Ketika Ilmu Pengetahuan Harus Di Bawah Telunjuk Gereja

Oleh: Sang Misionaris.

Pendahuluan
    Ketika ilmu pengetahuan telah dihubungkan dengan kitab sucinya umat Kristiani dalam bentuk hubungan sejarah perkembangan ilmu, namun tidak pada psikologi-sosialnya, justru hal tersebut telah mengakibatkan tidak nampak atau hilangnya sama sekali elastisitas ilmu pengetahuan. Di dalam Kristianitas, ilmu pengetahuan telah terikat oleh doktrin agama yang bersifat tertutup dan jauh dari karakter dialogis, dan bentuk hubungan seperti yang telah diperagakan oleh masyarakat Kristiani, tercatat telah melahirkan sejumlah kerugian, yaitu telah terjadinya pertentangan antara kajian keilmuan dengan kajian keagamaan, yang mengakibatkan saintis diposisikan oleh Gereja sebagai penentang agama. Dari adanya kondisi demikian, hal tersebut telah mengakibatkan hilangnya tradisi Yunani yang kritis sekaligus dialektik, bahkan bagi sebagian Kristen yang fanatik terhadap agamanya, malah memberi kesan lahirnya kembali mitologi seperti yang pernah berjaya pada masa pra-Socrates, Plato, dan Aristoteles. Tidak hanya itu, Kristiani di masa lalu justru sering mempertentangkan hasil kajian ilmiah dan filosofis yang telah dibangun manusia sebelumnya, sehingga dunia pada akhirnya kembali mengalami masa kegelapan dan masyarakat dunia kembali dikalahkan oleh adanya mite-mite.1

