Amanat Agung Yang Melahirkan Kearogansian Kristen Terhadap Islam


    Bukan suatu hal yang kebetulan bahwa dua agama dunia terbesar dan tersebar paling luas adalah agama misi, yakni agama Islam dan Kristen. Tidak seperti orang-orang Hindu, Yahudi, Tao, dan penganut Shinto yang taat, umat Islam dan Kristen diperintahkan untuk membawa berita gembira dan melakukan misi (penyebaran agama) ke seluruh dunia. Meskipun Islam dan Kristen tidak sepakat tentang hakikat wahyu Tuhan dan jalan menuju tujuan akhir, namun penganut kedua agama tersebut setuju bahwa iman yang mereka yakini itu mengandung amanat misi.1
    Sekitar abad ke-16 M, melalui bangsa Eropa, yakni Spanyol dan Portugis, masyarakat Indonesia pada akhirnya mengenal agama Kristen, kedatangan kedua bangsa Eropa tersebut tidak hanya bermotifkan agama (menyebarkan agama Kristen), melainkan karena adanya motif politik, yaitu bermaksud untuk melemahkan kekuatan serangan bangsa Turki, yang telah mengancam Eropa pada masa itu, dan yang terakhir, karena adanya motif untuk mencari kekayaan. Adanya bayang-bayang permusuhan Kristen terhadap Islam, seperti halnya yang dialami oleh Portugis dan Spanyol, mengalami kelanjutan sampai ke beberapa wilayah jajahannya, seperti Filipina, Semenanjung Melayu, dan Indonesia. Dalam melakukan penjajahan, kedua bangsa tersebut tidak segan-segan untuk menggunakan senjatanya dalam melakukan monopoli perdagangan dan melindungi aktivitas pekabaran Injil. Meskipun kedatangan armada dagang Spanyol dan Portugis, tidak serta-merta sejalan dengan misi gereja, karena di beberapa wilayah jajahan, banyak dari para pejabat perusahaan, serdadu asing, dan para pegawainya, tidak memiliki kepedulian terhadap ajaran agama, bahkan sepak terjang mereka sering kali tidak sesuai dengan misi gereja Katolik.2
    Portugis, misalnya, tidak hanya menancapkan kuku kekuasaan dan politiknya atas kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia Timur, melainkan melancarkan pula pengkristenan kepada penduduk pribumi, khususnya di Ternate dan Tidore, yang sudah menganut agama Islam, dan tugas tersebut merupakan sebuah realisasi dalam melaksanakan mandat Gereja Katolik Roma dalam memelihara gereja dan mendukung penyebaran Injil dan iman Kristen sebagaimana yang tertuang dalam Maklumat Paus Alexander VI tahun 1493 dan Perjanjian Tordesilas tahun 1949. Seperti halnya Portugis, Belanda pun melakukan hal yang sama yaitu mengkristenkan penduduk pribumi, yang dimulai sejak pemerintahan berbentuk kolonial VOC hingga kedudukan VOC diganti menjadi Pemerintah Hindia Belanda. Sejumlah sarjana dan teolog Kristen Belanda pada abad 17, diantaranya adalah Hugo de Groot, Guru Besar Teologi Universitas Leiden Antonius Walaeus dan Guru Besar Teologi di Ultrecht Gisbertus Voetius, ia disebut-sebut sebagai peletak dasar penginjilan dengan memberi masukan negatif atas Islam kepada para pejabat VOC yang akan dikirim ke Indonesia.3
    Pandangan negatif yang dibuat oleh Hugo terhadap Islam, bukanlah sesuatu yang baru, karena jauh sebelumnya, banyak dari para tokoh Kristen yang telah terbiasa melakukan fitnah dan menyebarkan pandangan negatifnya terhadap Islam, seperti Yohanes dari Damaskus, Leo III, Abdul Masih al-Kindi, Petrus Veneralibis, dan lain-lain.4 Manshur, yang dikenal dengan nama Yohanes dari Damaskus, misalnya, awalnya adalah seorang pengatur pungutan pajak dari daerah Syria pada masa pemerintahan Kaisar Roma, Heraklius, yang memerintah dari tahun 610-641 M. Namun di pertengahan usianya, ia memilih untuk menimba pengalaman di bidang agama, yang pada akhirnya ia dikenal sebagai Doktor Gereja. Yohanes Damaskus merupakan seorang penulis yang aktif, dengan tanggal yang tidak diketahui, ia telah mengarang Dialogue between a Saracen and a Christian. Saat-saat terakhir di masa hidupnya, sekitar tahun 745 M, ia menyusun semacam ensiklopedia tentang ketidaksepakatan teologis yang berjudul On Heresies, yang di dalamnya terdapat sebuah entri mengenai “takhayul keturunan Ismail”. Menurut Yohanes, Muhammad menulis sejumlah karangan yang menggelikan dalam bukunya, yang diakui sebagai wahyu dari surga. Kemudian, ia pun melanjutkan pembahasannya pada sejumlah doktrin atau praktik tertentu dalam Islam yang ia anggap aneh dan menceritakan hal-hal buruk tentang Nabi Muhammad. Dalam upayanya menjelek-jelekkan agama Islam, tak ketinggalan, ia pun mengutip beberapa ayat Al-Quran secara selektif.5
    Bagaimana pun, pihak Kristiani tidak bisa menyangkal bahwa Kristen yang selama ini dikenal oleh masyarakat Indonesia, sejak awal telah dibawa dan diperkenalkan oleh para kolonial, dan fakta sejarah terkait tentang hal tersebut, sesungguhnya memiliki sumber-sumber yang melimpah, sebagaimana yang terjadi di Sumba Barat, misalnya. Pada tahun 1909, pembangunan sekolah-sekolah rakyat baru dibuka oleh seorang pendeta Wielenga di Mamboro, dan di tahun 1910 dibuka kembali sebuah vervolgschool di Pakamadara di muka kampung Wanno Bo-u (tempat kantor PPL Letekonda sekarang). Melalui Pemerintah Hindia Belanda di Sumba, para zending mendapatkan subsidi, dan menyelenggarakan pendidikan dengan memberikan tenaga guru dan alat pendidikan. Sekolah-sekolah dan rumah sakit yang telah didirikan, pada akhirnya dimanfaatkan sebagai alat untuk pekabaran Injil oleh para zending, dan tanpa adanya subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda, tentu saja pihak zending tidak akan mendapatkan kesempatan dalam melakukan pekabaran Injil kepada masyarakat setempat.6
    Menurut ketua misionaris di Yerusalem, Zwemmer, menyatakan, bahwa Kristenisasi direncanakan dunia Barat di dunia Islam bertujuan untuk mengeluarkan kaum Muslimin dari ajaran agamanya sendiri, sehingga akhirnya muncul generasi Muslim yang memusuhi agamanya sendiri. Menurut Zwemmer, upaya pengkristenan dilakukan dengan dua cara, yaitu: Pertama, memasukkan orang ke agama Kristen. Kedua, mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun harus menjadi seorang atheis sekalipun. “Tujuan kita tidak langsung mengkristenkan umat Islam, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi tujuan kita adalah menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita,” kata Zwemmer.7   
    Konflik Islam-Barat (Kristen) menurut Lewis dan Huntington, memang sudah berjalan ratusan Tahun dan cenderung meningkat. Lewis membuka bukunya dengan ungkapan, “Lebih dari 1400 tahun, sejak kebangkitan Islam di Arabia dan penaklukan bekas wilayah Kristen di pantai Timur dan Selatan Mediterania di bawah kekuasaan dan peradaban Islam, Islam dan dunia Kristen telah hidup berdampingan-selalu sebagai tetangga, sering sebagai rival, dan kadangkala sebagai musuh.” Secara historis, konflik Islam-Kristen memang sudah berlangsung panjang, dan dalam banyak hal konflik itu masih tetap berlangsung. Kolonialisme dan hegemoni Barat yang secara nominal beragama Kristen terhadap dunia Islam telah memunculkan wacana “Barat Versus Islam”, yang tetap banyak mendapatkan perhatian dan kajian hingga kini. Yang menarik dalam konflik Barat (Kristen) dan Islam adalah posisi Yahudi, yang kini banyak berpihak kepada Barat.8  
    Berbeda dengan pandangan Lewis, yang telah menitikberatkan penaklukan wilayah Kristen oleh Islam sebagai pemicu terjadinya konflik antara Islam dan Kristen, Abdullah Wasian memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan tokoh tersebut, menurutnya, “Sejak abad 15 sampai sekarang, Islam dinilai sebagai ancaman kelangsungan Barat (Kristen). Hal ini bukan semata-mata dikarenakan Islam pernah mencapai zaman keemasan di daratan Eropa, melainkan karena adanya hubungan kesejarahannya.” Untuk membuktikan adanya hubungan dalam kesejarahannya tersebut, Abdullah Wasian menjelaskannya sebagai berikut: “Islam mengakui keberadaan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa (Yesus) alaihis salam yang melicinkan jalan bagi kedatangan Nabi Muhammad saw yang membawa misi Islam. Namun Kristen tidak mengakui Isa Almasih sebagai nabi yang melenggangkan jalan kedatangan Muhammad. Figur Isa Al-Masih lebih ditarik pada sisi Ketuhanan. Dogma Kristen tidak bisa menerima jalan keselamatan Islam yang bersifat individual dan kolektif, yakni jalan keselamatan itu ada pada Allah SWT dan diberikan kepada insan yang benar-benar beriman dan taat menjalankan perintah maupun larangan Allah SWT.”9
    Ketika memberikan kata pengantar bagi karyanya Qosim Nurseha Dzulhadi,10 Syamsuddin Arif memberikan hasil pengamatannya atas konflik yang terjadi antara Islam dan Kristen, menurutnya, hubungan antara pemeluk kedua agama ini berlangsung dalam tiga pola, yaitu polemik, konfrontasi fisik, dan dialog. Meskipun demikian, konflik Islam dan Kristen dalam ranah polemik dan dialog, hingga saat ini masih saja terus terjadi, bahkan tidak jarang, Kristen melakukan intoleransi dalam merealisasikan amanat agungnya tersebut, yaitu menyebarkan agamanya kepada yang sudah beragama. Jika intoleransi Kristen terus saja terjadi tanpa adanya penanganan yang serius dari pemerintah, maka bukan tidak mungkin akan terjadinya konfrontasi fisik. Dan jika Kristen selalu melakukan intoleransi, yaitu melakukan berbagai upaya dalam menjalankan amanat agungnya, tentu saja hal tersebut akan memicu terjadinya bom waktu bagi umat Islam, yang sewaktu-waktu bisa meledak tanpa bisa diperkirakan sebelumnya. Terlebih saat ini, akses informasi begitu mudah didapatkan, seiring dengan meluasnya berita hoax dan ujaran kebencian terhadap Islam, semakin begitu mudah didapatkan di internet. */apologethok   

Catatan Kaki:
1. Charles Kimbaal, Kala Agama Jadi Bencana, Terj. Nurhadi, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 111-112.
2.  Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia, (Bandung: Biji Sesawi, 2014), hlm. 28-29.
3. Abdullah Wasi’an, Dialog: Memahami Keimanan Kristen-Islam, (Surabaya: KH. Abdullah Wasi’an Foundation, 2013), hlm. 43.
4. Untuk mengetahui hujatan dan fitnahan yang mereka lakukan, silahkan untuk merujuk karya Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).
5. Richard Fletcher, The Cross And The Crescent: Riwayat Tentang Perjumpaan Awal Umat Islam dan Kristen, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2007), hlm. 27-29.
6. EM. Z. Ghoenoe, Engkau Berharga Di Mata-Ku: Suatu Kisah Perjalanan Injil DI Pulau Sumba Dan Perkembangan Jemaat GKS Karuni, (Bandung: Loura Press, 2008), hlm. 5.
7. Adian Husaini, Gereja-Gereja Dibakar: Membedah Akar Konflik SARA Di Indonesia, (Jakarta: DEA Press, tanpa tahun), hlm. 74.
8. Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hlm. 120-121.
9. Abdullah Wasi’an, op.cit., hlm. 45.
10. Qosim Nurseha Dzulhadi, Teologi Islam VS Kristen: Sanggahan Terhadap Buku Menuju Dialog Islam dan Kristen, dalam kata pengantar, (Surabaya: Pustaka Da’i, 2010), hlm. ix-xv. 

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik