Buku-Buku yang diterbitkan AWF

Buku-buku yang Kristologi yang diterbitkan AWF bisa didapatkan disini, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Kristologi.

Kajian Kristologi

AWF bekerjasama dengan berbagai pihak memberi kajian kristologi di beberapa tempat untuk meneguhkan aqidah umat Islam

Kursus Kristologi Dasar

Kursus Kristologi Dasar (KKD) sering diadakan secara berkesinambungan untuk memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar Kristologi baik di kampus AWF maupun di pondok Pesantren

Pendekatan Persuasif

Pendekatan dan kerjasama AWF dengan berbagai elemen masyarakat untuk meneguhkan Aqidah umay Islam

Kunjungan AWF

Berbagai kunjungan dan kajian AWF diberbagai daerah untuk memberikan kajian dan kursus Kristologi, baik di Masjid-masjid maupun di Pondok Pesantren

Adakah Keselamatan Di Luar Kristen?



Oleh: Sang Misionaris.

Pendahuluan
    Pihak Kristiani, selalu melakukan penginjilan kepada orang-orang non-Kristen, khususnya kepada kaum Muslimin, dengan menyatakan bahwa di luar agama Kristen tidak ada keselamatan, dan satu-satunya jalan keselamatan, menurut mereka, hanyalah melalui Yesus. Untuk mendukung pernyataan mereka tersebut, sebagaimana yang pernah penulis alami, biasanya penginjil akan menyentuh sisi psikologis orang yang diinjilinya, dan jika langkah tersebut tidak berhasil, maka mereka akan memberikan perbandingan kepada agama lain dengan memberikan berbagai contoh, yang dengan memberikan contoh tersebut diharapkan bisa memberikan bukti atas argumen yang mereka berikan sebelumnya. Selain bersikap eksklusif, sikap mereka tersebut tentu saja merupakan suatu bentuk penegasian atas adanya keselamatan yang ada pada agama lain. Namun apakah benar orang-orang di luar Kristen tidak akan mendapatkan keselamatan?

Masuk Kristen Pasti Selamat?
    Kristen selalu bersemangat dalam melakukan penginjilan, karena mereka meyakini bahwa orang-orang non-Kristen perlu untuk mereka selamatkan jiwanya, bahkan jika kita pergi ke toko buku Kristen, maka dengan mudah kita akan mendapatkan berbagai buku yang bernuansa penginjilan, yang biasanya berisi tentang pertanyaan yang diajukan ketika melakukan penginjilan, beserta dengan jawabannya.1 Banyak ayat di dalam PB yang telah mendorong mereka untuk melakukan penginjilan (Amanat Agung) kepada non-Kristen, seperti halnya Matius 28:19, Yohanes 3:16; 10:6, 14:6, Kisah Para Rasul 16:31, Roma 6:23, 1Yohanes 5:11, dan lain-lain. Namun yang menjadi persoalannya, ketika seorang non-Kristen pada akhirnya menjadi Kristen, apapun alasannya, apakah ia akan mendapatkan keselamatan di akherat kelak? Bagi seorang Kristen yang tradisionalis, tentu saja mereka akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan jawaban pasti mendapatkan keselamatan. Namun jika kita mencermati berbagai pandangan dalam internal Kristen sendiri dengan menggunakan pendekatan historis, maka kita akan mendapatkan biasnya keselamatan di dalam Kristen.  
    Adanya konflik antara Cyprianus dan Stefanus, telah mengawali terjadi konflik tentang keselamatan pada masa Kristen mula-mula, konflik tersebut terjadi karena adanya persoalan tentang baptisan ulang bagi orang-orang Kristen yang pernah mendapatkan pembaptisan dari sekte Kristen, namun ia ingin kembali ke dalam Gereja Katolik. Cyprianus dari Karthago berpendapat bahwasannya orang yang ingin masuk atau kembali ke dalam Gereja Katolik, mereka harus mendapatkan pembaptisan ulang, meskipun sebelumnya ia telah dibaptis oleh sekte Kristen. Cyprianus berpendapat demikian karena adanya gagasan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan, dan para pejabat sekte yang melakukan sakramen dianggap olehnya tidak bernilai apa pun dan bahkan dianggap tidak sah. Namun, gagasannya Cyprianus tersebut ditentang oleh Stefanus, seorang uskup Roma, yang menolak gagasannya tersebut.2
    Eksklusivisme agama Kristen di masa lampau, muncul secara bersamaan dengan adanya perjuangan Gereja untuk menegaskan eksistensinya sebagai pihak yang memiliki kebenaran satu-satunya dalam memberikan keselamatan, yang keyakinan Gereja tersebut berpijak pada Perjanjian Baru dengan menekankan adanya keunikkan Kristus dan menegaskan finalitas sejarah keselamatan di dalam Kristus, yaitu inkarnasi dan juga eskatologi. Tetapi di luar ranah dogmatik, ungkapan eksklusivisme yang paling jelas tampak dalam adagium “extra ecclesiam nulla salus”, di luar Gereja (Katolik) tidak ada keselamatan, yang ungkapan tersebut berasal dari Cyprianus. Dari ungkapan tersebut, ia ingin menyatakan adanya kesalahan atas pembaptisan yang diberikan oleh para bidaah, dan pembaptisan yang dilakukan tersebut tidak membawanya kepada keselamatan. Pandangannya Cyprianus, dan juga Bapa-bapa Gereja lainnya seperti Irenaeus, Clemens dari Alexandria, dan Origenes, bertolak dari pemikiran bahwa Gereja merupakan bahtera Nuh yang bisa menyelamatkan para penghuni di dalamnya. Augustinus pun mengatakan hal yang serupa dengan Cyprianus bahwa di luar Gereja Katolik ada banyak hal, kecuali keselamatan. Ungkapan itu, sebenarnya sebuah pagar dalam mencegah keluarnya umat Kristen dari ajaran yang benar tentang iman Kristen, dan di sisi lain ingin meyakinkan kesesatan-kesesatan dari pandangan para bidaah dan juga kaum Gnosis.3 Dalam karyanya Cyprianus, de cattolicae ecclesiae unitate, ia menulis bahwa hanya ada satu Kristus, hanya ada satu Gerejanya, hanya ada satu iman dan satu jemaat Allah. Bagi Cyprianus, suatu hal yang tidak mungkin memiliki Allah sebagai Bapa, jika tidak memiliki Gereja sebagai Ibu. Adapun perwujudan dari Gereja lokal ini termaktub di dalam diri uskup, menurut Katolik, uskup merupakan penerus dari para rasul.4 Oleh karena itu, siapapun orang Kristen yang dogmanya tidak sesuai dengan dogma Gereja Katolik, maka ia tidak akan mendapatkan keselamatan, sebagaimana halnya pandangan Cyprianus di atas.  
    Pada masa Cyprianus, yang di maksud dengan “di luar Gereja Katolik” bukanlah agama-agama lain, tetapi maksudnya ialah segala ajaran yang terdapat pada Kristen harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Gereja Katolik. Kesalahpahaman atas adanya adagium Cyprianus tersebut, selalu dibawa-bawa dalam semangat ideologis, seiring dengan adanya perjumpaan, konflik dan pertentangan dengan aneka ragam kepercayaan dan kebudayaan lain di luar Eropa, bahkan kesalahpahaman itu telah terjadi selama berabad-abad lamanya hingga Konsili Vatikan II.5

