Pendapat Para Ulama Dan Orientalis Tentang Ke-Ummi-an Nabi Muhammad Saw

Oleh: Sang Misionaris.


    Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad digelari ummi yang berarti tidak bisa baca-tulis. Sejarah menerangkan pula bahwa ini adalah tanda orisinalitas kitab yang dibawanya, bahwa Al-Quran bukanlah karangan Nabi Muhammad. Ini tidak salah, tapi yang sangat  menarik adalah gelar ini mengandaikan beliau yang tidak terjebak dalam sistem bahasa dengan segala hukum yang ada di dalamnya, yakni Muhammad tidak butuh penanda untuk eksis dan menjalankan misi profetiknya. Nabi Muhammad terlepas dari segala macam simbol. Dengan begitu, misi kenabian bersifat universal, sehingga tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab. Tidak ada perbedaan miskin dan kaya. Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan. Tidak ada perbedaan tuan dan budak, semuanya sama. Maka dari misi universal ini, dominasi Quraisy di Mekkah dapat ditumbangkan, dan tuhan-tuhan simbolik di sekeliling Ka’bah yang eksklusif dan parsial bisa dihancurkan, karena berhala-berhala tersebut lebih mengarah pada sebuah agensi subversif terhadap tatanan simbolik masyarakat manusia yang menginginkan nilai kesatuan dan kemanusiaan. Lalu, seperti apakah pandangan para ulama dan juga para orientalis perihal ke-ummi-annya Nabi Muhammad saw? Dan, adakah bukti yang secara otentik bisa menguatkan bahwa pada masa hidupnya beliau pernah belajar atau diajar, baik sebelum maupun pada saat menjadi Nabi?  
A. Pendapat Ulama
  1. Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat tentang ummi ini berkata: Tentang Firman Allah pada al-ummu, Ibn Abbas berkomentar: Nabi kalian adalah buta huruf tidak bisa menulis, membaca dan menghitung. Allah berfirman, “Dan Kamu (Muhammad) tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya dan tidak pernah menulis satu kitab oun dengan tangan kananmu.” (Qs. 29:48)

Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan kata ummiyun yang terdapat dalam ayat 2 surat al-Jumu’ah adalah orang-orang yang tidak bisa menulis. Demikianlah keadaan orang-orang Quraisy dulu. Orang-orang Arab, terutama yang berasal dari Hijaz, umumnya buta huruf pada masa tersebut, sehingga orang-orang yang mampu baca tulis jadi sangat terkenal dan jumlahnya sangat sedikit. Suatu hal yang sangat mustahil memang bagi seseorang untuk mempelajari keterampilan ini dalam kondisi demikian dan terkenal di kalangan masyarakat karena kemampuannya. Ibn Katsir berkata ketika menafsirkan ayat yang terakhir ini, “Dan Kamu (Muhammad) tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya dan tidak pernah menulis satu kitab pun dengan tangan kananmu”, artinya kamu telah tinggal di tengah kaummu, wahai Muhammad, sebelum kamu datang dengan Al-Quran ini, sedang kamu tidak bisa membaca kita dan tidak dapat menulis, bahkan setiap orang dari kaummu dan selain mereka mengetahui bahwa kamu seorang yang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis.

Hal ini pun adalah sifat beliau yang tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu sebagaimana firman Allah, “Orang-orang yang mengikuti rasul, seorang nabi yang ummi yang mereka temukan (namanya) tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada opada mereka, yang menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang munkar” (Qs. 7:157). Demikianlah keadaan Rasulullah saw selamanya sampai hari kiamat, tidak bisa menulis, baik satu baris ataupun satu huruf dengan tangannya. Bahkan, beliau mempunyai catatan yang ditulis oleh para sahabat berupa wahyu dan surat-surat untuk para penguasa ke beberapa negeri. Allah Swt berfirman, Dan kamu tidak pernah, artinya tidak pernah membaca sebuah kitab pun sebelumnya. Ini untuk menguatkan ketidakpernahan tadi.