Sikap Kakunya Gereja Di Hadapan Ilmu Pengetahuan
    Konsili Gereja telah banyak dipengaruhi oleh gagasannya Augustinus, yang pada akhirnya ordo keagamaan, Dominikan dan Fransiskan, melakukan cara-cara pemaksaan yang mengakibatkan Gereja mulai melakukan penindasan terhadap para bidat, yang untuk pertama kalinya, inkuisisi diperkenalkan oleh ordo Dominikan. Lebih dari 300 tahun Gereja mengalami kekacauan di berbagai tempat, dan pada abad ke-4, paus Bonifasius VIII diturunkan, dan para penggantinya ditawan selama 70 tahun lamanya. Ketika kepausan mengalami perusakan yang diakibatkan oleh terjadinya skisma, pada saat itulah kekuatan Gereja beralih kepada ordo keagamaan, melalui ordo tersebut mereka melakukan inkuisisi terhadap orang-orang yang dianggap sebagai bidat, membakarnya, dan bahkan negeri mereka dihancurkan.2 Dan inkuisisi yang dijalankan pada waktu itu, tidaklah didasari oleh adanya penelitian yang cermat atas sikap dan pendapat dari orang-orang yang berseberangan dengan Gereja, bahkan di bawah pemerintahan sekuler, terkadang melakukan penyingkiran terhadap para bidah atau yang berseberangan dengan Gereja melalui pendekatan dengan tindak kekerasan,3 dan hukuman yang paling sering dilakukan ialah hukuman mati dengan cara dibakar.4    
    Pada abad ke-14, secara umum Gereja Katolik telah menggunakan Alkitab dalam bahasa Latin yang mengakibatkan umat tidak bisa membacanya secara leluasa, Alkitab tersebut merupakan terjemahan yang dibuat dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Latin oleh Hieronimus, yang dikenal sebagai Vulgata. Dengan maksud agar orang-orang Kristen di Inggris dapat membaca Alkitab, akhirnya John Wycliffe pun menerjemahkan Alkitab tersebut ke dalam bahasa Inggris. Karena ajaran-ajaran Wycliffe terus menyebar ke seluruh wilayah Inggris, dan para pengikutnya pun semakin bertambah pula seiring dengan bertambahnya perlawanan rakyat kepada para penjabat Gereja, maka melalui Konsili Konstans yang diadakan pada tahun 1414 M, Wycliffe akhirnya dikutuk sebagai orang yang bidat, dan konsili tersebut pun memerintahkan supaya jasadnya digali dari kuburnya, yang berada di halaman Gereja di Lutterworth, lalu tulang-tulangnya pun dibakar dan abunya ditebarkan di atas sungai Severn, sedangkan tulisan-tulisan dari hasil karyanya pun ikut dibakar pula.5  
    Pada Abad Pertengahan, rasio harus disubordinasikan kepada kepercayaan Kristen, akal dan filosofi tidak digunakan untuk mengkritisi atau menentang doktrin-doktrin kepercayaan Kristen, tetapi digunakan untuk mengklarifikasi, menjelaskan, dan menunjangnya. Namun sejumlah ilmuwan seperti halnya Saint Anselm, Abelard, dan Thomas Aquinas, dan lain-lain mencoba untuk memadukan antara akal dan teks Alkitab, yang pada akhirnya ketika para ilmuwan dan pemikir diminta mensubordinasikan dan menundukkan semua pemikirannya kepada teks Alkitab dan otoritas Gereja, yang justru telah mengakibatkan lahirnya problematika yang lain. Selain menghasilkan permasalahan tentang otentisitas Alkitab, Alkitab pun menghasilkan pula hal-hal yang bertentangan dengan akal dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sejumlah ilmuwan mengalami benturan dengan Gereja perihal ilmu pengetahuan, seperti halnya Galileo Galilei (1546-1642) dan Nicolaus Copernicus (1473-1543), bahkan Giordano Bruno (1548-1600), pengagum Nicolaus Copernicus, dibakar hidup-hidup.6
    Kasus terkenal Galileo memang tidak bisa kita lupakan, karena pengetahuannya tersebut dianggap telah menentang agama Kristen, dan kasusnya itu justru mengungkapkan adanya hubungan yang tidak baik antara pihak ilmuwan dan Gereja yang disebabkan karena adanya ketidakselarasan dalam mengambil pijakan ilmu pengetahuan. Dampak dari hal tersebut mengakibatkan lahirnya sikap Gereja yang menyatakan bahwa Galileo dalam posisi bersalah dan menentang keputusan Gereja, dikarenakan ia telah menegaskan teori Copernicus bahwa bumi beredar mengelilingi matahari. Setelah Gereja menetapkan demikian pada tahun 1633 M, maka Galileo dicerca dan ditempatkan di dalam satu rumah tahanan selama tujuh tahun lamanya sampai akhirnya ia digantung. Sejak awal, sebenarnya pihak Gereja telah mengetahui bahwa esensi dari argumentasi Galileo itu adalah benar, dan doktrin Gereja itulah yang didasarkan atas asumsi yang salah. Namun demikian, ternyata Gereja Katolik membutuhkan waktu lebih dari seabad lamanya untuk menyampaikan permohonan maafnya secara resmi atas kasus Galileo tersebut.7        
    Galileo dianggap subversif oleh Gereja terkait pandangannya tentang heliosentris, Gereja bersikap demikian terhadap Galileo karena sejak awal Gereja telah memihak teori Ptolemeus yang meyakini bahwa matahari, bintang, bulan, dan planet mengelilingi bumi. Menurut pandangan Gereja, keyakinan dari Galileo tersebut bisa membahayakan masa depan Gereja, yang dengan adanya keyakinan tersebut bisa mengakibatkan masyarakat tidak lagi percaya kepada Gereja, yang berdampak pada hilangnya dukungan dan loyalitas masyarakat luas. Bukan saja Galileo yang dianggap sebagai seorang bidaah atau heresis, seorang astronom Yesuit ternama sekalipun, Christoper Clavius, mendapatkan peringatan yang keras dari Gereja setelah ia didapati mendukung teorinya Galileo tersebut. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pada akhirnya Gereja menyadari atas segala kesalahannya yang telah dilakukan terhadap Galileo dan juga pendukungnya, oleh karena itulah sejak tahun 1822 M, Gereja Katolik secara resmi memperbolehkan teori heliosentris untuk diajarkan di setiap sekolah negeri dan sekolah-sekolah Katolik.8
    Sebelumnya, seorang astronom dan juga ahli matematika, Nicolaus Copernicus, mengemukakan teori heliosentris, sadar bahwa teorinya bisa menimbulkan kontroversi, maka ia menolak untuk mempublikasikan teorinya tersebut. Tapi karena adanya desakan dari teman-temannya, maka pada tahun 1543 ia menerbitkan bukunya yang berjudul On the Revolutions of the Heavenly Spheres. Teori Copernicus telah menakutkan penguasa Gereja, karena dianggap telah bertentangan dengan Alkitab, yakni Mazmur 93:1. Dan pada tahun 1616, Gereja menempatkan bukunya Copernicus, On the Revolutions of the Heavenly Spheres, dan buku-buku lainnya yang menjelaskan tentang perputaran bumi, ke dalam daftar buku-buku yang terlarang.9  

