarjana Kristen Terhadap Injil



    Setelah Georg Wilhelm Friedrich Hegel meninggal (1831 M), telah terjadi benturan hebat antara para intelektual di masa itu. David Friedrich Strauss menamakannya sebagai benturan antara ‘class’ Hegelian Kiri; (pengikut Hegel Kiri) yang bersifat non-Kristiani yang mengkritik agama Kristen, yang dipimpin oleh Bruno Bauer, Karl Marx, Arnold Ruge dan Maz Stirner, dan Hegelian Kanan; yang disebut sebagai kaum fundamentalis Kristen yang terinspirasi dari filsafat Hegel tapi mengutuk kritik radikal terhadap agama Kristen yang dilancarkan oleh David Friedrich Strauss dalam Das Leben Jesu (Kehidupan Yesus).