Pandangan Katolik   
    Menurut pihak Katolik, Allah menghendaki semua manusia untuk diselamatkan sejak awal penciptaan, dan janji keselamatan Allah kepada semua manusia sudah mulai diwartakan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, yang janji Allah tersebut terpenuhi dalam diri Yesus Kristus, ketika Allah Putera menjelma menjadi manusia. Katolik selalu menyitir pandangan Bapa-bapa Gereja dalam menguatkan setiap dogmanya, termasuk pula tentang apa yang kita bahas saat ini. Katolik mengklaim, bahwa Santo Augustinus telah menyebut Yesus sebagai Yesus bagi semua orang, karena penebusan Kristus merupakan penebusan universal, kepada semua orang, maka semua orang dipanggil kepada keselamatan. Karena tidak ada orang yang memiliki kesempatan untuk menerima Injil dan untuk masuk menjadi anggota Gereja, menurut Katolik, bahwa mereka diselamatkan di dalam Kristus yang diperoleh berdasarkan rahmat, yang rahmat tersebut diyakininya berasal dari Kristus saat di Kayu Salib, yang disampaikan oleh Roh Kudus. Orang-orang yang tidak atau belum mengenal Yesus, maka mereka diselamatkan oleh iman implisitnya kepada Kristus, dan Katolik menisbatkan iman implisit tersebut kepada orang yang beriman lainnya (non-Kristen) dan bukan kepada orang-orang yang tidak beriman (ateis).6 Berdasarkan fakta sejarah Kekristenan, sebenarnya pandangan universalisme bukanlah dimulai pada masa Konsili Vatikan II, melainkan sudah terjadi pada masa Bapa-bapa Gereja, seperti halnya Clement dan Origen, yang pandangannya tersebut telah mempengaruhi gereja-gereja sampai pada abad pertengahan. Clement berpendapat bahwa pengenalan akan Allah bagi orang Yahudi adalah melalui Taurat, dan bagi orang Yunani, melalui filsafat dalam inspirasi Logos (Kristus). Sedangkan menurut Origen, semua makhluk akan diselamatkan, termasuk pula setan.7
    Konsili Vatikan II yang berada di bawah pimpinan Paus Yohanes XXIII, yang berlangsung dari tahun 1965 sampai 1965, telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi Gereja Katolik. Meski sebelumnya Gereja Katolik bersikap eksklusif, di mana gereja telah memegang kuat rumusan tradisional yang meyakini tidak adanya keselamatan di luar gereja, yang diperkuat dengan Konsili Lateran IV di abad 13 M, namun sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik berubah posisinya menjadi inklusif. Penolakan atas rumusan tradisional tersebut pada akhirnya dinyatakan dalam deklarasi mengenai hubungan gereja dengan agama-agama non-Kristen, yaitu:
“Mereka (non-Kristen) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus ikhlas mencari Allah dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya. Begitu pula pemeliharaan Allah tidak menolak pertolongan yang diperlukan untuk penyelamatan mereka yang bukan karena kesalahannya, belum sampai pada pengetahuan yang jelas mengenai Allah, tetapi yang berusaha hidup dengan baik berkat kasih karunia-Nya (Gereja, 2:15). (Penyelamatan) bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi untuk semua orang yang berkendak baik, yang didalam hatinya kasih karunia bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Sebab, karena Kristus mati untuk semua orang, dan dengan panggilan pokok manusia sebenarnya satu dan Ilahi, maka kita harus percaya bahwa Roh Kudus dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah, menawarkan kepada setiap orang kemungkinan untuk berhubungan dengan rahasia Paskah ini (Gereja dalam dunia modern, 1:22).”8

Pandangan Protestan
    Kristen pada umumnya, meyakini tidak ada keselamatan di luar Yesus atau Kristen, yang keyakinan mereka tersebut berpijak pada ayat-ayat Perjanjian Baru (PB), misalnya Yohanes 14:6, Kisah Para Rasul 4:12, 2 Timotius 2:10, dan lain-lain. Namun berbeda dengan pandangan Kristen pada umumnya, selain Katolik yang meyakini adanya universalisme dalam Kekristenan, Pdt. Erastus Sabdono dari Protestan pun meyakini pula bahwa orang-orang non-Kristen bisa mendapatkan keselamatan, meski mereka tidak menjadi seorang Kristen ataupun tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan-nya.
    Ketika Erastus Sabdono menyinggung Kisah Para Rasul 4:12, ia memberikan penekanan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus, dan hal tersebut merupakan harga mati baginya. Namun, saat ia mulai menafsirkan Yohanes 1:29, ia berkeyakinan bahwa Yesus telah memikul semua dosa manusia, dari Adam sampai manusia terakhir. Ia berpendapat demikian, karena menurutnya, dalam teks Yohanes 1:29 tidak menyiratkan sama sekali bahwa Yesus hanya mengangkat sebagian dosa manusia, atau pun mati untuk sebagian manusia, melainkan untuk semua manusia. Ia berkesimpulan demikian, karena dalam teks aslinya, menurutnya, tidak ada kata “hanya”.9
     Secara tegas Erastus Sabdono menyatakan bahwa semua orang di luar Kristen bisa mendapatkan keselamatan, gagasannya tersebut berpijak pada sebuah tesis bahwa kematian Yesus di kayu salib bukan untuk orang Kristen saja, melainkan untuk semua manusia.  Lebih lanjut ia menyatakan, “Dengan hal ini terdapat kemungkinan orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil atau salah mendengar Injil dapat dihakimi menurut perbuatan mereka. Dari penghakiman tersebut mereka dapat diperkenankan masuk dunia yang akan datang (Matius 25:31-46).” Meski ia meyakini bahwa di luar Kristen bisa mendapatkan keselamatan, namun ia membedakan istilah keselamatan yang didapatkan oleh orang yang percaya (Kristen) dengan istilah keselamatan yang sempurna, sedangkan bagi non-Kristen menggunakan istilah keselamatan yang tidak sempurna. Menurutnya, keselamatan tidak sempurna adalah keselamatan yang tidak membawa manusia kepada kesempurnaan, tidak membuat seseorang memiliki kemampuan mengenakan kodrat Ilahi, mereka tidak mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau tidak dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Sedangkan keselamatan yang sempurna ialah keselamatan yang membawa manusia kepada kesempurnaan, membuat manusia mampu mengenakan kodrat Ilahi, dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau dikembalikannya ke rancangan semula.10

Kesimpulan
    Jadi, ketika Kristen pada saat ini yang dengan suara lantangnya menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus, dalam artian, siapapun yang masih menjadi non-Kristen harus masuk Kristen supaya jiwanya mendapatkan keselamatan, tentunya keyakinan mereka tersebut bias, dan bahkan mendapatkan penolakan dari pihak lain di kalangan internal Kristen sendiri. Justru jika kita melakukan pendekatan historis dari zaman Bapa Gereja hingga saat ini, biasnya keselamatan dalam Kristen timbul karena adanya ketidakseragaman pandangan internal Kristen dalam menilai keselamatan bagi orang-orang non-Kristen, meski setiap kubu yang ada, sama-sama merujuk pada ayat-ayat yang terdapat di dalam PB. Jika menjadi Kristen bisa mendapatkan keselamatan, tetapi orang-orang non-Kristen pun bisa mendapatkan pula keselamatan, lalu kelebihan apa yang dimiliki oleh agama Kristen ketika orang yang beriman dengan yang tidak beriman pun pada akhirnya disamakan?

Sumber: sangmisionaris.blogspot.com