Buku-Buku yang diterbitkan AWF

Buku-buku yang Kristologi yang diterbitkan AWF bisa didapatkan disini, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Kristologi.

Kajian Kristologi

AWF bekerjasama dengan berbagai pihak memberi kajian kristologi di beberapa tempat untuk meneguhkan aqidah umat Islam

Kursus Kristologi Dasar

Kursus Kristologi Dasar (KKD) sering diadakan secara berkesinambungan untuk memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar Kristologi baik di kampus AWF maupun di pondok Pesantren

Pendekatan Persuasif

Pendekatan dan kerjasama AWF dengan berbagai elemen masyarakat untuk meneguhkan Aqidah umay Islam

Kunjungan AWF

Berbagai kunjungan dan kajian AWF diberbagai daerah untuk memberikan kajian dan kursus Kristologi, baik di Masjid-masjid maupun di Pondok Pesantren

DIBONGKAR : Bukti Kebohongan Publik Yang Dibuat Kristen




Menurut B.K. Kuiper, kepausan telah dibantu oleh usaha-usaha persekongkolan orang-orang yang berhasil memperkuat posisi dan otoritas kepausan melalui kebohongan dan kecurangan. Dalam menguatkan argumentasinya tersebut, Kuiper telah memberikan dua contoh dalam membuktikan adanya kebohongan yang dibuat agar Paus memiliki legalitas dalam kekuasaannya, seperti:

1. Sekitar zaman Charlemagne, muncul sebuah dokumen yang disebut "Sumbangan Konstantinus". Dokumen itu menceritakan bahwa Kaisar Konstantinus, sebagai penghargaan terhadap Paus, memutuskan untuk memindahkan tempat tinggalnya dari Roma ke Byzantium di Bosporus, kota yang kemudian disebut dengan Konstantinopel. Tujuannya dalam hal ini adalah supaya pemerintah kaisar yang sekuler tidak dapat mengendalikan pemerintahan Paus yang bersifat rohani.

Pada saat meninggalkan Roma, menurut dokumen ini, Konstantinus memerintahkan semua pejabat pemerintah yang ada di dalam gereja untuk tunduk pada Paus Sylvester I dan kepada para penggantinya di tahta kepausan. Selanjutnya, ia menyerahkan kota Roma dan semua provinsi, distrik, dan kota-kota di Italia dan di daerah-daerah sebelah barat kepada para Paus. Dengan demikian, menurut dokumen ini, Konstantinus telah mengaruniakan kedaulatan atas setengah kekaisaran di bagian barat kepada para Paus.

2. Pada abad pertengahan, tepatnya di abad ke-9 M, muncul dokumen kedua yang misterius, yang disebut sebagai dokumen "Keputusan-keputusan Isidorian (Isidorian Decretals)", dokumen tersebut disebut demikian karena dokumen tersebut telah dikumpulkan di Isidore dari Seville. Dokumen itu terdiri dari keputusan-keputusan para Paus dan konsili-konsili dari sejak Klemens di Roma pada abad pertama sampai Gregorius II pada abad ke-8 M. Uskup-uskup tersebut, menurut dokumen ini, dapat naik banding langsung pada Paus, baik Paus maupun Uskup-uskup tidak tunduk pada kekuasaan pemerintah yang sekuler. Dan "Sumbangan Konstantinus" telah dimasukkan ke dalam keputusan ini.

Seluruh sistem hierarkhikal (serangkaian pemimpin, masing-masing harus tunduk yang secara otomatis pada pemimpin yang ada di atasnya), menurut Kuiper, adalah hasil dari suatu perkembangan yang luas selama beberapa abad lamanya. Tetapi dokumen Isidorian Decretals, ungkap Kuiper, telah menunjukkan sistem ini sebagai sesuatu yang utuh dan tidak berubah dari permulaan, di mana tujuan dokumen tersebut untuk menunjukkan bahwa semua hak yang diakui oleh para Paus pada abad ke-9 M, telah dijalankan oleh mereka dari masa-masa yang paling awal.

Selama ratusan tahun lamanya, dokumen-dokumen tersebut telah diterima dan dipandang sebagai dokumen yang asli. Namun menurut Kuiper, pada tahun 1433 M, Nicholas de Cusa, adalah orang pertama yang menyatakan bahwa dekrit tersebut adalah palsu. Selain itu, dokumen-dokumen ini mulai disebut "Pseudo-Isidorian Decretals", dan pada tahun 1440 M, Lorenzo Vall pun membuktikan pula bahwa "Sumbangan Konstantinus" adalah dokumen palsu. Dari adanya penelitian tersebut, akhirnya para sarjana Katolik setuju dengan sarjana Protestan bahwa kedua dokumen tersebut sama-sama palsu. Dokumen-dokumen fiktif, sebagaimana kedua dokumen tersebut, bukanlah hal yang baru. Tetapi kedua dokumen ini ada di antara berbagai kecurangan yang sangat besar yang pernah dilakukan. Ketika dokumen-dokumen tersebut disusupkan dan diklaim sebagai dokumen yang asli di sepanjang Abad Pertengahan, dokumen tersebut telah memberikan kesempatan yang cukup besar bagi kepausan untuk memperkuat diri dan melakukan penyerobotan.

Kisah di atas merupakan sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Kristen Katolik demi mendapatkan legalitas kekuasaan dihadapan orang-orang Kristen lainnya, lalu bagaimana dengan kebohongan publik lainnya yang telah dibuat oleh Kristen? Richard Fletcher, telah mengungkapkan adanya kebohongan yang dilakukan oleh para penyair Kristen ketika mereka mendaur-ulang syair Chanson de Roland. Menurut Richard, dalam syair epik Prancis kuno yang disebut Chanson de Roland, manuskrip tersebut berisi tentang berbagai syair yang menggunakan bahasa Prancis bagian Selatan, yang berasal dari abad ke-11 M.