Begitu pula firman Allah, Dan tidak pernah menulis dengan tangan kananmu. Ini pun juga menguatkan. Demikian juga firman Allah: (Andai kamu bisa membaca dan menulis) pasti ragulah orang-orang yang mengingkarimu, artiya kalau kamu bisa menulis pasti beberapa orang yang bodoh akan ragu, lalu akan berkata, “Kamu hanyalah mengetahui ini dari kitab-kitab sebelumnya yang diambil  dari para nabi,” padahal mereka mengetahui bahwa nabi ini buta huruf dan tidak bisa menulis. Dan mereka berkata, “Ini adalah dongeng-dongeng masa lalu yang dituliskannya.” Singkatnya, ummi adalah salah satu sifat Nabi Muhammad yang terdapat dalam kitab-kitab para nabi yang lain.
  1. Manshur meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata: Al-Ummi adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis. “Seorang rasul dari mereka” artinya Muhammad saw, dia seorang ummi tidak bisa membaca dan menulis dan tidak pernah belajar.
  2. Al-Mawardi berkata: bila ditanyakan, apakah bentuk karunia dalam hal diutusnya seorang nabi yang ummi? Maka jawabnya adalah ada tiga bentuk. Pertama, untuk menunjukkan sesuainya keadaan dia dengan kabar dari nabi-nabi sebelumnya. Kedua, agar keadaannya sesuai dengan keadaan mereka (kaumnya) sehingga lebih memungkinkan diterima. Ketiga, untuk menghindari buruk sangka dalam mengajarkan apa-apa yang didakwahkannya berupa kitab yang dia baca dan hikmah-hikmah yang dia sampaikan. Dengan demikian, mereka menyadari bahwa sesuatu yang disampaikannya murni dari Allah Swt dan bukan hasil jiplakan dari kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman, Dialah yang telah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka ke tengah umat yang ummi yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka tentang kitab dan hikmah padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. (Qs, 62:2)
  3. Dalam tafsirnya, Al-Maraghi mengemukakan arti kata ummi sebagai orang yang tidak pandai membaca dan menulis, dinisbatkan kepada al-umm (ibu), sedangkan orang-orang ahli kitab memberi julukan kepada bangsa Arab dengan al-ummiyyin, sebagaimana firman Allah tentang mereka: Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.” (Yang mereka maksud dengan orang-orang ummi dalam ayat ini adalah orang Arab, yaitu orang-orang yang mengikuti rasul dan nabi yang ummi).
Keadaan nabi yang ummi merupakan sifat bagi Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi yang lainnya. Artinya, keadaan itu adalah salah satu tanda kebenaran atas kenabian beliau. Yakni bahwa sekalipun beliau orang yang tidak pandai membaca dan menulis, namun ia mampu menyampaikan ilmu tertinggi yang berguna dan mampu memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada kepercayaan, akhlak, kesopanan, dan amal-amal mereka.
  1. Menurut Fakhrurrazi dalam tafsirnya juz III halaman 138: “Yang dimaksud dengan ungkapan waminhum ummiyiun dalam Al-Quran adalah terkait dengan orang-orang Yahudi, yakni kelompok keempat orang Yahudi yang membangkang terhadap kebenaran, karena itu mereka dijuluki sebagai orang-orang yang ummi.”