Upaya Kristen Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman   
    Di Barat, yang diidentikkan dengan Kristen, telah terjadi revolusi ilmiah yang ditandai dengan adanya zaman Renaisans dan pencerahan. Apabila di zaman Renaisans, filsafat hanya membatasi diri pada usaha memberikan tafsiran baru pada realitas bendawi dan rohani, yaitu kenyataan mengenai manusia, dunia, dan juga Tuhan, maka pada zaman pencerahan, filsafat Barat mencoba meneliti secara kritis terhadap sesuatu yang ada, baik dalam negara maupun dalam masyarakat. Salah satu akibat dari hal tersebut adalah lahirnya ateistik, yang menegaskan adanya perbedaan ruang lingkup antara agama dan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang terdapat pada kritikannya Nietzsche terhadap agama, khususnya kepada Kristen, ia menyatakan, “Antara agama dan sains yang betul, tidak terdapat keterkaitan, persahabatan, bahkan permusuhan, keduanya menetap di bintang yang berbeda.” Selain melahirkan ateisme, epistemologi Barat modern-sekuler telah menyebabkan teologi Kristen menjadi sekuler, dan proses sekularisasi ilmu ini dimulai ketika seorang filsuf Barat, Rene Descartes, memformulasikan sebuah prinsip, “aku berpikir maka aku ada”. Jika pada zaman pertengahan para teolog seperti Augustinus, Anselm, Thomas Aquinas, dan lain-lain memodifikasi filsafat Yunani kuno supaya bisa sesuai dengan teologi Kristen, maka pada abad ke-20, para teolog seperti Karl Barth, William Hamilton, Harvey Cox, dan lain-lain memodifikasi teologi Kristen supaya sesuai dengan peradaban Barat modern-sekuler.10     
    Alkitab yang diyakini sebagai Kitab Sucinya umat Kristen pun, tidak luput dari perhatiannya orang-orang Kristen untuk dijadikan sebagai objek penelitiannya. Di era Bapa-bapa Gereja, Kristen telah terpengaruh oleh metode penafsiran helenistik, indikasi tersebut terlihat dari adanya penerapan Bapa-bapa Gereja yang telah menggunakan metode penafsiran alegoris yang sebelumnya telah digunakan oleh Philo ketika ia menafsirkan Perjanjian Lama, yang dalam hal ini, ia telah mengikuti tradisi Yunani Theagenes dari Rhegium pada paruh kedua abad ke-6 SM.11 Tidak hanya penafsiran alegoris yang telah digunakan oleh orang-orang Kristen mula-mula, melainkan menggunakan pula penafsiran tipologis yang diklaim lebih masuk akal dalam menafsirkan Perjanjian Lama. Dari adanya perbedaan dalam metode penafsiran tersebut, Kristen terpecah menjadi dua kubu, yakni Antiokhia dan Alexandria, yang keduanya sama-sama sebagai warisan atas kultur wilayahnya masing-masing. Pada periode selanjutnya, metode penafsiran semakin berkembang dan mendapatkan penyempurnaan yang bentuk-bentuk tersebut dihasilkan khususnya sejak zaman Renaisans, beserta gagasan mereka untuk kembali kepada sumber-sumber Alkitab,12 dengan menggunakan akalnya, Kristen berupaya mengeksplorasi Alkitab supaya dapat dipahami manusia dalam segala zaman.13 Implikasi tersebut bisa kita lihat dari adanya konsep eksistensialisme Heidegger yang telah membentuk fondasi filosofisnya Bultmann, dengan pendekatannya tersebut, ia menuntut seseorang untuk membaca Alkitab dengan hermeneutika eksistensialis, bahkan dengan penerapan kritik bentuk, ia telah membedakan antara Yesus sejarah (pribadi yang benar-benar hidup) dan Yesus imani (pribadi yang diimani oleh Kristen).14  
    Demi merasionalisasikan atas apa yang terdapat di dalam Alkitab, pelbagai metode penafsiran pun terus dikembangkan, dan bukan saja Alkitab yang mendapatkan perlakuan seperti itu, Ketuhanan Trinitas yang diimani oleh mereka selama ini pun mendapatkan kondisi yang sama. Sejak semula, Gereja telah memanfaatkan seni lukis dan juga patung dalam menjelaskan atas apa yang terdapat di dalam Alkitab, khususnya tentang Ketuhanan Trinitas. Dalam lukisan yang paling tua, Yesus diperlihatkan sebagai seorang pemuda yang tidak berjanggut, namun pada abad ke- 6 M, penggambaran Yesus mengalami perubahan yang pada akhirnya dilukiskan sebagai seorang dewasa yang berjanggut. Selain Yesus, Allah pun digambarkan pula oleh para seniman, yang perbuatan mereka tersebut tidak mendapatkan sikap keberatan dari kaum Gerejawi. Para seniman menggambarkan Allah Bapa sebagai seorang laki-laki muda yang tidak berjenggot, awalnya hanya muka dan tubuh bagian atasnya saja, namun sesudah abad ke-14, Allah Bapa digambarkan semakin tua dengan rambut dan jenggot yang memutih. Sedangkan pada abad ke-12 dan 15, patung Yesus yang masih dipaku pada salibnya diletakkan antara kedua lutut ukiran Allah Bapa yang sedang duduk pada bangku, adapun Roh Kudus dilambangkan sebagai burung merpati yang hinggap di atas tiang salib, atau pada tangan salib dekat bahu ukiran Yesus, bahkan pada ukiran bahu Allah Bapa. Contoh lukisan lain yang berporos pada tema Trinitas berasal dari Belgia yang bernama Gheeraert David yang hidup pada masa abad ke-15 M. Dengan tema lukisannya yang bernama Baptisan Yesus, Yesus telah digambarkan sebagai seorang laki-laki yang berpakaian kain pinggang saja yang berdiri di dalam kolam air kecil, bukan di sungai. Yesus, digambarkan sedang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, yang pada bagian tiga-perempat dari lukisan itu, penonton melihat seekor burung merpati yang baru saja mau hinggap ke atas Yesus, dan paling atas lukisan itu diperlihatkan tubuh seorang laki-laki setengah usia yang berpakaian seorang raja, yaitu Allah Bapa.15

Kesimpulan
    Ketika ilmu pengetahuan berada di bawah otoritas Gereja, namun saat terjadi perbedaan pandangan antara ilmuwan dengan Gereja, akhirnya para ilmuwan harus bertekuk lutut di bawah otoritas Gereja, meskipun pada akhirnya, doktrin yang selama ini dipegang teguh oleh pihak Gereja, terbukti bersalah. Dari adanya sikap apatis Gereja terhadap ilmu pengetahuan, hal tersebut telah mengakibatkan pihak Kristiani mengalami masa kegelapan hingga seribu tahun lamanya, dan ketika Kristiani merasa jengah dengan keadaan yang menimpanya, maka pada akhirnya Alkitab dan ajarannya dijadikan sebagai bulan-bulanan oleh pihak Kristiani sendiri. Alih-alih ingin membuktikan bahwa Alkitab relevan dengan segala zaman, namun nyatanya Alkitab dan dogma Kristen mengalami penyesuaian dengan akal mereka sendiri dengan menggunakan akal sebagai tolok ukurnya, dan ketika itu terjadi, tentu saja mereka telah mencabik-cabik otoritas dan validitas Alkitabnya sendiri, yang seakan-akan Alkitab layaknya puzzle yang sedang dimainkan oleh seorang anak kecil.  

Catatan Kaki:
1. Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu: Dari Hakikat Menuju Nilai, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006), hal 13-14.
2. B. K. Kuiper, The Church In History. terj. Desy Sianipar, (Malang: Gandum Mas, 2010), hlm. 152 dan 162.
3. G. Tulus Sudarto, Pemikir-Pemikir Bandel: Daftar Hitam Gereja Katolik, (Jakarta: Fidei Press, 2009), hlm. 25.
4. B. K. Kuiper, op.cit., hlm. 153.
5. B. K. Kuiper, op.cit., hal 154-155,231.
6. Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler-Liberal, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 47-48.    
7. Charles Kimball, Kala Agama Jadi Bencana, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 67.
8. G. Tulus Sudarto, op.cit., hlm. 2-3.
9. Adian Husaini, op.cit., hlm. 296.
10. Adian Husaini, et.al, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal 6-12.
11. Bambang Subandrijo, Yesus Sang Titik Temu Dan Titik Tengkar: Sebuah Studi Tentang Pandangan Kristen Dan Muslim Di Indonesia Mengenai Yesus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia dan STT Jakarta, 2016), hlm. 144.
12. Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Alkitab Dalam Gereja, terj. V. Indra Sanjaya, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hal 43-44.
13. Untuk mempelajari tentang pelbagai metode penafsiran Kristen, silahkan untuk membaca karya Pdt. Hasan Susanto, D.Th, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, (Malang: Literatur SAAT, 2007).
14. William W. Klein dkk, Introduction Biblical Interpretation 1: Pengantar Tafsiran Alkitab, terj. Timotius Lo, (Malang: Literatur Saat, 2016), hal 96-97.
15. Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Plato Sampai Ignatius Loyola, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hlm. 173-174. 

0 komentar:

Posting Komentar

Budayakan berkomentar dengan baik