Menurutnya, syair tersebut mendapatkan pedomannya dari peristiwa sejarah, yaitu adanya kekalahan yang dialami oleh pasukan pengawal tentara Charles Magnus, di bawah komando Roland, di jalur Roncesvalles Pyrenea pada tahun 778 M, di tangan Basque lokal. Richard mengungkapkan lebih lanjut, bahwa para penyair yang mengarang kembali sejarah tersebut telah mengubahnya. Musuh yang ada diubah menjadi orang Muslim Spanyol, pengkhianatan menjadi titik balik plotnya, sedangkan Roland dikisahkan sebagai figur yang heroik, di mana pertempuran di Roncesvalles yang dianggap tidak penting pun pada akhirnya dimasukkan sebagai pertempuran hebat antara orang Kristen dan lawan-lawannya, yang lawannya tersebut dikisahkan sebagai para penyembah berhala, yang bernama Mahoun, Apollyon dan Tervagant. Secara mencolok, syair tersebut telah menyatakan   bahwa penyembah berhala adalah pihak yang salah, sedangkan orang Kristen adalah berada di pihak yang benar.*/Sang Misionaris



Dikutip dari:
Fletcher, Richard. The Cross and The Crescent: Riwayat Tentang Perjumpaan Awal Umat Islam dan Kristen. Terj., Abdul Malik. Tangerang: Alvabet, 2007. Hal. 86-87.

Kuiper, B.K. The Church in History. Terj., Desy Sianipar. Malang: Gandum Mas, 2010. Hal. 83-84.

Benarkah Kebangkitan Yesus Sesuai Dengan Fakta Sejarah?


   
    Salah satu pokok yang hangat diperdebatkan oleh para ahli Perjanjian Baru adalah tentang kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi perdebatan karena ada pihak Kristen yang tidak bisa mengabaikan kebangkitan Yesus. Namun sementara itu, para sarjana yag melakukan studi-studi tentang kebangkitan Yesus memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengakui kebangkitan sebagai peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia, tetapi ada pula yang tidak. Adanya perbedaan tersebut sering kali menimbulkan persoalan di kalangan Kristen karena perbedaan interpretasi terhadap kebangkitan itu sendiri. Yang menjadi persoalannya adalah apakah Yesus benar-benar telah dibangkitkan dari antara orang mati?
    Menjawab pertanyaan itu, para ahli Perjanjian Baru memberikan jawaban yang berbeda-beda. Conzelman dalam karyanya, Theology of Saint Luke, berpendapat, bahwa kebangkitan tidak dapat dibuktikan sebagai suatu peristiwa historis. Menurutnya, unsur yang menonjol di dalam peristiwa kebangkitan adalah unsur iman. Kebangkitan hanya dapat dilihat dari sudut iman bukan berdasarkan bukti historis. Jadi, kebangkitan hanya diakui dalam iman ketika Injil diberitakan.
    Sedangkan menurut Willi Marxsen, dalam karyanya, The Resurection of Jesus of Nazareth, berpendapat bahwa kepercayaan akan kebangkitan Yesus tidak berbeda sama sekali dari apa yang Yesus ajarkan. Ajaran Yesus, hidup sekarang untuk membawa orang kepada iman. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sejauh mana percaya pada ajaran Yesus, imannya kepada kebangkitan tidak dapat dikurangi oleh hasil suatu penafsiran. Oleh karena itu, iman kepada Yesus dan kebangkitannya harus dilihat sebagai bagian dari kebangkitan itu sendiri. Dalam mengamati laporan Injil-injil. Marxsen menyatakan bahwa Injil Matius tidak bermaksud menyampaikan suatu laporan mengenai buktik historis tentang kebangkitan Yesus, sebab hal itu bukan maksudnya. Maksud Matius hanyalah menunjukkan kehadiran Yesus kepada murid-muridnya. Matius tidak memusatkan perhatiannya kepada iman kebangkitan, tetapi ia menunjukkan bahwa iman kepada Yesus sangat penting bagi semua pengikutnya. Itulah iman yang murid-murid miliki ketika ia masih bersama mereka. Iman itu berakhir ketika ia mati.
    Marxsen sendiri tidak percaya bahwa Yesus bangkit meninggalkan kuburnya yang kosong. Menurut Marxsen, kematian Yesus menandai berakhirnya keberadaan fisik Yesus secara manusiawi. Tubuh Yesus berakhir dengan kematian, tetapi iman kepada Yesus berlangsung terus. Dengan kata lain, Marxsen tidak mengakui adanya kubur yang kosong. Injil Markus, menurut Marxsen, yang pertama melaporkan tentang kubur yang kosong itu. Ia (Markus) tidak melaporkan bahwa para perempuan itu datang ke kubur dan menemukan kubur itu kosong lalu menyimpulkan bahwa Yesus telah bangkit. Orang muda yang ada pada kubur itu yang mengatakan kepada perempuan-perempuan itu bahwa Yesus, orang Nazareth, telah bangkit. Lalu ia mengarahkan perhatian perempuan-perempuan itu dengan berita, berdasarkan penglihatan itu, bahwa Yesus telah bangkit dari kubur. Sedangkan dalam Injil Lukas, menurut Marxsen, ia hanya menceritakan tentang perempuan yang pergi ke kubur itu, di mana mereka tidak menemukan tubuh Yesus, untuk menyatakan kepada para pembacanya tentang kebangkitan Yesus. Cerita Lukas, lanjut Marxsen, memang berbeda dengan Markus karena Lukas menulis ketika gereja sedang merumuskan imannya kepada Yesus.  
    Dari adanya pandangan Marxsen tersebut, Kistemaker telah menyampaikan kritikannya di dalam karyanya yang berjudul The Gospel in Current Study. Menurutnya, Marxsen tidak teliti dalam meneliti bahan-bahan Perjanjian Baru. Marxsen memisahkan kaitan antara sejarah dan iman. Sementara ia melepaskan hubungan itu, ia terlampau menekankan aspek iman. Lalu, untuk memenuhi penekanan pada iman itu, ia melompati sejumlah bahan yang tidak mendukung kesimpulannya. Kistemaker juga mengkritik Marxsen bahwa penampakan Yesus kepada Petrus dan para murid yang lainnya itu hanya suatu “penglihatan” dalam pikiran Petrus dan murid-muridnya yang lain. Menurut Kistemaker, jika itu benar, mengapa Petrus di dalam rumah Kornelius, di Kaisarea memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus pada hari yang ketiga. Mengapa Petrus mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada dirinya dan murid-murid yang lainnya, dan makan minum bersama dengan mereka sesudah kebangkitannya? (Kisah Para Rasul 10:41). Pasti ungkapan ini bukan menggambarkan situasi sebelum kebangkitan. Kistemaker juga mengkritik pandangannya Marxsen yang menyatakan bahwa kematian telah mengakhiri keberadaan tubuh insani Yesus. Dengan kata lain, yang bangkit itu bukan Yesus dalam tubuh insaninya, melainkan rohnya. Sedangkan menurut Kistemaker, kebangkitan Yesus dari kubur adalah kebangkitan secara fisik, yang pandangannya itu didasari oleh tulisan-tulisannya Paulus, seperti 1 Korintus 15:51 dan 52. Kistemaker menilai bahwa pandangan Marxsen itu semata-mata berdasarkan suatu tafsiran, yang tidak lebih dari itu. Karena pada kenyataanya, Marxsen tidak tertarik pada kebangkitan Yesus. Ia lebih menekankan iman secara individu yang bertemu dengan Yesus. Akan tetapi, dengan melakukan hal yang sama demikian, Marxsen telah mengurangi peristiwa kebangkitan Yesus tidak lebih dari sebuah gagasan.
    Teolog yang meyakini bahwa kebangkitan Yesus bukan berdasarkan fakta historis adalah Wolfhart Pannenberg, di mana gagasannya itu ia tuangkan pada sebuah buku yang berjudul Did Jesus Really Rise From the Dead. Menurutnya, benar tidaknya Yesus bangkit dari antara orang mati tidak cukup jelas. Ia berpendapat bahwa kebangkitan Yesus bukan suatu peristiwa yang membuat tubuh Yesus hidup lagi, sama seperti seseorang yang bangun dari tidurnya tetapi sebagai suatu transformasi. Ia menunjuk kepada 1 Korintus 15:50 dan 53, sebagai dasar argumentasinya. Sedangkan adanya penampakan-penampakan Yesus kepada para muridnya, Pannenberg berpendapat bahwa Yesus dan penemuan kubur kosong oleh para perempuan adalah peristiwa yang terjadi secara terpisah. Peristiwa-peristiwa itu dihubungkan hanya ketika tradisi-tradisi penampakan dan kubur kosong itu dibangun.
    Mengenai historisitas kebangkitan Yesus, Pannenberg di dalam Jesus-God and Man, mengatakan bahwa kebangkitan Yesus yang diceritakan dalam Injil-injil merupakan (sebuah) legenda. Menurutnya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, ia tidak pernah menampakan diri secara fisik. Karena alasan itu, ia memilih untuk menyatakan bahwa peristiwa kebangkitan merupakan suatu peristiwa yang metaforis. Penampakan itu, lanjut Pannenberg, meruapakan pengalaman dalam bentuk penglihatan-penglihatan. Tidak ada kebangkitan secara fisik dari kubur.
    Perlu diketahui, bahwa keempat Injil melaporkan bahwa Yesus, secara fisik, telah bangkit dari antara orang mati. Sementara, kebangkitan itu sendiri tidak disaksikan oleh seorang pun sebagai suatu peristiwa. Yang ada hanyalah tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa kubur Yesus telah kosong dan Yesus menampakan dirinya kepada para murid-muridnya. Jika kebangkitan Yesus dari kubur merupakan sebuah peristiwa yang bersifat faktual dan memiliki basis historis, tentunya para penulis Yunani dan Romawi yang kala itu sezaman dengan Yesus akan mengisahkan peristiwa tersebut. Namun nyatanya, pengisahan tentang kebangkitan Yesus yang selama ini diyakini oleh Kristen tidaklah memiliki basis historis yang bisa diandalkan, melainkan hanya bersifat teologis, di mana unsur iman yang selama ini diyakini oleh Kristen, sejatinya telah mengabaikan adanya tuntutan-tuntutan historis dalam membuktikan bahwa apa yang diimani selama ini merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam sejarah manusia./*Sang Misionaris

Artikel ini dikutip dari Samuel Benyamin Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar, dan Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010).

Layakkah Kristen Disebut Sebagai Agama Konflik?


    Sejak munculnya agama Kristen, orang-orang Kristen telah mengalami segala bentuk penganiayaan dan pembunuhan, sebagaimana halnya yang terjadi di masa Kaisar Nero, Dominatus, dan Trayanus (Ichwei G.Indra, Jejak Juang Saksi Injil: Sejarah Gereja Umum Dan Sejarah Gereja Indonesia, hlm. 27). Dari adanya kondisi demikian, telah membuat orang-orang Kristen yang hidup di zaman modern saat ini selalu menyatakan bahwa Kristen adalah agama kasih, karena orang-orang Kristen yang menjadi korban kekejaman di masa lalu, tidak pernah memberikan pembalasan kepada orang-orang yang telah melakukan penganiayaan kepada mereka. Namun ternyata, pengklaiman dan jargon yang selalu mereka usung selama ini akhirnya terbantahkan di saat Kristen telah menjadi agama resmi dan mendominasi suatu negara, di mana kala itu orang-orang Kristen telah menjadi pelaku kejahatan dan kekejaman, baik terhadap orang-orang Kristen maupun non-Kristen.

Serangan Para Sarjana Kristen Terhadap Injil



    Setelah Georg Wilhelm Friedrich Hegel meninggal (1831 M), telah terjadi benturan hebat antara para intelektual di masa itu. David Friedrich Strauss menamakannya sebagai benturan antara ‘class’ Hegelian Kiri; (pengikut Hegel Kiri) yang bersifat non-Kristiani yang mengkritik agama Kristen, yang dipimpin oleh Bruno Bauer, Karl Marx, Arnold Ruge dan Maz Stirner, dan Hegelian Kanan; yang disebut sebagai kaum fundamentalis Kristen yang terinspirasi dari filsafat Hegel tapi mengutuk kritik radikal terhadap agama Kristen yang dilancarkan oleh David Friedrich Strauss dalam Das Leben Jesu (Kehidupan Yesus).

Benarkah Utsman Telah Memukul Ammar Hingga Merobek Ususnya?


   
    Khalifah ketiga yaitu Utsman bin Affan merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang selalu mendapatkan banyak fitnahan dari orang-orang yang membencinya, salah satunya ialah bahwa Utsman dianggap telah memukul Ammar bin Yasir hingga merobek ususnya. Namun, benarkah Ammar telah dipukul oleh Utsman hingga robek ususnya? Jelas, hal itu tidaklah benar. Karena jika ususnya robek, tentunya Ammar akan mengalami kematian. Lalu, seperti apa periwayatannya dan bagaimana sanggahannya terkait adanya fitnahan tersebut?
    Telah Diriwayatkan oleh ath-Thabari (5/99), dari Sa’id Ibnul Musayyab bahwasannya ada perselisihan di antara Ammad dan Abbas bin Utbah bin Abu Lahab. Oleh karena itulah, Utsman pada akhirnya mendidik mereka dengan memberikan pukulan. Menurut Muhibbun al-Khatib, terjadinya pemukulan kepada para sahabat lain bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Utsman, melainkan pernah dilakukan pula oleh para pemimpin sebelumnya. Ia menuturkan, bahwa Umar pernah melakukan hal itu kepada orang semisal Ammar dan orang-orang yang lebih baik dari Ammar, karena Umar memiliki hak kekuasaan atas kaum Muslimin.
    Ketika para pengikut Abdullah bin Saba menyusun suatu gerakan dalam penyebaran isu yang memuat berita bohong dengan cara mengirimkan beberapa buku dari satu daerah ke daerah yang lain, para sahabat mengisyaratkan kepada Utsman agar mengirimkan orang-orang kepercayaannya ke beberapa daerah tersebut untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Maka Utsman pun berusaha melupakan apa yang terjadi pada Ammar, dan mengutus Ammar ke Mesir untuk menjadi orang kepercayaannya dalam mengungkapkan kondisi wilayah tersebut. Karena adanya kelambanan Ammar dalam melakukan tugasnya, maka kondisi tersebut segera dimanfaatkan oleh para pengikut Abdullah bin Saba dengan cara mendekatinya agar ia condong kepada mereka. Namun, Utsman bersama dengan seorang pegawainya mengetahui hal itu, yang pada akhirnya ia pun dipanggil oleh Utsman untuk ke Madinah, dan saat ia menghadap Utsman, maka ia pun disalahkan atas adanya persengkongkolan tersebut dengan berkata, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimisyqa (7/429), “Wahai Abul Yaqzhan, kamu telah menuduh Ibnu Abu Lahab bahwa ia telah menuduhmu, dan kamu marah tatkala aku menghukum secara hak yang aku lakukan kepadamu dan kepadanya. Ya Allah, aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan menegakkan aturan-aturan-Mu pada setiap orang dan aku tidak memperdulikannya. Pergilah dariku, wahai Ammar!” Lalu Ammar pun pergi. Selanjutnya, ketika Ammar bertemu dengan orang awam maka dia berusaha membela diri dan mengikis semua itu. Ketika Ammar berjumpa dengan orang-orang yang dia percayai, dia memperlihatkan rasa penyesalannya. Dan orang-orang itu pun memyalahkannya, meninggalkannya, dan juga membencinya.   
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Minhajus Sunnah (3/192,193), Utsman lebih utama daripada setiap orang yang dibicarakan tadi. Dia lebih utama daripada Ibnu Mas’ud, Ammar, Abu Dzarr, dan yang lain karena berbagai alasan sebagaimana yang telah ditetapkan dengan beberapa argumen. Maka, ucapan orang yang lebih rendah derajatnya tidaklah menodai orang yang lebih tinggi, berbeda dengan sebaliknya. Begitu juga apa yang dikutip dari ucapan Ammar mengenai Utsman dan ucapan al-Hasan mengenai Ammar, “Dikutip bahwa Ammar berkata, ‘Utsman telah kafir sebagaimana orang-orang kafir Shal’aa.’” Lalu al-Hasan bin Ali menyangkal tentang hal itu, demikian juga dengan Ali. Dia berkata kepada Ammar, “Apakah kamu telah ingkar (kafir) kepada Tuhan yang diimani oleh Utsman?”
    Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Dari semua itu, menjadi jelas bahwa orang Mukmin yang merupakan kekasih Allah, terkadang meyakini kufurnya orang Mukmin lain yang juga kekasih Allah, dan keyakinannya ini salah. Karena hal tersebut tidaklah mempengaruhi iman seseorang dari keduanya dan kewaliannya. Sebagaimana ditetapkan dalam hadits shahih bahwasannya Usaid bin Khudhair pernah berkata kepada kepada Sa’id bin Ubadah di hadapan Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya kamu orang munafik yang membela kepentingan orang-orang munafik.” Juga sebagaimana perkataan Umar bin Khathab kepada Hathib bin Abu Balta’ah, “Ya Rasulullah, biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya dia pernah menyaksikan perang Badar. Tahukah kamu bahwa Allah telah melihat setiap orang dari ahli Badar, lalu berfirman, ‘Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian!’” Umar jauh lebih utama daripada Ammar, dan Utsman lebih utama daripada Hathib bin Abi Balta’ah. Argumen Umar terhadap apa yang dia katakan kepada Hathib lebih jelas daripada argumen Ammar. Meskipun demikian, keduanya termasuk penduduk surga.
    Lantas, mengapa Utsman dan Ammar juga tidak termasuk penduduk surga, meskipun salah satu darinya mengatakan suatu perkataan kepada yang lain? Padahal, sekelompok ulama ada yang mengingkari kalau Ammar mengatakan hal itu, lalu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Secara keseluruhan, jika dikatakan bahwa Utsman bin Affan memukul Ibnu Mas’ud atau Ammar, maka ini tidak menodai atau mempengaruhi seseorang pun darinya. Karena kami menyaksikan bahwa ketiganya adalah penduduk surga dan mereka termasuk kekasih Allah yang bertaqwa. Kekasih Alah terkadang melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan hukuman dalam segi syariat. Lantas, bagaimana jika perbuatan itu hanya menyebabkan peringatan?! Umar bin Khathab pernah memukul Ubay bin Ka’ab dengan tongkat kecil tatkala dia melihat orang-orang berjalan di belakang Ubay. Dia berkata, “Ini adalah kerendahan bagi orang yang ikut dan fitnah bagi orang yang diikuti.” Tatkala Utsman mendidik mereka, bisa jadi Utsman benar terkait dengan hukuman yang dia jatuhkan karena mereka berhak menerimanya, dan orang-orang yang dihukum menjadi bertobat dan dileburkan kesalahan-kesalahannya karena hukuman dan musibah lainnya, atau karena kebaikan mereka yang besar, atau yang lainnya. Dan bisa jadi pula dikatakan: Mereka secara mutlak adalah orang yang dizhalimi.*/Apologethok

Sumber: Disarikan dari karya Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabi, Gejolak Api Permusuhan Syi’ah-Khawarij-Orientalist Terhadap Sahabat Nabi saw, terj. Muhammad Suhadi, (Jakarta: Akbar Media, 2010).

Amanat Agung Yang Melahirkan Kearogansian Kristen Terhadap Islam


    Bukan suatu hal yang kebetulan bahwa dua agama dunia terbesar dan tersebar paling luas adalah agama misi, yakni agama Islam dan Kristen. Tidak seperti orang-orang Hindu, Yahudi, Tao, dan penganut Shinto yang taat, umat Islam dan Kristen diperintahkan untuk membawa berita gembira dan melakukan misi (penyebaran agama) ke seluruh dunia. Meskipun Islam dan Kristen tidak sepakat tentang hakikat wahyu Tuhan dan jalan menuju tujuan akhir, namun penganut kedua agama tersebut setuju bahwa iman yang mereka yakini itu mengandung amanat misi.1
    Sekitar abad ke-16 M, melalui bangsa Eropa, yakni Spanyol dan Portugis, masyarakat Indonesia pada akhirnya mengenal agama Kristen, kedatangan kedua bangsa Eropa tersebut tidak hanya bermotifkan agama (menyebarkan agama Kristen), melainkan karena adanya motif politik, yaitu bermaksud untuk melemahkan kekuatan serangan bangsa Turki, yang telah mengancam Eropa pada masa itu, dan yang terakhir, karena adanya motif untuk mencari kekayaan. Adanya bayang-bayang permusuhan Kristen terhadap Islam, seperti halnya yang dialami oleh Portugis dan Spanyol, mengalami kelanjutan sampai ke beberapa wilayah jajahannya, seperti Filipina, Semenanjung Melayu, dan Indonesia. Dalam melakukan penjajahan, kedua bangsa tersebut tidak segan-segan untuk menggunakan senjatanya dalam melakukan monopoli perdagangan dan melindungi aktivitas pekabaran Injil. Meskipun kedatangan armada dagang Spanyol dan Portugis, tidak serta-merta sejalan dengan misi gereja, karena di beberapa wilayah jajahan, banyak dari para pejabat perusahaan, serdadu asing, dan para pegawainya, tidak memiliki kepedulian terhadap ajaran agama, bahkan sepak terjang mereka sering kali tidak sesuai dengan misi gereja Katolik.2
    Portugis, misalnya, tidak hanya menancapkan kuku kekuasaan dan politiknya atas kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia Timur, melainkan melancarkan pula pengkristenan kepada penduduk pribumi, khususnya di Ternate dan Tidore, yang sudah menganut agama Islam, dan tugas tersebut merupakan sebuah realisasi dalam melaksanakan mandat Gereja Katolik Roma dalam memelihara gereja dan mendukung penyebaran Injil dan iman Kristen sebagaimana yang tertuang dalam Maklumat Paus Alexander VI tahun 1493 dan Perjanjian Tordesilas tahun 1949. Seperti halnya Portugis, Belanda pun melakukan hal yang sama yaitu mengkristenkan penduduk pribumi, yang dimulai sejak pemerintahan berbentuk kolonial VOC hingga kedudukan VOC diganti menjadi Pemerintah Hindia Belanda. Sejumlah sarjana dan teolog Kristen Belanda pada abad 17, diantaranya adalah Hugo de Groot, Guru Besar Teologi Universitas Leiden Antonius Walaeus dan Guru Besar Teologi di Ultrecht Gisbertus Voetius, ia disebut-sebut sebagai peletak dasar penginjilan dengan memberi masukan negatif atas Islam kepada para pejabat VOC yang akan dikirim ke Indonesia.3
    Pandangan negatif yang dibuat oleh Hugo terhadap Islam, bukanlah sesuatu yang baru, karena jauh sebelumnya, banyak dari para tokoh Kristen yang telah terbiasa melakukan fitnah dan menyebarkan pandangan negatifnya terhadap Islam, seperti Yohanes dari Damaskus, Leo III, Abdul Masih al-Kindi, Petrus Veneralibis, dan lain-lain.4 Manshur, yang dikenal dengan nama Yohanes dari Damaskus, misalnya, awalnya adalah seorang pengatur pungutan pajak dari daerah Syria pada masa pemerintahan Kaisar Roma, Heraklius, yang memerintah dari tahun 610-641 M. Namun di pertengahan usianya, ia memilih untuk menimba pengalaman di bidang agama, yang pada akhirnya ia dikenal sebagai Doktor Gereja. Yohanes Damaskus merupakan seorang penulis yang aktif, dengan tanggal yang tidak diketahui, ia telah mengarang Dialogue between a Saracen and a Christian. Saat-saat terakhir di masa hidupnya, sekitar tahun 745 M, ia menyusun semacam ensiklopedia tentang ketidaksepakatan teologis yang berjudul On Heresies, yang di dalamnya terdapat sebuah entri mengenai “takhayul keturunan Ismail”. Menurut Yohanes, Muhammad menulis sejumlah karangan yang menggelikan dalam bukunya, yang diakui sebagai wahyu dari surga. Kemudian, ia pun melanjutkan pembahasannya pada sejumlah doktrin atau praktik tertentu dalam Islam yang ia anggap aneh dan menceritakan hal-hal buruk tentang Nabi Muhammad. Dalam upayanya menjelek-jelekkan agama Islam, tak ketinggalan, ia pun mengutip beberapa ayat Al-Quran secara selektif.5
    Bagaimana pun, pihak Kristiani tidak bisa menyangkal bahwa Kristen yang selama ini dikenal oleh masyarakat Indonesia, sejak awal telah dibawa dan diperkenalkan oleh para kolonial, dan fakta sejarah terkait tentang hal tersebut, sesungguhnya memiliki sumber-sumber yang melimpah, sebagaimana yang terjadi di Sumba Barat, misalnya. Pada tahun 1909, pembangunan sekolah-sekolah rakyat baru dibuka oleh seorang pendeta Wielenga di Mamboro, dan di tahun 1910 dibuka kembali sebuah vervolgschool di Pakamadara di muka kampung Wanno Bo-u (tempat kantor PPL Letekonda sekarang). Melalui Pemerintah Hindia Belanda di Sumba, para zending mendapatkan subsidi, dan menyelenggarakan pendidikan dengan memberikan tenaga guru dan alat pendidikan. Sekolah-sekolah dan rumah sakit yang telah didirikan, pada akhirnya dimanfaatkan sebagai alat untuk pekabaran Injil oleh para zending, dan tanpa adanya subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda, tentu saja pihak zending tidak akan mendapatkan kesempatan dalam melakukan pekabaran Injil kepada masyarakat setempat.6
    Menurut ketua misionaris di Yerusalem, Zwemmer, menyatakan, bahwa Kristenisasi direncanakan dunia Barat di dunia Islam bertujuan untuk mengeluarkan kaum Muslimin dari ajaran agamanya sendiri, sehingga akhirnya muncul generasi Muslim yang memusuhi agamanya sendiri. Menurut Zwemmer, upaya pengkristenan dilakukan dengan dua cara, yaitu: Pertama, memasukkan orang ke agama Kristen. Kedua, mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun harus menjadi seorang atheis sekalipun. “Tujuan kita tidak langsung mengkristenkan umat Islam, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi tujuan kita adalah menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita,” kata Zwemmer.7   
    Konflik Islam-Barat (Kristen) menurut Lewis dan Huntington, memang sudah berjalan ratusan Tahun dan cenderung meningkat. Lewis membuka bukunya dengan ungkapan, “Lebih dari 1400 tahun, sejak kebangkitan Islam di Arabia dan penaklukan bekas wilayah Kristen di pantai Timur dan Selatan Mediterania di bawah kekuasaan dan peradaban Islam, Islam dan dunia Kristen telah hidup berdampingan-selalu sebagai tetangga, sering sebagai rival, dan kadangkala sebagai musuh.” Secara historis, konflik Islam-Kristen memang sudah berlangsung panjang, dan dalam banyak hal konflik itu masih tetap berlangsung. Kolonialisme dan hegemoni Barat yang secara nominal beragama Kristen terhadap dunia Islam telah memunculkan wacana “Barat Versus Islam”, yang tetap banyak mendapatkan perhatian dan kajian hingga kini. Yang menarik dalam konflik Barat (Kristen) dan Islam adalah posisi Yahudi, yang kini banyak berpihak kepada Barat.8  
    Berbeda dengan pandangan Lewis, yang telah menitikberatkan penaklukan wilayah Kristen oleh Islam sebagai pemicu terjadinya konflik antara Islam dan Kristen, Abdullah Wasian memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan tokoh tersebut, menurutnya, “Sejak abad 15 sampai sekarang, Islam dinilai sebagai ancaman kelangsungan Barat (Kristen). Hal ini bukan semata-mata dikarenakan Islam pernah mencapai zaman keemasan di daratan Eropa, melainkan karena adanya hubungan kesejarahannya.” Untuk membuktikan adanya hubungan dalam kesejarahannya tersebut, Abdullah Wasian menjelaskannya sebagai berikut: “Islam mengakui keberadaan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa (Yesus) alaihis salam yang melicinkan jalan bagi kedatangan Nabi Muhammad saw yang membawa misi Islam. Namun Kristen tidak mengakui Isa Almasih sebagai nabi yang melenggangkan jalan kedatangan Muhammad. Figur Isa Al-Masih lebih ditarik pada sisi Ketuhanan. Dogma Kristen tidak bisa menerima jalan keselamatan Islam yang bersifat individual dan kolektif, yakni jalan keselamatan itu ada pada Allah SWT dan diberikan kepada insan yang benar-benar beriman dan taat menjalankan perintah maupun larangan Allah SWT.”9
    Ketika memberikan kata pengantar bagi karyanya Qosim Nurseha Dzulhadi,10 Syamsuddin Arif memberikan hasil pengamatannya atas konflik yang terjadi antara Islam dan Kristen, menurutnya, hubungan antara pemeluk kedua agama ini berlangsung dalam tiga pola, yaitu polemik, konfrontasi fisik, dan dialog. Meskipun demikian, konflik Islam dan Kristen dalam ranah polemik dan dialog, hingga saat ini masih saja terus terjadi, bahkan tidak jarang, Kristen melakukan intoleransi dalam merealisasikan amanat agungnya tersebut, yaitu menyebarkan agamanya kepada yang sudah beragama. Jika intoleransi Kristen terus saja terjadi tanpa adanya penanganan yang serius dari pemerintah, maka bukan tidak mungkin akan terjadinya konfrontasi fisik. Dan jika Kristen selalu melakukan intoleransi, yaitu melakukan berbagai upaya dalam menjalankan amanat agungnya, tentu saja hal tersebut akan memicu terjadinya bom waktu bagi umat Islam, yang sewaktu-waktu bisa meledak tanpa bisa diperkirakan sebelumnya. Terlebih saat ini, akses informasi begitu mudah didapatkan, seiring dengan meluasnya berita hoax dan ujaran kebencian terhadap Islam, semakin begitu mudah didapatkan di internet. */apologethok   

Catatan Kaki:
1. Charles Kimbaal, Kala Agama Jadi Bencana, Terj. Nurhadi, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 111-112.
2.  Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia, (Bandung: Biji Sesawi, 2014), hlm. 28-29.
3. Abdullah Wasi’an, Dialog: Memahami Keimanan Kristen-Islam, (Surabaya: KH. Abdullah Wasi’an Foundation, 2013), hlm. 43.
4. Untuk mengetahui hujatan dan fitnahan yang mereka lakukan, silahkan untuk merujuk karya Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).
5. Richard Fletcher, The Cross And The Crescent: Riwayat Tentang Perjumpaan Awal Umat Islam dan Kristen, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2007), hlm. 27-29.
6. EM. Z. Ghoenoe, Engkau Berharga Di Mata-Ku: Suatu Kisah Perjalanan Injil DI Pulau Sumba Dan Perkembangan Jemaat GKS Karuni, (Bandung: Loura Press, 2008), hlm. 5.
7. Adian Husaini, Gereja-Gereja Dibakar: Membedah Akar Konflik SARA Di Indonesia, (Jakarta: DEA Press, tanpa tahun), hlm. 74.
8. Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hlm. 120-121.
9. Abdullah Wasi’an, op.cit., hlm. 45.
10. Qosim Nurseha Dzulhadi, Teologi Islam VS Kristen: Sanggahan Terhadap Buku Menuju Dialog Islam dan Kristen, dalam kata pengantar, (Surabaya: Pustaka Da’i, 2010), hlm. ix-xv. 

Rahmah El-Yunusiyah, Sang Pendidik dan Pejuang



Oleh M. Anwar Djaelani,
penulis buku “Jejak Kisah Pengukir Sejarah” - 2018

Rahmah El-Yunusiyah seorang mujahidah. Dia aktif di pergerakan nasional, sebelum dan setelah kemerdekaan. Mulai di zaman penjajahan, dia aktif memajukan pendidikan terutama untuk meningkatkan derajat kaum wanita yang sesuai dengan tuntunan Islam. Muridnya banyak yang sukses dan model sekolahnya diadopsi Al-Azhar Mesir. 

Sukses, Sukses!
Rahmah El-Yunusiyah lahir pada 20/12/1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Dia berasal dari keluarga terpelajar dan religius. Ayah Rahmah -Muhammad Yunus bin Imanuddin- adalah seorang hakim agama dan ahli Ilmu Falak. Kakek dia seorang ulama. 

Rahmah belajar formal tak lama, hanya tiga tahun. Saat berusia 15 tahun dia belajar bahasa Arab dan pelajaran lainnya di Diniyah School serta dari kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. 

Di usia remaja itu, di sore hari dia rutin mengaji kepada Haji Abdul Karim Amrullah (ayah HAMKA) di surau Jembatan Besi, Padang Panjang. Dia belajar berbagai hal seperti bahasa Arab,  fiqih, ushul fiqih, dan kedudukan wanita.  

Dia pun belajar ke sejumlah ulama terkemuka lainnya seperti Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim (pimpinan Sekolah Thawalib Padang Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasjidi, dan Syaikh Daud Rasjidi.

Tak hanya ilmu agama, Rahmah juga mempelajari sejumlah ilmu atau ketrampilan. Dia pernah belajar kebidanan, olahraga (termasuk senam), cara  bertenun  tradisional, dan jahit-menjahit. 

Seluruh ilmu dan pengalaman Rahmah turut mempengaruhi metode pendidikan di Perguruan Diniyyah Putri, sekolah yang didirikannya di Padang Panjang pada 01/11/1923. Sekolah khusus perempuan itu berdiri antara lain berkat dukungan Zaenuddin Labay –sang kakak- dan teman-teman perempuannya di Persatuan Murid-murid Diniyyah School (PMDS). 

Rahmah mendirikan Perguruan Diniyyah Putri karena gelisah melihat perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi Rahmah, pendidikan untuk perempuan harus bisa menjadi media agar mereka bisa berperan dengan baik di keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat. 

Di saat awal muridnya 71 orang dan terdiri dari ibu-ibu muda. Pelajaran yang disampaikan adalah ilmu agama dan tata bahasa Arab. Belakangan, sekolah itu menerapkan penggabungan pendidikan agama, pelajaran umum, dan ketrampilan. Misal, bertenun dan jahit-menjahit ada juga di kurikulumnya. 

“Perguruan Diniyyah Putri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya dibanding kaum lelaki… Inilah yang menyebabkan terjauhnya perempuan Islam dari penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan,” kata Rahmah (Mantovani, thisisgender.com: diakses 05/02/2015).

Tampaknya, pendirian Perguruan Diniyyah Putri sesuai dengan cita-cita Rahmah. Bahwa, wanita Indonesia harus memiliki kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodratnya sehingga bisa diamalkan sehari-hari. Maka, tujuan pendidikan yang dirumuskan Rahmah adalah agar wanita sanggup menjadi ibu dan pendidik yang cakap, aktif, dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa.

Rahmah adalah pelopor bagi pendidikan Muslimah di Indonesia (dan bukan tak mungkin di dunia). Langkahnya sangat maju karena tak hanya memberikan pelajaran agama maupun umum, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan yang diperlukan oleh Muslimah sebagai ibu yang mandiri.

Pada 1926, gempa hebat melanda Sumatera Barat. Sekolah yang baru dirintis Rahmah hancur. Tapi, Rahmah tegar dan langsung bangkit. Dengan bahan bambu, tegak lagi bangunan dua lantai berukuran 12X7 M2. 

Usaha di atas dirasa belum cukup. Maka, bersama pamannya dia jelajahi Sumatera Utara, Aceh, dan terus menyeberangi Selat Malaka menuju Malaysia untuk mengumpulkan dana. Upaya itu berbuah, terkumpul sekitar 1569 Gulden.

Sekolah Rahmah terus berkembang. Pada 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syaikh Abdurrahman Taj berkunjung ke Perguruan Diniyyah Putri. Dia tertarik dengan sistim pembelajaran khusus yang ada di sekolah tersebut. Tak lama setelah itu, Al-Azhar lalu membuka pendidikan khusus perempuan bernama Kulliyyat Al-Banat yang memang belum dimilikinya.

Mengapresiasi perjuangan Rahmah, pada 1957 Al-Azhar menganugerahinya gelar Syaikhah (Guru Besar Wanita). Gelar ini istimewa karena hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman. 

Murid Perguruan Diniyyah Putri banyak yang sukses. Sekadar menyebut dua contoh adalah Aisyah Aminy dan Aisyah Gani. Aisyah Aminy pernah menjadi politisi dari salah satu partai Islam di Indonesia dan sangat terkenal di zamannya. Sementara, Aisyah Gani pernah menjabat sebagai Menteri Kebajikan Masyarakat di Malaysia.

Rahmah tak hanya berkonsentrasi di aspek pendidikan. Di kancah politik (baca: pergerakan nasional), dia aktif menentang penjajah Belanda dan atau Jepang. Dia dan teman-temannya pernah menentang pengerahan perempuan Indonesia -terutama di Sumatera Tengah- yang diperlakukan sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) tentara Jepang.

Pada 12/10/1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dapur asrama dan harta miliknya direlakan untuk pembinaan TKR yang rata-rata anggotanya berasal dari Laskar Rakyat dan berusia muda. Rahmah juga mengayomi barisan pejuang lainnya seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah.  

Rahmah pernah dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan pada 1949 setelah pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada 1952-1954, Rahmah menjadi anggota Pimpinan Pusat Masyumi dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara untuk periode tahun 1955-1958. Dia pernah menentang Soekarno saat Sang Presiden dekat dengan Komunis. 

Mana “Rahmah” 
Rahmah telah berjuang di bidang pendidikan. Rahmah telah berperan dalam usaha merebut dan mengisi kemerdekaan. Setelah Rahmah El-Yunusiyah wafat pada 26/02/1969, maka kehadiran “Rahmah-Rahmah” berikutnya sangat ditunggu umat.