Begitu pula penjelasannya atas surat Ali-Imran pada juz VII halaman 213, tentang mengapa mereka disebut ummi, Fakhrurazi menjelaskan, “Orang-orang musyrik Arab disebut ummi karena dua hal: Pertama, karena mereka belum mendapatkan kitab ilahi dan karena itu disebut ummi dan sebagai pemisah terhadap orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Kedua, dalam juz VIII halaman 12 bahwa kata al-ummi dapat juga dinisbatkan dengan kata al-umm dan juga bisa dinisbatkan kepada kota Mekkah yang sering juga disebut perkampungan induk (Umm al-Qura).
  1. Allamah Kamal Faqih dan Tim Ulama, dalam Tafsir Nurul-Quran, mengemukakan: “Kata ummi dalam kamus bahasa Arab adalah keturunan dari kata umm yang berarti ibu. Kata ini juga biasa dipakai untuk seseorang yang tidak belajar dan menulis, sehingga hal ini seperti anak kecil yang baru lahir. Beberapa penafsiran Al-Quran menyatakan istilah ummi bermakna seseorang yang berasal dari umat dan orang kebanyakan yang bukan berasal dari golongan bangsawan. Ada juga yang menghubungkan ummi dengan istilah umm al-Qura yang meruoakan sebutan untuk kota Mekkah, sehingga kata ummi diartikan dengan orang atau penduduk Mekkah.”
  2. Dalam tafsir Ruh al-Bayan karya Ismail Haqqi al-Buruswi yang diterjemahkan oleh Drs. Syihabuddin dikemukakan bahwa al-ummi berarti yang tidak bisa tulis-baca. Keberadaan Nabi Muhammad saw sebagai seorang yang ummi merupakan mukjizatnya, karena apabila beliau pandai baca-tulis, maka beliau akan disangka sebagai orang yang suka menelaah kitab-kitab terdahulu sebagai sumber penulisan Al-Quran.
  3. M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah mengemukakan bahwa kata ummi terambil dari kata umm dalam arti tidak pandai membaca dan menulis, yaitu sama dengan keadaannya ketika baru dilahirkan oleh ibunya, atau sama dengan keadaan ibunya yang tidak pandai membaca. Hal ini dikarenakan masyarakat Arab pada masa jahiliyah pada umumnya tidak pandai membaca dan menulis, lebih-lebih kaum wanitanya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ummi diambil dari kata umat yang menunjuk kepada masyarakat ketika Al-Quran diturunkan, sebagaimana yang dilukiskan oleh sabda Rasullulah saw, “Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi, tidak pandai membaca dan berhitung.”
Selain itu, bahwa Rasulullah adalah seorang yang ummi merupakan salah satu bukti kerasulan beliau. Dalam konteks ini, Al-Quran menegaskan, “Dan Kamu (Muhammad) tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya dan tidak pernah menulis satu kitab pun dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” (Qs. 29:48). Betapa tidak, pasti akan ada yang berkata bahwa ayat-ayat Al-Quran yang beliau sampaikan, yang redaksi dan isinya sangat mengagumkan dan mengungkap banyak hal-hal yang tidak dikenal pada masanya, adalah hasil bacaan beliau.


B. Pandangan Orientalis
    Para Orientalis, yang melihat sejarah Islam secara kritis, tidak menemukan sedikit pun baik petunjuk maupun catatan perihal kemampuan baca tulis Nabi Muhammad saw. Lebih jauh lagi, mereka mengakui bahwa beliau tidak pernah mendapat pendidikan dan berasal dari kalangan orang-orang yang buta huruf. Adapun orientalis yang mengemukakan pendapatnya tentang ke-ummi-an Nabi Muhammad adalah:
  1. Thomas Charlyle dalam karyanya Hero and Heroic Worship mengatakan, “Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu bahwa Muhammad tidak pernah menerima pelajaran dari siapa pun. Seni kaligrafi baru bermula di kalangan orang Arab setelah pada masa tersebut. Saya amat yakin bahwa sesungguhnya Muhammad tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun perihal baca tulis. Ia tidak pernah diajari apa pun kecuali perihal kehidupan di padang pasir.”
  2. Wiliam James Durant dalam bukunya History of Civilization mengatakan: “Teranglah bahwa tidak ada seorang pun yang berpikiran untuk mengajari Nabi saw membaca dan menulis. Pada masa itu, seni baca tulis bukanlah hal yang penting. Karena itu, tidak lebih dari tujuh belas orang yang dapat membaca dan menulis di kalangan Quraisy. Tidak diketahui apakah Muhammad sendiri pernah menulis sesuatu setelah diangkat menjadi Rasulullah, karena ia mempunyai seorang justu tulis khusus. Dan lagi, buku-buku Arab yang paling terkenal pun dibacakan oleh juru tulis tersebut kepadanya. Namun ia memiliki pengetahuan dan menguasai berbagai hal lebih baik dibandingkan dengan orang yang berpendidikan.”
  3. John Devenport dalam bukunya, Apology for Fault to Muhammad and Quran, mengatakan bahwa dalam hubungannya dengan pendidikan, yang sudah biasa di seluruh penjuru dunia, pada umumnya diyakini bahwa Muhammad tidak pernah memperoleh pendidikan selain yang biasa dipraktikkan di kalangan sukunya.”
  4. Constate Vergil Giorgio dalam bukunya Muhammad: A Prophet to be Acquanted with Afres menyebutkan bahwa sekalipun ia tidak berpendidikan, namun ayat-ayat permulaan yang diturunkan kepadanya menyebut-nyebut pena dan pengetahuan tentang tulis-menulis dan proses belajar-mengajar. Dalam agama-agama lainnya tidak pernah ditemukan bagaimana ilmu pengetahuan dihargai sedemikian tinggi, dan tidak satu pun agama lain yang memberikan peran begitu penting kepada ilmu pengetahuan pada tahap perkembangannya. Seandainya Muhammad seorang cendekiawan, maka ayat-ayat yang diturunkan kepadanya di Gua Hira tidaklah akan menimbulkan keheranan, karena seorang cendekiawan tentu memahami pengetahuan, namun Rasulullah sendiri tidak pernah diajar maupun dibimbing. Saya ucapkan selamat kepada umat Islam atas agama mereka yang sejak awalnya telah menghargai ilmu pengetahuan.
  5. Gustav Le Bon mengatakan dalam bukunya The Civilization of Islam and The Arab, “Sudah sangat terkenal bahwa Rasulullah bukanlah orang yang berpendidikan. Pandangan ini juga disadari pada generalisasi induktif, bahwa jika ia orang yang pernah mendapatkan pendidikan, maka isi dan paragraf Al-Quran tentu akan lebih saling berhubungan. Dan lagi jika Muhammad orang yang terpelajar, maka ia tidak mampu mendakwahkan agama baru, karena seseorang yang tidak berpendidikan lebih memperhatikan kebutuhan mereka yang awam, yang berarti nantinya lebih mudah baginya untuk mengarahkan mereka ke jalan yang lurus. Akan tetapi, apakah Rasulullah berpendidikan ataukah tidak? Bagaimanapun, tidak disangkal lagi bahwa ia memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, dan kesadaran yang paling tinggi.”
Dari adanya berbagai pandangan atau pendapat di atas, baik dari ulama maupun dari orientalis, secara eksplisit mereka telah menafikan tentang adanya kemampuan baca tulis Nabi Muhammad, baik pada saat sebelum maupun sesudah menjadi Nabi, baik pada saat beliau masih muda maupun pada saat beliau sudah tua. Adapun berbagai tudingan dari pihak luar (non-Muslim), Kristen misalnya, yang menyatakannya bahwasannya Nabi Muhammad pernah belajar atau diajari oleh pendeta Buhaira, misalnya, tentu secara ilmiah, mereka pun harus mampu memberikan bukti-bukti yang  secara otentik dalam menguatkan tudingan mereka tersebut. Ketika para orientalis telah memberikan banyak sanjungan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana halnya yang telah disampaikan di atas, adakah bukti yang bisa menguatkan bahwa Al-Quran yang selama ini diimani oleh umat Islam merupakan hasil dari buah tangannya Nabi Muhammad? Tentu, tidak akan pernah bisa didapatkan buktinya, selain hanya cocokmologi dikarenakan adanya sikap sentimen atau skeptisismenya mereka kepada Nabi Muhammad saw.  

Sumber: Thohir, Ajid. 2014. Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad Saw Dalam Kajian Ilmu Sosial-Humaniora, Bandung: Marja.

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik