Benarkah Utsman Telah Memukul Ammar Hingga Merobek Ususnya?


   
    Khalifah ketiga yaitu Utsman bin Affan merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang selalu mendapatkan banyak fitnahan dari orang-orang yang membencinya, salah satunya ialah bahwa Utsman dianggap telah memukul Ammar bin Yasir hingga merobek ususnya. Namun, benarkah Ammar telah dipukul oleh Utsman hingga robek ususnya? Jelas, hal itu tidaklah benar. Karena jika ususnya robek, tentunya Ammar akan mengalami kematian. Lalu, seperti apa periwayatannya dan bagaimana sanggahannya terkait adanya fitnahan tersebut?
    Telah Diriwayatkan oleh ath-Thabari (5/99), dari Sa’id Ibnul Musayyab bahwasannya ada perselisihan di antara Ammad dan Abbas bin Utbah bin Abu Lahab. Oleh karena itulah, Utsman pada akhirnya mendidik mereka dengan memberikan pukulan. Menurut Muhibbun al-Khatib, terjadinya pemukulan kepada para sahabat lain bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Utsman, melainkan pernah dilakukan pula oleh para pemimpin sebelumnya. Ia menuturkan, bahwa Umar pernah melakukan hal itu kepada orang semisal Ammar dan orang-orang yang lebih baik dari Ammar, karena Umar memiliki hak kekuasaan atas kaum Muslimin.
    Ketika para pengikut Abdullah bin Saba menyusun suatu gerakan dalam penyebaran isu yang memuat berita bohong dengan cara mengirimkan beberapa buku dari satu daerah ke daerah yang lain, para sahabat mengisyaratkan kepada Utsman agar mengirimkan orang-orang kepercayaannya ke beberapa daerah tersebut untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Maka Utsman pun berusaha melupakan apa yang terjadi pada Ammar, dan mengutus Ammar ke Mesir untuk menjadi orang kepercayaannya dalam mengungkapkan kondisi wilayah tersebut. Karena adanya kelambanan Ammar dalam melakukan tugasnya, maka kondisi tersebut segera dimanfaatkan oleh para pengikut Abdullah bin Saba dengan cara mendekatinya agar ia condong kepada mereka. Namun, Utsman bersama dengan seorang pegawainya mengetahui hal itu, yang pada akhirnya ia pun dipanggil oleh Utsman untuk ke Madinah, dan saat ia menghadap Utsman, maka ia pun disalahkan atas adanya persengkongkolan tersebut dengan berkata, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimisyqa (7/429), “Wahai Abul Yaqzhan, kamu telah menuduh Ibnu Abu Lahab bahwa ia telah menuduhmu, dan kamu marah tatkala aku menghukum secara hak yang aku lakukan kepadamu dan kepadanya. Ya Allah, aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan menegakkan aturan-aturan-Mu pada setiap orang dan aku tidak memperdulikannya. Pergilah dariku, wahai Ammar!” Lalu Ammar pun pergi. Selanjutnya, ketika Ammar bertemu dengan orang awam maka dia berusaha membela diri dan mengikis semua itu. Ketika Ammar berjumpa dengan orang-orang yang dia percayai, dia memperlihatkan rasa penyesalannya. Dan orang-orang itu pun memyalahkannya, meninggalkannya, dan juga membencinya.   
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Minhajus Sunnah (3/192,193), Utsman lebih utama daripada setiap orang yang dibicarakan tadi. Dia lebih utama daripada Ibnu Mas’ud, Ammar, Abu Dzarr, dan yang lain karena berbagai alasan sebagaimana yang telah ditetapkan dengan beberapa argumen. Maka, ucapan orang yang lebih rendah derajatnya tidaklah menodai orang yang lebih tinggi, berbeda dengan sebaliknya. Begitu juga apa yang dikutip dari ucapan Ammar mengenai Utsman dan ucapan al-Hasan mengenai Ammar, “Dikutip bahwa Ammar berkata, ‘Utsman telah kafir sebagaimana orang-orang kafir Shal’aa.’” Lalu al-Hasan bin Ali menyangkal tentang hal itu, demikian juga dengan Ali. Dia berkata kepada Ammar, “Apakah kamu telah ingkar (kafir) kepada Tuhan yang diimani oleh Utsman?”
    Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Dari semua itu, menjadi jelas bahwa orang Mukmin yang merupakan kekasih Allah, terkadang meyakini kufurnya orang Mukmin lain yang juga kekasih Allah, dan keyakinannya ini salah. Karena hal tersebut tidaklah mempengaruhi iman seseorang dari keduanya dan kewaliannya. Sebagaimana ditetapkan dalam hadits shahih bahwasannya Usaid bin Khudhair pernah berkata kepada kepada Sa’id bin Ubadah di hadapan Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya kamu orang munafik yang membela kepentingan orang-orang munafik.” Juga sebagaimana perkataan Umar bin Khathab kepada Hathib bin Abu Balta’ah, “Ya Rasulullah, biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya dia pernah menyaksikan perang Badar. Tahukah kamu bahwa Allah telah melihat setiap orang dari ahli Badar, lalu berfirman, ‘Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian!’” Umar jauh lebih utama daripada Ammar, dan Utsman lebih utama daripada Hathib bin Abi Balta’ah. Argumen Umar terhadap apa yang dia katakan kepada Hathib lebih jelas daripada argumen Ammar. Meskipun demikian, keduanya termasuk penduduk surga.
    Lantas, mengapa Utsman dan Ammar juga tidak termasuk penduduk surga, meskipun salah satu darinya mengatakan suatu perkataan kepada yang lain? Padahal, sekelompok ulama ada yang mengingkari kalau Ammar mengatakan hal itu, lalu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Secara keseluruhan, jika dikatakan bahwa Utsman bin Affan memukul Ibnu Mas’ud atau Ammar, maka ini tidak menodai atau mempengaruhi seseorang pun darinya. Karena kami menyaksikan bahwa ketiganya adalah penduduk surga dan mereka termasuk kekasih Allah yang bertaqwa. Kekasih Alah terkadang melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan hukuman dalam segi syariat. Lantas, bagaimana jika perbuatan itu hanya menyebabkan peringatan?! Umar bin Khathab pernah memukul Ubay bin Ka’ab dengan tongkat kecil tatkala dia melihat orang-orang berjalan di belakang Ubay. Dia berkata, “Ini adalah kerendahan bagi orang yang ikut dan fitnah bagi orang yang diikuti.” Tatkala Utsman mendidik mereka, bisa jadi Utsman benar terkait dengan hukuman yang dia jatuhkan karena mereka berhak menerimanya, dan orang-orang yang dihukum menjadi bertobat dan dileburkan kesalahan-kesalahannya karena hukuman dan musibah lainnya, atau karena kebaikan mereka yang besar, atau yang lainnya. Dan bisa jadi pula dikatakan: Mereka secara mutlak adalah orang yang dizhalimi.*/Apologethok

Sumber: Disarikan dari karya Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabi, Gejolak Api Permusuhan Syi’ah-Khawarij-Orientalist Terhadap Sahabat Nabi saw, terj. Muhammad Suhadi, (Jakarta: Akbar Media, 2010).

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik